Sunday, January 25, 2026

Katak Terbang Sulawesi Ditemukan Kembali Setelah Satu Abad

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Peneliti BRIN, Alamsyah Elang N.H., menemukan kembali katak terbang asal Sulawesi yang telah hilang selama lebih dari 100 tahun. Penemuan ini terjadi pada Agustus 2023 dan menjadi sorotan dalam dunia herpetologi.

Melansir pada laman BRIN, latak tersebut berasal dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Setelah diteliti lebih lanjut, Alamsyah dan tim menetapkannya sebagai spesies baru bernama Rhacophorus rhyssocephalus.

Sebelumnya, katak ini dianggap sebagai sub-spesies dari Rhacophorus pardalis yang tersebar dari Sumatra hingga Kalimantan. Namun, hasil kajian morfologi dan genetika menunjukkan perbedaan signifikan.

Katak ini disebut “terbang” karena memiliki selaput di jari tangan dan kaki yang memungkinkannya melayang saat melompat. Istilah “flying frog” pertama kali diperkenalkan Alfred Russel Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago.

Dalam diskusi daring SOS#66, Alamsyah menjelaskan bahwa genus Rhacophorus termasuk dalam famili Rhacophoridae. Jenis ini memiliki ciri khas berupa tulang penghubung antara ruas jari pertama dan kedua.

Tipe spesies dari genus ini adalah Rhacophorus reinwardtii, yang ditemukan di Jawa Barat. Genus ini tersebar luas di Asia, mulai dari India hingga Filipina.

Menurut Alamsyah, habitat paling timur genus ini di Indonesia adalah Pulau Sulawesi. Ia menekankan pentingnya wilayah ini dalam memahami keragaman katak terbang.

Lima spesies Rhacophorus yang telah diidentifikasi di Sulawesi antara lain: Rhacophorus edentulus, R. monticola, R. georgii, R. rhyssocephalus, dan R. boedii. Spesies terakhir baru dideskripsikan pada 2025 oleh Hamidy dan kolega.

Penelitian dua dekade terakhir mengungkap adanya beberapa garis keturunan berbeda dalam genus ini di Sulawesi. Seluruhnya merupakan endemik dan menunjukkan karakteristik unik.

Katak-katak ini dikelompokkan dalam empat tipe berdasarkan morfologi. Tiap grup memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari kelompok lain.

Grup pertama adalah Batik Cokelat, dengan motif menyerupai batik dan moncong meruncing. Grup kedua adalah Web Hitam, yang memiliki selaput kaki berwarna hitam.

Grup ketiga disebut Grup Hijau, dengan tubuh berwarna hijau muda dan ukuran lebih kecil. Terakhir, Grup Pipi Putih memiliki bercak putih di pipinya.

Kepala Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Arif Nurkanto, menjelaskan bahwa geologi unik Sulawesi menjadi faktor utama tingginya endemisitas. Pulau ini terbentuk dari pertemuan tiga lempeng besar: Asia, Indo-Australia, dan Pasifik.

Menurut Arif, Sulawesi tidak pernah terhubung sepenuhnya dengan Asia atau Australia. Hal ini menjadikan banyak spesies di dalamnya benar-benar unik.

Saat ini, Sulawesi tercatat sebagai wilayah dengan jumlah penemuan spesies baru tertinggi kedua di Indonesia. Temuan ini menunjukkan kekayaan biodiversitas yang luar biasa di wilayah tersebut.

Arif menekankan bahwa masih banyak amfibi endemik yang belum terdokumentasi. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami lebih dalam pola evolusi dan adaptasi mereka.

Ia menyimpulkan bahwa temuan ini baru permulaan dari eksplorasi lebih besar. Sulawesi masih menyimpan banyak rahasia tentang kehidupan herpetofaunanya yang menunggu untuk diungkap.

Foto: Rhacophorus rhyssocephalus. (Foto: Efendi Sabinhaliduna)

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img