Sore hari di kebun Kelompok Tani Anggrek Parakan Jaya, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kini terasa berbeda. Petani tidak lagi harus membawa selang dan menyiram tanaman satu per satu. Pada waktu yang telah ditentukan, air menyembur melalui puluhan nozel dan tersebar merata ke tanaman. Tentu saja penyiraman berlangsung otomatis.
Teknologi tersebut bernama UNAWARS (UNPAM Automatic Watering System), inovasi dosen Fakultas Teknik, Universitas Pamulang (Unpam), yaitu Ir. Oky Supriadi, S.T., M.T.; Fifit Astuti, M.Sc.; Dr. Nur Rohmat, S.T., M.T. Para dosen juga melibatkan mahasiswa yaitu Rangga Zulian dan M. Wahyu Taqwana saat pengembangan inovasi ini. UNAWARS dikembangkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek Tahun 2026. Tujuannya untuk menjawab persoalan penyiraman anggrek yang selama ini dilakukan secara manual.
Sebelum menggunakan UNAWARS, petani menyiram menggunakan selang. Pada musim kemarau, penyiraman dilakukan dua hingga tiga kali sehari. Satu siklus membutuhkan waktu 60—90 menit. Dengan kata lain petani dapat menghabiskan 3—4 jam setiap hari hanya untuk menyiram. Distribusi air juga belum selalu merata terutama pada tanaman yang berada jauh dari sumber air.
Cara Kerja Sistem UNAWARS
UNAWARS hadir dengan sistem yang relatif sederhana. Perangkat itu terdiri atas pompa, pipa PVC, sprinkle, mikrokontroler, sensor hujan, sensor suhu, sensor kelembapan, dan katup solenoid. Air disemprotkan dalam butiran seperti hujan dengan jangkauan sampai 1 meter dari sprinkle sehingga lebih merata ke area tanaman anggrek.

Yang membuat sistem ini semakin cerdas yakni keberadaan sensor kelembapan media tanam, sensor hujan, dan sensor suhu yang telah mengaplikasikan teknologi Internet of Things (IoT). Sensor dan sistem IoT tersebut membantu sistem menyesuaikan penyiraman dengan kondisi lingkungan. Dengan begitu air tidak terbuang ketika media masih lembap atau hujan turun. Sistem juga telah terhubung dengan telepon pintar (smartphone) sehingga petani dapat memantau dan mengendalikan penyiraman tanpa harus selalu berada di kebun.
Hasil Penerapan di Lahan 207 m²
Penerapan UNAWARS dilakukan di lahan anggrek seluas 207 m². Hasilnya cukup signifikan. Waktu penyiraman berkurang dari 20—30 menit menjadi 10—15 menit untuk pengecekan sistem. Efisiensi waktu mencapai 60—75% dan hemat tenaga. Keuntungan lainnya yaitu penggunaan air diperkirakan lebih hemat 25—35% dibandingkan dengan penyiraman manual
Waktu yang sebelumnya tersita untuk menyiram kini dapat digunakan petani untuk aktivitas lainnya. Misal pemupukan, penggantian media tanam, sanitasi kebun, pengendalian hama dan penyakit, serta menyiapkan tanaman untuk dipasarkan.
Pendampingan Pengoperasian dan Perawatan
Tidak berhenti pada pemasangan alat, tim Unpam juga memberikan pelatihan pengoperasian dan perawatan. Mulai dari pengaturan timer, pemeriksaan pompa, hingga pembersihan nozel. Pendampingan ini diharapkan membuat petani mampu mengoperasikan dan merawat UNAWARS secara mandiri.

Dengan kombinasi otomatisasi, sensor kelembapan, sensor hujan, dan koneksi smartphone, penyiram otomatis anggrek UNAWARS menjadi langkah nyata menuju smart farming. Dari lahan 207 m² di Parakan Jaya, teknologi ini membuktikan bahwa inovasi yang sederhana dan sesuai kebutuhan petani dapat menghemat waktu, air, dan tenaga. Inovasi itu sekaligus mendukung budi daya anggrek yang lebih efisien dan berkelanjutan. (Ir. Oky Supriadi, Fifit Astuti, M.Sc.; Dr. Nur Rohmat, S.T., M.T.; Rangga Zulian, dan M. Wahyu Taqwana)
