Monday, February 16, 2026

IPB Kembangkan Sorgum dan Gandum Tropika, Solusi Lahan Suboptimum untuk Ketahanan Pangan Nasional

Rekomendasi
- Advertisement -

Di tengah tekanan perubahan iklim, keterbatasan lahan produktif, dan pola konsumsi pangan yang makin bergantung pada tepung gandum impor, Indonesia tidak punya banyak pilihan selain berinovasi. Salah satu jawabannya datang dari dunia kampus. IPB University menawarkan terobosan melalui program pemuliaan tanaman untuk lahan bercekaman abiotik.

Gagasan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Trikoesoemaningtyas, dalam Orasi Ilmiah Guru Besar, pada 14 Februari 2026. “Dari total 189,1 juta hektare daratan Indonesia, sekitar 91,1 juta hektare merupakan lahan suboptimum. Inilah ruang masa depan produksi pangan kita,” kata Trikoesoemaningtyas.

Lahan Suboptimum Jadi Harapan Baru

Data itu bukan sekadar angka. Menurut Trikoesoemaningtyas sebagian besar lahan tersebut menghadapi cekaman abiotik seperti pH tanah rendah, salinitas tinggi, dan defisiensi hara. Dampaknya pertumbuhan tanaman terganggu dan produktivitas rendah. “Oleh karena itu, kami mengusulkan perbaikan adaptasi tanamannya. Pemuliaan untuk lingkungan bercekaman bertujuan meningkatkan stabilitas hasil pada kondisi yang tidak optimum,” ujar Trikoesoemaningtyas.

Pendekatan yang ditempuh bukan sembarangan. Melalui kajian fisiologi dan analisis genetik, ia bersama tim peneliti mengidentifikasi mekanisme adaptasi serta sifat toleran yang dapat diwariskan. Karakter seleksi yang tepat lalu dikembangkan untuk mempercepat kemajuan genetik sehingga lahir varietas yang lebih efisien dan adaptif.

Program pemuliaan ini berpijak pada tiga pilar utama yaitu ketahanan (resilience), keberlanjutan (sustainability), dan kemanusiaan (humanity). “Varietas yang dihasilkan harus adaptif, efisien dalam penggunaan input, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani,” tutur Trikoesoemaningtyas.

Sorgum, Pangan Alternatif yang Adaptif

Salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan yaitu sorgum. Tanaman pangan terbesar kelima di dunia ini memiliki kandungan protein sekitar 11%, mendekati gandum. “Sorgum dapat dengan mudah diproses menjadi tepung dan secara gizi kompetitif. Bahkan bersifat gluten free sehingga cocok bagi masyarakat yang intoleran terhadap gluten,” ujar Trikoesoemaningtyas.

Tak hanya sebagai pangan alternatif, sorgum juga menyimpan potensi sebagai bahan baku bioetanol dan biomassa energi. Keunggulan lainnya terletak pada daya adaptasinya di tanah masam. “Adaptasinya di tanah masam membuka peluang peningkatan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk dan kapur,” tutur Trikoesoemaningtyas.

Ia merekomendasikan sorgum untuk dikembangkan di lahan suboptimum seperti lahan kering yang bertambah masam, lahan kering beriklim kering, hingga lahan bekas tambang.

Gandum Tropika, Upaya Kurangi Impor

Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap gandum impor masih tinggi. Pada 2024, volumenya mencapai 12,7 juta ton. Untuk menjawab tantangan itu, IPB University mengembangkan gandum tropika melalui pendekatan fisiologi, genetik, dan metode shuttle breeding.

Bersama Konsorsium Penelitian Gandum, telah dilepas dua varietas yakni Guri-7-Agritan dan Guri-8-Agritan yang adaptif di dataran menengah tropika. “Dari sisi gizi, gandum hasil pemuliaan peneliti Indonesia layak diolah menjadi pangan bergizi. Namun, saat ini produksinya memang belum mencukupi kebutuhan skala besar,” kata Trikoesoemaningtyas.

Saat ini gandum optimum ditanam di lahan dataran tinggi. Namun, ke depan akan direkomendasikan untuk dataran ketinggian menengah 400—600 m dpl. “Karena lebih tersedia, ini lahan suboptimum untuk gandum karena suhu tinggi,” kata Trikoesoemaningtyas.

Menuju Swasembada Pangan Berbasis Lahan Suboptimum

Menurut Trikoesoemaningtyas agenda swasembada pangan tak bisa hanya bertumpu pada lahan-lahan ideal yang luasnya kian terbatas. Perluasan produksi di lahan suboptimum menjadi keniscayaan. Kebutuhan akan varietas adaptif akan semakin meningkat guna menjamin stabilitas hasil dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Langkah IPB University ini mempertegas bahwa masa depan pertanian Indonesia bukan hanya soal memperluas lahan, tetapi juga memuliakan tanaman agar mampu bertahan dan berproduksi optimal di tengah keterbatasan.

Artikel Terbaru

Ancaman Cacing Ascaridia pada Ayam dan Peluang Obat Herbal Indonesia

Infeksi kecacingan Ascaridiosis masih menjadi persoalan serius di industri perunggasan. Selain mengganggu kesehatan ayam, serangan cacing ini juga berujung...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img