Mahasiswa Ini Garap Peluang Ekspor Komoditas Pertanian Indonesia

Rekomendasi
- Advertisement -

Berawal dari kepekaan melihat besarnya potensi komoditas pertanian Indonesia di pasar global, mahasiswa Sekolah Bisnis IPB University, Kayla Alma dan tim, berhasil menjajaki peluang bisnis ekspor melalui usahanya yang bernama Export Tani. Berfokus pada penghubung produk pertanian lokal dengan pasar internasional, Export Tani menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk memperluas jangkauan pemasaran hingga mancanegara.

Kayla yang kini duduk di semester enam sekaligus menjabat sebagai Chief Marketing Officer Export Tani melihat pertanian sebagai salah satu sektor yang memiliki prospek bisnis besar. Menurutnya, perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan tidak serta-merta menggantikan kebutuhan terhadap produk pertanian sehingga komoditas pangan dan pertanian tetap memiliki peluang besar di masa depan.

Ketertarikan Kayla terhadap bisnis ekspor tumbuh selama menempuh pendidikan di IPB University. Lingkungan kampus, organisasi, serta pembelajaran di Sekolah Bisnis membuatnya semakin memahami bahwa komoditas pertanian Indonesia memiliki nilai yang berbeda ketika dipasarkan di luar negeri.

Salah satu komoditas yang pernah dipasarkan Export Tani adalah vanila. Kayla mengatakan harga vanila premium di pasar Indonesia berada di kisaran Rp1,5 juta—Rp2 juta per kg. Ketika masuk pasar luar negeri, harganya dapat mencapai Rp3 juta—Rp6 juta per kg, bahkan pernah menyentuh Rp12 juta per kg ketika harga sedang tinggi.

“Orang di sana sangat menghargai spices karena ketersediaannya tidak sebanyak di Indonesia,” ujar Kayla.

Menurut Kayla, peluang serupa juga terdapat pada berbagai komoditas yang selama ini dianggap biasa di Indonesia. Ia mencontohkan daun pisang yang ternyata memiliki nilai jual tinggi di luar negeri. Perbedaan valuasi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang untuk meningkatkan nilai ekonomi produk pertanian lokal melalui pasar ekspor.

Namun, menjalankan bisnis sekaligus kuliah bukan perkara mudah. Pada awal merintis usaha, Kayla mengaku hampir tidak memiliki waktu untuk belajar, bahkan untuk mempersiapkan UTS dan UAS. Seiring waktu, ia mulai memahami pola kegiatan dan membagi waktu antara kuliah dan bisnis.

“Tujuan aku di IPB juga untuk kuliah, bukan untuk berbisnis,” katanya.

Untuk menjaga keseimbangan tersebut, Kayla harus mengorbankan waktu untuk nongkrong maupun bepergian. Waktu luang lebih banyak digunakan untuk membangun bisnis dan menyelesaikan kewajiban akademik.

Tantangan lain muncul karena bisnis ekspor masih banyak diisi pemain yang telah berpengalaman selama puluhan tahun.

Status sebagai mahasiswa juga menjadi tantangan tersendiri ketika berkomunikasi dengan pelaku bisnis yang lebih senior. Namun, kondisi tersebut justru menjadi ruang untuk mengasah kemampuan dan membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk terjun ke dunia bisnis.

Kayla menilai kemampuan komunikasi menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan bisnis. Komunikasi dibutuhkan ketika berhubungan dengan investor, buyer, supplier, maupun customer.

Pengalaman mengikuti berbagai kegiatan networking, konferensi, dan organisasi selama menjadi mahasiswa turut membantunya membangun jaringan. Dari kegiatan tersebut, Kayla belajar menemukan orang-orang yang tepat untuk mendukung pengembangan bisnis.

Menurut Kayla, mahasiswa tidak perlu menunggu lulus atau memiliki pekerjaan tetap untuk mulai berbisnis. Masa kuliah justru menjadi waktu yang tepat untuk mencoba karena mahasiswa memiliki ruang lebih luas untuk melakukan trial and error.

“Sekarang ini karena ada wadahnya, kita bisa ikut banyak organisasi, conference, dan pelatihan untuk bisa memulai bisnis,” katanya.

Ia berharap mahasiswa berani memanfaatkan berbagai kesempatan yang tersedia selama di kampus. Dengan mencoba sejak muda, mahasiswa memiliki kesempatan lebih banyak untuk belajar dari kegagalan sekaligus menemukan model bisnis yang sesuai.

Bagi Kayla, IPB University bukan hanya tempat memperoleh pendidikan, tetapi juga lingkungan yang mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki visi serupa. Dari lingkungan tersebut, ketertarikan terhadap pertanian berkembang menjadi peluang bisnis untuk membawa komoditas Indonesia ke pasar global.

Sumber: https://youtu.be/8rJWRgjvIwo?si=UqdclGK_tmYin-7m

https://trubus.id/wp-content/uploads/2026/08/spanduk-roll-banner-website.jpg.jpeg
Artikel Terbaru

Kementan Gandeng UNESA Perkuat Produksi Benih Kedelai

TRUBUS.ID — Kementerian Pertanian menggandeng Universitas Negeri Surabaya (UNESA) untuk memperkuat produksi benih kedelai berkualitas di Jawa Timur. Sebanyak...

More Articles Like This