Tuesday, January 27, 2026

Jasa Albert Schatz untuk Variegata

Rekomendasi
- Advertisement -

Sebuah jurnal pertanian asal Eropa mengupas peran streptomycin di dunia pertanian 10 tahun silam. Publikasi berjudul Method for Producing Stable Chlorophyll Deficient Plants and Plants Obtained with Such a Method karya Anil Day dan Miklajo Konstantiovich itu menyebut sorgum, jagung, dan terung yang terpapar streptomycin mengalami kelainan. Daun yang semula hijau menjadi putih seluruhnya atau putih sebagian alias belang. Sebagian lain menjadi kuning.

Kelainan itu disebut defisiensi khlorofil atau variegata. Tanaman mengalami kelainan karena tak mampu memproduksi klorofil dalam jumlah cukup. Pada tanaman pangan kelainan itu sangat dihindari karena mengurangi produktivitas. Namun, pada tanaman hias justru diinginkan karena langka. Makanya harga tanaman variegata jauh di atas normal. Sebut saja Nepenthes gracilis variegata berukuran 20 cm pernah terjual Rp30-juta. Gracilis normal, Rp50.000. Pun waru variegata berukuran 10 cm dibanderol Rp3-juta. Padahal waru hanya tanaman pagar.

Yang menarik kejadian pada sorgum, jagung, dan terung itu menghasilkan 2 fakta berbeda. Sebagian kelainan stabil dan sebagian lain sementara. Prinsipnya streptomycin mengubah susunan gen yang bertanggung jawab terhadap pembentukan klorofil. Bila perubahan gen terjadi pada titik tumbuh alias sel meristem, maka variegata bersifat stabil. Kelainan bisa diturunkan pada generasi berikutnya atau menetap sepanjang tanaman itu hidup. Sedangkan bila perubahan gen terjadi pada sel somatik atau bagian tanaman di luar titik tumbuh, maka variegata hanyalah sementara.

Diuji

Induksi dengan streptomycin dosis tinggi lalu dicoba pada Nepenthes gracilis, Anthurium hookeri, dan Dendrobium sp. Ketiga eksplan tanaman kultur jaringan berumur 1 bulan direndam dalam streptomycin dengan konsentrasi 500 mg per liter air selama 12—24 jam. Larutan antibiotik yang digunakan sebelumnya disaring dengan syringe filter agar steril. Pada setiap jenis tanaman dicoba 60 eksplan. Semua aktivitas itu dilakukan dalam laminar untuk menghindari kontaminasi bakteri.

Berikutnya eksplan tanaman ditumbuhkan selama 1,5—2 bulan pada media MS—ber pH 5,6—yang juga sudah dicampur streptomycin 500 mg per liter media. Di saat itulah tanaman yang mengalami mutasi—putih seluruhnya, putih sebagian, atau kuning—mulai terlihat. Tanaman variegata yang muncul lalu dipisahkan dan ditumbuhkan pada media tanpa antibiotik selama 2—4 bulan. Mutasi yang terlihat stabil diseleksi lalu diperbanyak dan ditanam dalam media MS normal plus hormon BAP.

Pengalaman David’s Tissue Culture, mutasi yang stabil rata-rata mencapai 25—30%. Sisanya mutasi sementara (chimera, red) atau mati karena tak tahan terkena antibiotik dosis tinggi. Saat ini pengujian masih dalam tahap perbanyakan dalam kultur jaringan. Hasil riset menunjukkan semakin tinggi dosis antibiotik maka persentase variegata semakin tinggi tetapi jumlah yang mati pun kian meningkat.

Peluang

Teknik mencetak variegata dengan antibiotik dosis tinggi menjadi inovasi baru yang menjanjikan. Dua teknik lain—radiasi sinar gamma dan kolkhisin—kurang populer karena berbagai kendala. Radiasi sinar gamma membutuhkan laboratorium canggih yang mahal. Peluang munculnya variegata pun kecil karena radiasi menyebabkan mutasi acak. Maksudnya, kelainan yang muncul bisa juga ke arah perubahan bentuk tanaman. Akibatnya dibutuhkan bahan tanaman yang banyak untuk mendapatkan variegata.

Sedangkan penggunaan kolkhisin kerap dikecam karena berbahaya. Ia tergolong senyawa kimia yang memicu pembelahan sel secara tak terkendali. Kulit tubuh manusia yang terkena kolkhisin bisa rusak. Penggunanya perlu ekstra hati-hati. Sebaliknya, antibiotik dosis tinggi relatif aman untuk dipakai pada kultur jaringan. Terlebih saat ini kultur jaringan tak lagi menjadi milik laboratorium besar dan canggih. Kultur jaringan sudah bisa dilakukan dengan peralatan sederhana dan ruangan yang tidak terlalu luas.

Karena itu mencetak tanaman variegata di negeri sendiri bukan lagi hal yang mustahil. Siapa tahu Indonesia bisa menjadi produsen tanaman variegata pertama lewat jasa antibiotik. (Novi Syatria SHut, MSi, staf pengajar Program Studi Budidaya Hutan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu dan pengelola David’s Tissue Culture di Klender, Jakarta Timur)

 

 

Dari kiri ke kanan:

Nepenthes gracilis, Anthurium hookeri,

Dendrobium sp.Variegata muncul setelah tanaman ditumbuhkan di media mengandung streptomycin

Nepenthes fusca variegata hasil mutasi di kultur jaringan di Borneo, Sri Lanka

Stabil atau Sementara?

Novi Syatria, staf pengajar fisiologi tumbuhan Fakultas Kehutanan Universitas Bengkulu

Perubahan gen pada sel meristem atau titik tumbuh membuat variegata stabil alias permanen

Jika perubahan gen hanya terjadi pada sel somatik alias sel tubuh, variegata hanya sementara

Foto-foto: Destika Cahyana, Ilustrasi Bahrudin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img