Thursday, February 9, 2023

Jambu Mete, Komoditas Kelas Premium di Pasar Global

Rekomendasi

Trubus.id — Jambu mete menjadi salah satu komoditas kelas premium di pasar global. Bahkan, jambu mete merupakan produk kacang-kacangan yang banyak diperdagangkan dan tergolong komoditas mewah dibanding kacang tanah atau almond.

Andi Nur Alam Syah, Direktur Jenderal Perkebunan, Kementan, mengatakan, peluang pasar gelondong mete dan kacang mete masih sangat luas.

“Era globalisasi dan perdagangan bebas berkembang pesat merupakan tantangan dan sekaligus peluang besar bagi pengembangan komoditas jambu mete karena sebagian produk jambu mete diekspor,” kata Andi.

Melansir dari laman Direktorat Jenderal Perkebunan, nilai ekspor produk mete Indonesia rata-rata periode 2017–2020 mencapai US$119,938.25 per tahun. Pada 2020 volume ekspor gelondong mete dan kacang mete masing-masing adalah 85.584 ton dengan nilai US$149.75 juta.

Selain sebagai bahan baku industri makanan, jambu mete merupakan tanaman konservasi pada lahan-lahan marginal beriklim kering. Tanaman ini kerap kali ditemui di Indonesia Timur. Dengan demikian, jambu mete berpeluang menjadi salah satu solusi mengatasi kemiskinan di daerah tersebut.

Andi mengatakan, hampir seluruh areal pengembangan jambu mete merupakan perkebunan jambu mete atau 99,71 persen perkebunan rakyat.

Tentunya, pemerintah terus berupaya mendorong agar agribisnis jambu mete dapat menarik perhatian pengusaha perkebunan besar dan akses pasarnya semakin terbuka lebar.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan, untuk areal pengembangan 2020, telah mencapai angka 479.726 hektare dengan produksi 165.868 ton.

Kendati demikian, kata Andi, dalam pengembangan jambu mete tentu dihadapkan berbagai tantangan, antara lain tantangan dari sisi on-farm seperti masih ditemui benih asalan, lingkungan tumbuh belum sesuai, penerapan teknologi budidaya anjuran belum optimal, serta adanya gangguan hama penyakit yang bersifat eksplosif.

Sementara itu, dari sisi off-farm terjadi alih fungsi lahan untuk pengembangan komoditas pangan dan pemukiman yang berdampak pada penurunan areal tanam yang cukup signifikan, adanya tata niaga atau kebijakan pasar belum berpihak kepada petani serta belum maksimal kelembagaan petani. Hal tersebut akan berdampak pada pendapatan petani.

Andi menilai, pemerintah tidak tinggal diam, terus berupaya mencari solusi strategi yang tepat guna untuk petani dalam menghadapi tantangan tersebut. Salah satunya, pemerintah mengeluarkan regulasi kebijakan yang melindungi hak dan kewajiban, baik petani maupun pelaku usaha perkebunan, melakukan pembinaan dan pengawalan dari hulu hingga hilir, termasuk meminimalisir dan antisipasi terhadap peredaran benih asalan.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Limbah Tandan Kelapa Sawit Diolah Menjadi Bahan Baku Fashion

Trubus.id — Indonesia, produsen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Menurut Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), produksi...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img