Wednesday, February 4, 2026

Jadam Sulfur, Inovasi Fungisida Ramah Lingkungan untuk Petani Cikondang

Rekomendasi
- Advertisement -

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University menghadirkan inovasi fungisida jadam sulfur untuk mendorong kemandirian petani di Desa Cikondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Program itu menjadi upaya pengenalan fungisida alternatif berbahan dasar sulfur atau belerang yang dinilai lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Jadam sulfur merupakan formulasi pestisida organik yang dikembangkan dari konsep “Jadam” (Jayonul Damun Saramdul) yang berasal dari Korea Selatan. Konsep ini mengedepankan prinsip biaya murah, bahan baku yang mudah diperoleh, serta dapat diproduksi secara mandiri oleh petani. Selain lebih ekonomis, produksi jadam sulfur juga minim risiko residu kimia dan relatif lebih aman bagi lingkungan, terutama tanah.

“Jadam sulfur merupakan alternatif fungisida yang aman dan dapat dibuat sendiri oleh petani dengan bahan yang mudah diperoleh. Penggunaannya juga lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan fungisida kimia sintetis,” ujar mahasiswa Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University sekaligus anggota KKNT Inovasi Desa Cikondang, Khairunnisa Lastanti Putri.

Kesesuaian program KKNT Inovasi dengan kebutuhan di lapangan dirasakan langsung oleh petani setempat. Selama ini, serangan penyakit jamur saat musim hujan menjadi kendala utama karena penyebarannya cepat dan biaya pengendaliannya cukup besar. “Kami sering kewalahan saat musim hujan karena penyakit jamur cepat menyebar dan biaya obat cukup mahal. Materi jadam sulfur ini sesuai dengan kondisi yang kami alami dan bisa jadi solusi yang lebih terjangkau,” ujar Ketua Kelompok Tani Giritani 05, Desa Cikondang, Alwi Mughni.

Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) Desa Cikondang, Erti Yulianti, menegaskan pentingnya ketepatan dosis dan cara aplikasi agar hasilnya optimal. “Jika diaplikasikan dengan benar, fungisida ini dapat membantu petani mengendalikan penyakit tanaman secara efektif dan berkelanjutan,” kata Erti. Ia berharap inovasi yang diperkenalkan melalui kegiatan KKN IPB University ini dapat terus diterapkan. “Dengan pendampingan yang berkelanjutan, petani dapat memanfaatkan jadam sulfur sebagai alternatif pengendalian penyakit tanaman yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan,” tutur Erti.

Di akhir kegiatan, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University menyerahkan hasil jadam sulfur kepada kelompok tani sebagai contoh produk siap pakai. Program itu diharapkan mampu mendorong petani Desa Cikondang untuk lebih mandiri dalam menerapkan teknologi pertanian alternatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Artikel Terbaru

Kunci Sukses Menanam Sawi Secara Hidroponik

Budi daya sawi secara hidroponik memungkinkan pertumbuhan sawi lebih cepat dan panen lebih bersih karena akar tidak bersentuhan dengan...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img