Penyakit pirang menjadi momok bagi petani bawang merah di Desa Pasir, Kecamatan Mijen, Kabupaten Demak, sejak 2023. Serangan penyakit pada sekitar 600 hektare lahan itu menyebabkan penurunan produksi, bahkan memicu gagal panen di sejumlah areal.
Penyakit tersebut muncul akibat kombinasi beberapa faktor, mulai dari infeksi cendawan Fusarium, tingginya salinitas tanah, hingga pola tanam bawang merah yang dilakukan terus-menerus tanpa rotasi. Kondisi itu menyebabkan kesehatan tanah terus menurun sehingga tanaman semakin rentan terserang penyakit.

Menjawab persoalan tersebut, tim Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University bersama Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karya Makmur mengembangkan teknologi pengendalian hayati presisi melalui riset aksi yang dimulai sejak awal 2026. Inovasi itu dirancang sebagai solusi yang disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan petani.
Koordinator riset aksi, Prof. Suryo Wiyono, mengatakan hasil uji lapang menunjukkan teknologi tersebut mampu menekan intensitas penyakit pirang sekitar 50 persen. Selain itu, teknologi itu juga meningkatkan ukuran umbi, mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida hingga 50 persen, serta meningkatkan produksi bawang merah sekitar 20 persen.
“Keberhasilan ini diharapkan dapat diperkuat dengan dukungan industri sebagai mitra offtaker sehingga inovasi dapat diterapkan secara lebih luas,” ujar Prof. Suryo.
Menurut Prof. Suryo yang juga Dekan Faperta IPB University, teknologi pengendalian hayati presisi merupakan pendekatan pengendalian penyakit tanaman yang disusun berdasarkan kondisi spesifik setiap lahan. Pendekatan itu berbeda dengan metode konvensional yang umumnya menerapkan perlakuan seragam di seluruh lahan.
Penerapan teknologi dilakukan melalui empat tahapan, yakni penilaian kondisi lahan dan analisis tanah bersama petani, uji cepat kesehatan benih serta seleksi agens hayati, penyusunan kombinasi agens hayati yang tepat, hingga uji lapang bersama petani. Pendekatan tersebut memungkinkan pengendalian penyakit dilakukan secara lebih efektif sesuai karakteristik lahan.
Teknologi itu memanfaatkan pupuk organik dengan formula khusus yang diperkaya strain unggul Trichoderma asperellum. Selain itu, tim peneliti juga mengaplikasikan plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR) Pseudomonas CSWR yang memiliki toleransi terhadap kondisi tanah salin sehingga mampu membantu menekan perkembangan patogen sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman.
Prof. Suryo menegaskan bahwa penanganan penyakit pirang menjadi langkah awal untuk mengembalikan produktivitas bawang merah di Demak. Menurutnya, inovasi yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada pengendalian penyakit, tetapi juga mencakup kesehatan benih, kesehatan tanah, mekanisasi, penyimpanan, hingga pengolahan hasil sebagai fondasi pembentukan Kampung Inovasi Bawang Merah.
Perwakilan petani Desa Pasir, H. Fatkhur, menyebut kejenuhan tanah akibat budi daya bawang merah secara terus-menerus menjadi persoalan utama yang dihadapi petani. Karena itu, pendampingan dari kalangan akademisi dinilai penting untuk memulihkan kesehatan lahan sekaligus meningkatkan produktivitas.
Sementara itu, Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University, Dr. Handian Purwawangsa, mengatakan riset kampus harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Selain teknologi pengendalian penyakit, IPB juga mengusulkan pengembangan kedelai edamame sebagai tanaman rotasi untuk mengurangi kejenuhan tanah sekaligus membuka peluang usaha baru bagi petani.
Sekretaris Daerah Kabupaten Demak menyatakan Desa Pasir memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai Kampung Inovasi Bawang Merah. Sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan petani diharapkan mampu memperkuat produktivitas bawang merah sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
Dalam kegiatan tersebut, tim Safari Klinik Tanaman IPB University juga memberikan layanan diagnosis kesehatan tanaman, analisis tanah, serta konsultasi teknis budi daya kepada petani. Pendampingan itu diharapkan dapat mempercepat penerapan teknologi pengendalian hayati presisi sehingga produktivitas bawang merah di Demak dapat terus meningkat.
