Friday, December 2, 2022

Ilmu Fisika di Rangkaian Bunga

Rekomendasi

Menurut Dr Santoso Soekirno rangkaian tegak berdiri karena gaya berat botol sebagai penyangga kuat dan solid. Selain itu, gaya ke bawah botol lebih besar dibandingkan gaya yang diakibatkan oleh rangkaian. “Gaya ke bawah adalah perkalian antara massa suatu benda dengan percepatan gravitasi,” kata kepala Departemen Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Indonesia (UI) itu.

Contoh sederhana ialah ketika menimbang bayi dengan timbangan gantung. Bayi dengan massa tertentu diletakkan di sebelah kiri dan bandul pengatur kesetimbangan ada di sebelah kanan. Agar timbangan seimbang posisi bandul digeser-geser menjauhi atau mendekati pusat massa. Kesetimbangan tercapai saat posisi bayi dan bandul terhadap pusat massa atau titik berat memberikan nilai torka—gaya yang cenderung memutar suatu benda—yang sama dan berlawanan arah.

Bila bobot bayi kian berat, maka posisi bandul akan semakin jauh ke kanan. Sebaliknya, bila bobot bayi ringan, posisi bandul lebih dekat dengan pusat massa. “Ada hubungan antara jarak massa dari pusat massa dengan gaya, yang disebut torka atau momen gaya,” ujar Santoso. Bobot benda yang ringan bisa setimbang dengan bobot benda yang besar, asalkan benda yang ringan diletakkan lebih jauh dari pusat massa.

Dalam cabang ilmu fisika konsep kesetimbangan itu dipelajari dalam ilmu mekanika. “Yaitu ilmu yang mempelajari gerakan suatu benda serta hubungan antara gaya dan gerakan tersebut. Misalnya gaya gravitasi terjadi karena adanya percepatan gravitasi,” kata Santoso. Konsep itu pula yang Gregor terapkan pada beberapa rangkaian bunga yang ditampilkan pada acara Forever Green Indonesia 2009 di hotel Kartika Chandra, Jakarta Selatan. Rangkaian bertema Going Out of The Bottle stabil karena massa botol—yang diisi air—sebagai penyangga lebih besar ketimbang massa rangkaian. Artinya titik berat rangkaian masih berada di dalam botol.

Setimbang

Hal serupa tampak pada rangkaian bertema Contrast of Heavy and Light. Dendrobium berbunga putih bergelayut hanya di satu sisi bambu-bambu yang diatur horizontal. Di sisi lain, bambu terikat pada kubus berukuran 50 cm x 50 cm yang dibalut batang eceng gondok. Gregor memperhitungkan secara matang massa total anggrek yang tergantung agar tak melebihi massa kubus. “Dengan begitu rangkaian tetap setimbang dan tidak roboh,” kata Teresa Maria Ineke Turangan, AIFD, managing director and principal Newline Floral Education Centre.

“Sebagai maestro perangkai bunga internasional, Gregor sangat memperhatikan  segala sesuatunya dengan detail dan alam adalah sumber inspirasi dari kreasinya,” kata Damayani Sabini, humas Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo). Sebut saja pada saat ia diundang ke Indonesia oleh Asbindo dan Newline untuk acara Forever Green Indonesia 2009. Gregor mengirimkan sketsa rangkaian yang akan dibuatnya ke pihak panitia sebulan sebelum acara berlangsung. Sketsa itu lengkap dengan bahan yang dibutuhkan beserta ukurannya. “Total ada 10 sketsa yang Gregor kirim,” ujar Ineke.

Namun, sketsa hanyalah sketsa. Saat merangkai, Gregor tetap melakukan improvisasi dengan selalu penuh kekaguman pada setiap materi alam yang dirangkai. “Bukan mengubah bentuk, tapi mengurangi, menambah, atau mengganti bahan yang dipakai tanpa mengurangi keindahan dari rangkaian itu sendiri,” kata Ineke. Alhasil semua bahan yang ada termanfaatkan. Bahkan bunga dan tangkai sisa suatu rangkaian tidak dibuang. Bahan sisa digunakan untuk rangkaian bertema Division of Cell. Pada rangkaian berbentuk bulat itu sisa bahan dipakai sebagai isi wadah yang ditutup dengan tanah liat. “Konsistensi dan harmoni dalam penggunaan materi menjadi prinsip dasar sang trend setter,” ujar Maya—sapaan Damayani.

Kreativitas peraih gelar Golden Rose di Florist World Cup pada 1977 itu pun tak ada habisnya. Maklum, Gregor tak tahan bila melihat materi yang menarik. Contohnya saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Di sana ia menemukan banyak bahan, seperti daun-daun kering, pelepah kelapa, dan ranting, untuk dijadikan rangkaian. Alhasil, dari 10 rangkaian yang direncanakan berkembang menjadi 13 rangkaian. “Tujuh yang sesuai dengan sketsa, sementara sisanya benar-benar baru dibuat pada saat ia di Indonesia,” ujar Ineke.

Cinta alam

Gregor perangkai yang sangat menghargai tanaman. Biasanya bila diundang ke suatu negara, ia akan menggunakan materi dari negara tersebut. Sebut saja ketika ke China. Ia menggunakan bambu sebagai bahan utama rangkaiannya. Sementara ketika di Indonesia, peraih juara Florist World Cup Hamburg pada 1981 itu memakai janur. Karena itu menurut Gregor perangkai bunga wajib mengenal tanaman. Bukan hanya nama dan asal daerahnya, tapi juga bentuk tumbuhnya. Misalnya tanaman yang aslinya tumbuh tegak, ketika dirangkai jangan direbahkan. “Carilah bahan lain yang pertumbuhannya memang rebah,” kata pria kelahiran Bad Neuenahr, Jerman, 20 Oktober 1949 itu. Contohnya pada rangkaian bunga tangan. Untuk bagian tegak Gregor menggunakan asparagus, sementara bagian yang agak menjuntai digunakan phalaenopsis.

Gregor bersyukur karena dapat dengan mudah mempelajari tanaman. Maklum, ia generasi ketiga dari keluarga yang bergelut di bidang hortikultura sehingga dari kecil sudah mengenal tanaman. Peraih Europe Cup di Roma, Italia, pada 1978 itu juga memperdalam ilmunya dengan mengikuti kuliah kerja nyata di bidang hortikultura di sebuah perkebunan di tepi Sungai Rhein. Dari sana Gregor memahami landsekap, pengaturan taman, serta produk sayurmayur.

Sejak itulah ia mulai terjun di kegiatan merangkai bunga dengan mengambil gelar master di sekolah Master Bonn-Friesdorf, Jerman. Setelah menyelesaikan kuliah, Gregor mengikuti berbagai macam lomba merangkai bunga. Sejumlah penghargaan tingkat nasional dan internasional pun diraihnya. Total, Gregor meraih 37 medali emas dan 22 medali perak.

Ranting

Dari beragam pengalamannya itu tak ada yang mustahil bagi Gregor. “Semua bahan asal tumbuhan bisa dipakai untuk menghasilkan rangkaian yang indah,” katanya. Ranting yang semula tak pernah dilirik pun menjadi materi yang bagus untuk rangkaian. Sebut saja pada rangkaian bertema Suspended Horisone. Pada rangkaian itu Gregor menggunakan batang pada bagian dasar. Sebagai penghubung dengan ranting di bagian atas digunakan kawat yang disusun secara berjejer. Paduan ranting, daun kering, anggrek, dan philodendron pun jadi rangkaian menarik.

Inovasi dan apresiasi yang tinggi pada penggunaan materi pun membuat ia menjadi pencipta tren. Ketika ia datang ke Indonesia pada 2004 misalnya. Saat itu Gregor memakai ranting dan akar-akaran sebagai materi rangkaiannya. Tren rangkaian bunga di tanahair pun mulai bergeser, dari sebelumnya hanya bunga beralih dengan pemakaian akar dan ranting.

Pada 2009 Gregor menciptakan tren lain. Ia menggunakan materi daun sebagai unsur dominan dalam rangkaian. Bahkan ada satu rangkaian yang 100% menggunakan daun yang diberi tema Green Flower atau Puspa Hijau. “Indonesia kaya dengan tanaman berdaun yang indah dan bentuknya beragam. Itu potensi yang bisa dikembangkan,” kata Gregor. Ia pun berharap daun tak hanya dipakai sebagai pelengkap dalam suatu rangkaian, tapi juga bisa jadi bahan utama. Ini merupakan peluang usaha bagi industri florikultura Indonesia untuk berkembang. Selain itu, perangkai Indonesia terpacu untuk mengembangkan ide kreatif dengan menggunakan puspa hijau asal negeri sendiri.

Gregor tak segan membagi ilmu yang dimiliki kepada orang lain. Ia pun berkeliling dunia untuk mengajarkan ilmu merangkai bunga. “Tak banyak perangkai bunga seperti dia. Selain master dalam merangkai, ia pun bisa menjadi guru yang baik. Cara penyampaian materinya mudah dimengerti dan memberikan motivasi untuk mandiri dalam berkreasi,” kata Ineke.

Tak heran bila Gregor pun tak pernah kehabisan ide dalam merangkai. “Ide itu bisa berasal dari mana saja. Bisa dari buku, murid, maupun perangkai lain,” kata Gregor. Namun, itu bukan berarti menjiplak ide orang lain. Prinsipnya lihat materi yang digunakan, lalu memanfaatkan untuk rangkaian selanjutya. Pantaslah rangkaian bak menara pisa bisa lahir dari tangan sang maestro. (Rosy Nur Apriyanti)

 

Tema: Division of Cell.

Materi: Calathea crotalifera, ruskus, celosia, bunga bromeliad, dan tanah liat sebagai konstruksi

Tema: Suspended Horisone.

Materi: anggrek arachnis, philodendron, solanum, daun kering, ranting kering, dan benalu

Tema: Going Out of The Bottle. Materi: anggrek dendrobium, nepenthes, hanjuang, ranting, dan daun kering

Tema: Contrast of Heavy and Light.

Materi: batang eceng gondok, anggrek dendrobium, akar gantung, cryptanthus, dan janur

Gregor Heinrich Lersch, yakin alam selalu menyajikan materi menarik untuk rangkaian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img