Kementan Pacu Transformasi Sawit Nasional Menuju 2045

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat kebijakan domestik kelapa sawit melalui peningkatan produktivitas hulu, percepatan hilirisasi, dan penguatan tata kelola berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, dalam 21st Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) and 2026 Price Outlook di Bali, Kamis (13/11).

Roni menyampaikan bahwa kelapa sawit merupakan penopang utama perekonomian nasional dan menjadi sumber kehidupan bagi jutaan keluarga petani. Saat ini, sekitar 42% atau 6,94 juta hektare perkebunan sawit nasional dikelola oleh petani kecil dengan melibatkan lebih dari 2,9 juta pekebun, serta menciptakan 4,2 juta pekerjaan langsung dan 12 juta pekerjaan tidak langsung.

“Kementan terus mempercepat peningkatan produktivitas melalui program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), penguatan sarana prasarana, peningkatan SDM perkebunan, serta pemberdayaan kelembagaan petani,” ujarnya. Ia menambah­kan penyederhanaan regulasi PSR melalui norma waktu verifikasi terbukti mempercepat layanan bagi petani di lapangan.

Arah kebijakan perkebunan nasional, lanjut Roni, berfokus pada tiga hal: peningkatan produktivitas, hilirisasi industri, dan tata kelola berkelanjutan. Termasuk di dalamnya percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), integrasi sistem ketertelusuran, serta dukungan pendanaan melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

Pemerintah juga menyiapkan program strategis berupa perluasan kebun plasma 400.000 hektare dan penguatan kebun inti 200.000 hektare. Fasilitas hilirisasi serta pabrik kelapa sawit akan dibangun di sejumlah provinsi seperti Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kaltara, dan Sulawesi Selatan, dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja lebih dari 566 ribu orang.

Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, dalam kesempatan yang sama menegaskan komitmen lembaganya untuk memperkuat program biodiesel sebagai strategi ketahanan energi sekaligus stabilisasi industri sawit. Ia menjelaskan bahwa program biodiesel memiliki empat tujuan utama: mengurangi impor solar, menjaga stabilitas harga CPO, memperbaiki kinerja makro ekonomi, serta mendukung pencapaian target energi terbarukan.

Menurut Eddy, peluang besar juga terbuka melalui penguatan pasar domestik, peningkatan ketahanan energi, serta mendorong riset biofuel generasi lanjut. “Hal ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan program biodiesel terbesar di dunia,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa hilirisasi sawit adalah prioritas nasional untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. “Produksi sawit harus menjadi kekuatan domestik. Hilirisasi bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban,” tegasnya.

Ia menyebut kebutuhan biodiesel pada 2025 mencapai 15,86 juta kiloliter sehingga peningkatan produksi dan efisiensi dari hulu hingga hilir harus terus dipacu. Indonesia juga menargetkan produksi 100 juta ton CPO pada tahun 2045, yang memerlukan peningkatan produktivitas minimal 3,95% per tahun melalui kolaborasi pemerintah, industri, dan petani kecil.

Mentan Amran menambahkan, pemerintah memperkuat dukungan pada industri turunan sawit seperti oleokimia, biofuel, bioavtur, margarin, propylene glycol, hingga produk pangan. Langkah ini diharapkan menggerakkan ekonomi daerah sekaligus menambah devisa negara.

Ia juga menegaskan komitmen terhadap keberlanjutan melalui implementasi ISPO terbaru yang kini mencakup usaha hulu, hilir, dan bioenergi. Pemerintah mempercepat sertifikasi petani rakyat melalui dukungan Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit dan BPDP.

Terkait kebijakan global, Mentan menilai regulasi seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) harus adil dan mempertimbangkan kondisi negara produsen. “Pendekatan keberlanjutan tidak bisa disamaratakan antar negara,” ujarnya.

Amran menutup bahwa transformasi industri sawit hanya bisa dicapai melalui sinergi kuat antara pemerintah, pelaku usaha, petani kecil, lembaga riset, dan pemerintah daerah. “Dengan kebijakan domestik yang kuat dan inklusif, Indonesia akan terus menjadi pemimpin global industri sawit yang berdaya saing dan berkelanjutan,” harapnya.

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

UNAWARS Penyiram Otomatis Anggrek di Parakan Jaya: Inovasi Cerdas Dosen Unpam

Sore hari di kebun Kelompok Tani Anggrek Parakan Jaya, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kini terasa berbeda. Petani tidak lagi...

More Articles Like This