Thursday, February 19, 2026

Jual Muda Lebih Untung

Rekomendasi
- Advertisement -

Kini terbuka pasar sayuran hidroponik muda.

Eva Lasti Apriyani Madarona, petani hidroponik di Setiabudi, Bandung, Jawa Barat.
Eva Lasti Apriyani Madarona, petani hidroponik di Setiabudi, Bandung, Jawa Barat.

Eva Lasti Apriyani Madarona biasanya memanen selada pada umur enam pekan setelah tanam. Namun, kini ia memanen selada lebih awal, yakni pada umur 3—4 pekan. Eva memanen selada muda karena adanya permintaan. “Saya melayani permintaan selada muda sejak 2015. Namun, permintaan mulai rutin sejak awal 2016,” kata pekebun sayuran hidroponik di daerah Setiabudi, Kota Bandung, Jawa Barat, itu.

Permintaan sayuran premium seperti kale untuk segmen remaja pun rutin.
Permintaan sayuran premium seperti kale untuk segmen remaja pun rutin.

Menurut Eva permintaan selada muda itu datang dari konsumen yang akan menyelenggarakan acara seremonial. “Jadi mereka membeli tanaman berumur 2 pekan sebelum panen. Tanaman itu nantinya dipanen bersama pada saat acara seremonial,” kata Eva. Permintaan lain juga dari dari para penjual modul sistem hidroponik. “Terkadang para penjual modul itu memesan satu set sistem hidroponik beserta tanamannya,” ujar Eva.

Lebih untung
Menurut Eva menjual sayuran hidroponik muda lebih menguntungkan dibandingkan dengan menjual sayuran yang siap panen. “Tentu saja lebih untung karena kita bisa panen lebih cepat. Untuk komoditas tertentu harga jualnya sama dengan harga jual sayuran yang siap panen,” katanya. Contohnya selada. Eva menjual selada berumur 3—4 minggu dengan harga Rp5.000—Rp7.500 per tanaman.

Dita Pramudya Wardhani, rutin memasok permintaan sayuran remaja mulai 2016. (Foto: Koleksi Dita Pramudya Wardhani dan Dok. Trubus)
Dita Pramudya Wardhani, rutin memasok permintaan sayuran remaja mulai 2016. (Foto: Koleksi Dita Pramudya Wardhani dan Dok. Trubus)

“Harga jual itu sama dengan harga sayuran dewasa yang siap panen,” kata pehobi hidroponik sejak … itu. Dengan memanen sayuran lebih cepat, maka biaya produksi pun lebih efisien. Eva menuturkan biaya produksi untuk menghasilkan selada remaja umur 3—4 minggu hanya Rp…. per tanaman. Adapun biaya produksi untuk menghasilkan selada dewasa yang siap panen mencapai Rp…. per tanaman.

Artinya, laba dari hasil penjualan sayuran remaja mencapai Rp4.000—Rp6.500 per tanaman. Jumlah itu lebih tinggi daripada laba sayuran dewasan yang hanya Rp1.000—Rp3.500. Selain selada ada pula permintaan sayuran muda lain, yakni kale. Para petani hidroponik lazim memanen tanaman anggota famili Brassicaceae itu pada umur 50 hari. Kini ada permintaan kale berurumur 35 hari atau 15 hari lebih cepat.

Eva menjual kale yang masih kecil (umur 20—35 hari) dengan harga Rp10.000 per tanaman, remaja (umur 35 hari) Rp15.000, dan tanaman dewasa yang siap panen (umur 50 hari) Rp18.000. Eva juga menjual kale kiloan dengan harga Rp120.000 per kilogram. Meski menjual tanaman remaja lebih menguntungkan, perlu diperhatikan manajemen produksi agar tanaman remaja senantiasa tersedia.

Manajemen produksi

Ajud Tajrudin, pengelola Koperasi Tani Karawang.
Ajud Tajrudin, pengelola Koperasi Tani Karawang.

Menurut Eva biasanya untuk memproduksi sayuran hidroponik terbagi menjadi 3 fase, yaitu persemaian, tanaman remaja, dan tanaman dewasa. “Siklus produksi itu harus tetap terjaga, jangan sampai tanaman remaja habis dijual karena permintaan tanaman dewasa pun tetap ada,” kata Eva. Untuk mengatur ketersediaan tanaman setiap waktu, Eva menyemai benih-benih baru setiap 3 hari.

“Untuk kale sekali semai sebanyak 1 tray dan selada 2 tray. Satu tray berisi 150 tanaman. Dengan pengaturan pola tanam seperti itu saya dapat memenuhi permintaan tanaman remaja dari Jakarta dan Bekasi rata-rata 50—100 tanaman per pekan,” ujar Eva. Pekebun sayuran hidroponik lain yang juga menjual sayuran remaja adalah Dita Pramudya Wardhani. “Permintaan mulai rutin pada awal 2016,” kata perempuan asal Antapani, Kota Bandung, itu.

Ia menjual aneka jenis letus dan tanaman oriental remaja. “Jika umumnya letus dipanen 60 hari kini bisa dipanen umur 21—28 hari,” katanya. Dalam sepekan Dita menjual rata-rata 40 tanaman remaja. “Permintaan masih dari sekitar kota Bandung,” katanya. Ia menjual sayuran remaja itu Rp2.500—Rp3.500 per tanaman. Permintaan datang dari pehobi hidroponik yang enggan menyemai benih, sekolah, restoran, dan penjual kit hidroponik.

Koperasi Tani Karawang yang berangggotakan para pekebun sayuran hidroponik di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, juga kerap mendapat permintaan sayuran remaja, seperti pakcoy hijau, pakcoy putih, dan selada hijau. Menurut pengurus Koperasi Tani Karawang, Ajud Tajrudin, permintaan biasanya datang dari lembaga dan perkantoran yang membudidayakan sayuran hidroponik.

Tren meningkat

Panen tanaman remaja, lebih cepat 20—30 hari. (Foto: Koleksi Dita Pramudya Wardhani dan Dok. Trubus)
Panen tanaman remaja, lebih cepat 20—30 hari.
(Foto: Koleksi Dita Pramudya Wardhani dan Dok. Trubus)

Menurut Ajud konsumennya lembaga dan perkantoran yang membudidayakan sayuran hidroponik itu biasanya mereka enggan melakukan persemaian dan pembibitan sehingga terjadi kekosongan fase produksi. Koperasi Tani Karawang menjual sayuran remaja umur 15—20 hari setelah semai dengan harga Rp700 per tanaman. Harga sebuah tanaman berumur 35—40 hari setelah semai Rp2.000.

Permintaan sayuran muda memang belum rutin. Namun, Koperasi Tani Karawang menjual setidaknya 500—1.000 tanaman per bulan. Menurut Ajud permintaan masih dalam kota Karawang. Sebagian besar dari para pekebun binaan seperti dari Dinas Pertanian Karawang dan sebuah produsen pangan. Pria yang juga berprofesi sebagai penyuluh pertanian itu mengatakan, penjualan tanaman remaja dari segi ekonomi lebih menguntungkan karena panen lebih cepat dan pemeliharaan lebih ringan.

“Meski laba terlihat lebih besar jika menjual tanaman dewasa, secara kumulatif lebih untung menjual tanaman remaja karena masa panennya 3 kali lebih cepat dibandingkan dengan masa panen tanaman dewasa,” kata Ajud. Menurut praktikus hidroponik asal Bandung, Toni Iskandar, munculnya permintaan tanaman remaja adalah bukti nyata tren hidroponik makin meningkat setiap tahun. “Oleh sebab itu wajar jika akhirnya terbentuk segmentasi pasar sayuran hidroponik,” tuturnya. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Previous article
Next article

Artikel Terbaru

Hidroponik di Dataran Rendah: Tantangan Suhu Tinggi dan Strategi Menjaga Produktivitas

Budidaya hidroponik di dataran rendah kerap menghadapi kendala serius seperti produksi sulit melonjak cepat. Penyebab utamanya suhu di dalam...

More Articles Like This