Budidaya magot di Desa Mulyoagung menjadi jawaban atas persoalan limbah organik yang selama ini identik dengan sampah. Gagasan ini mulai direalisasikan Tim Dosen Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Tepatnya bersama Kelompok Tani Mulyo Sejati 1.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Bina Desa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun Anggaran 2026. Program diarahkan untuk mendorong transfer pengetahuan, penerapan teknologi, dan penguatan kapasitas masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal.
Program dipimpin Dr. Dian Noorvy Khaerudin, S.T., M.T., dengan anggota tim antara lain Dr. Ir. Nonok Supartini, S.Pt., M.P., IPM, dan tim dosen lainnya. Salah satu kegiatan yang dikembangkan bersama Kelompok Mulyo Sejati 1 yakni pelatihan budidaya magot Black Soldier Fly (BSF). Kelompok masyarakat ini memiliki usaha di bidang peternakan kambing, perikanan, dan penjual sayur (mlijo), sehingga berpotensi besar dalam kegiatan pengelolaan limbah organik.
Sampah Organik Jadi Pakan
Pelatihan budidaya magot dilakukan oleh Nonok Supartini sebagai pemateri sekaligus Tim Program. Dalam kegiatan tersebut, Nonok memperkenalkan anggota kelompok pada potensi larva BSF untuk mengolah sampah organik sekaligus menghasilkan sumber protein alternatif untuk pakan.
Peserta mempelajari siklus hidup BSF serta tahapan dasar budidayanya. Mulai dari penyiapan media, pemilihan dan pemberian pakan, pengaturan kelembapan, pemeliharaan, hingga pemanenan magot.
Nonok menegaskan, budidaya magot tidak sekadar soal menghasilkan larva. Menurutnya, kuncinya ada pada bagaimana mengelola seluruh proses agar limbah organik dapat masuk kembali ke dalam siklus produksi.
Bahan baku budidaya magot relatif mudah diperoleh. Sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan magot setelah dipersiapkan sesuai kebutuhan. Dengan pendekatan tersebut, bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah dapat dikonversi menjadi biomassa yang memiliki nilai guna.
Potensi sebagai Pakan Alternatif
Salah satu daya tarik utama dari budidaya magot di Desa Mulyoagung yakni potensinya sebagai bahan pakan. Magot BSF mengandung protein dan lemak sehingga berpeluang dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif untuk ikan dan ternak.
Bagi Kelompok Mulyo Sejati 1, peluang ini semakin menarik karena Desa Mulyoagung memiliki aktivitas peternakan yang cukup berkembang. Warga masih banyak memelihara kambing, ayam, dan ternak lainnya. Bahkan, usaha ternak kambing menjadi salah satu aktivitas ekonomi masyarakat yang berkembang, terutama menjelang Iduladha.
Kehadiran budidaya magot membuka peluang integrasi antara pengelolaan limbah organik dan kebutuhan pakan. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan magot, sedangkan magot yang dihasilkan berpotensi digunakan sebagai bahan pakan ikan maupun ternak. Dengan demikian, teknologi sederhana ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari konsep pertanian-peternakan-perikanan terpadu.
Menuju Ekonomi Sirkular
Pengembangan magot juga memperkuat gagasan ekonomi sirkular yang sedang dibangun di Desa Mulyoagung. Dalam sistem ini, limbah tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk baru.

Siklusnya dapat digambarkan sebagai berikut: sampah organik dipilah, lalu dicacah atau dimasukkan ke mesin pembubur organik, difermentasi selama 2–5 hari, didinginkan, kemudian siap digunakan sebagai pakan magot. Setelah 21 hari, magot siap dipanen dan dapat digunakan sebagai pakan ikan atau ternak. Hasil peternakan dan perikanan tersebut kembali mendukung sistem produksi secara berkelanjutan.
Konsep ini sejalan dengan pengembangan Desa Mulyoagung menuju Smart Environment Village dan desa yang tangguh terhadap perubahan iklim. Pengelolaan sampah berbasis sumber dapat mengurangi beban lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Bagi Kelompok Mulyo Sejati 1, budidaya magot juga berpotensi melengkapi pengelolaan limbah peternakan yang sedang dikembangkan. Kotoran kambing diarahkan untuk diolah menjadi pupuk organik padat dan cair, sementara sampah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai media budidaya magot.
Tidak Berhenti pada Magot Segar
Pengembangan usaha di masa mendatang tidak harus berhenti pada penjualan magot segar. Kelompok dapat mengembangkan diversifikasi produk seperti magot kering, tepung magot, maupun bungkil magot, sesuai hasil pengolahan dan kebutuhan pasar.
Diversifikasi ini penting karena memberikan pilihan produk dengan nilai tambah lebih tinggi sekaligus memperluas peluang pemasaran. Produk magot juga dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pakan lokal sebelum dikembangkan menuju pasar yang lebih luas.
Namun, pengembangan usaha membutuhkan proses bertahap. Kelompok perlu memperkuat manajemen produksi, pencatatan, pengendalian kualitas, kontinuitas bahan baku, pengemasan, hingga pemasaran. Pendampingan perguruan tinggi menjadi penting agar teknologi yang diperkenalkan benar-benar dapat diterapkan secara konsisten oleh masyarakat.
Belajar Bersama Masyarakat
Pelaksanaan program juga melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis masyarakat. Mahasiswa tidak hanya membantu kegiatan teknis, tetapi juga belajar memahami persoalan lingkungan dan potensi ekonomi yang ada di desa.
Pendekatan learning by doing membuat masyarakat dapat langsung mencoba teknologi yang diperkenalkan. Pada saat yang sama, tim perguruan tinggi memperoleh masukan dari pengalaman masyarakat mengenai kondisi lapangan, ketersediaan bahan baku, dan peluang pengembangan usaha.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan mahasiswa menjadi modal penting agar inovasi tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata.
Ke depan, budidaya magot di Desa Mulyoagung diharapkan berkembang menjadi salah satu unit usaha produktif Kelompok Mulyo Sejati 1. Pengelolaan yang konsisten dapat membantu mengurangi sampah organik, menyediakan alternatif sumber pakan, dan menciptakan nilai ekonomi baru.
Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak selalu harus menggunakan teknologi yang rumit. Dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di sekitar masyarakat, limbah dapat diubah menjadi sumber daya. Dari sampah menjadi magot, dari magot menjadi pakan, dan dari limbah menjadi nilai ekonomi. Inilah langkah kecil Kelompok Mulyo Sejati 1 dalam membangun sistem pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan di Desa Mulyoagung.
