Limbah Sawit Berpotensi Jadi Bahan Baku Surfaktan Ramah Lingkungan

Rekomendasi

Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) berpotensi menjadi bahan baku produk bernilai tambah. Dua mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR), Abraham Alexs Tanu Wijaya dan Lia Farihatus Sa’diyah, menggagas teknologi ekstraksi air subkritis untuk mengolah limbah sawit menjadi prekursor surfaktan ramah lingkungan dan bioaditif energi.

Gagasan itu dipresentasikan dalam Seminar Pangan Nasional 2026 yang diselenggarakan Universitas Riau pada 17 Oktober 2026. Abraham berasal dari program studi Kimia, sedangkan Lia merupakan mahasiswa Teknik Lingkungan.

Teknologi yang mereka usulkan memanfaatkan air sebagai pelarut utama untuk mengekstraksi senyawa dari residu lignoselulosa sawit. Pendekatan tersebut berpotensi mengurangi penggunaan pelarut organik berbahaya dan bahan kimia korosif yang lazim digunakan dalam proses industri konvensional.

“Ide ini berangkat dari keresahan saya melihat melimpahnya limbah industri sawit yang terbuang sia-sia. Padahal, proses konversi konvensional masih menggunakan pelarut organik berbahaya,” ujar Abraham seperti dilansir dari UNAIR News.

Mengandalkan kajian ilmiah

Pengembangan gagasan tersebut menghadapi kendala biaya pengujian laboratorium berskala besar. Untuk menyiasatinya, tim mahasiswa menggunakan metode tinjauan literatur sistematis atau systematic literature review.

Mereka menelusuri ribuan artikel ilmiah dari empat pangkalan data selama tiga minggu. Kajian itu bertujuan menentukan parameter ekstraksi, terutama suhu dan waktu operasi, yang berpotensi menghasilkan proses optimal.

“Tantangan utama bagi kami adalah menyaring dan memilah secara saksama ribuan artikel ilmiah. Pemilahan tersebut untuk mempertahankan referensi primer yang benar-benar ideal,” kata Abraham.

Melalui pendekatan tersebut, tim berupaya menyusun landasan ilmiah bagi pengembangan teknologi ekstraksi yang lebih ramah lingkungan. Namun, gagasan itu masih memerlukan pengujian laboratorium untuk memastikan kinerja proses dan hasil ekstraksi sesuai dengan perhitungan teoretis.

Berpeluang meningkatkan nilai limbah

Pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku industri berpotensi meningkatkan nilai ekonomi residu perkebunan kelapa sawit. Bahan baku berupa limbah juga dapat membantu menekan biaya pengadaan bahan, meskipun biaya pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahannya tetap perlu diperhitungkan.

Tim mahasiswa menargetkan publikasi artikel ilmiah sebagai langkah awal sebelum melanjutkan penelitian ke tahap pengujian laboratorium. Pengujian itu diperlukan untuk memvalidasi rendemen atau persentase produk yang dihasilkan dari proses ekstraksi.

“Kami berharap penelitian ini segera berlanjut ke tahap uji coba laboratorium untuk memvalidasi nilai eksak rendemen produk sesuai rumusan teoretis yang telah kami temukan,” pungkas Abraham.

Jika berhasil dikembangkan lebih lanjut, teknologi ekstraksi berbasis air tersebut berpotensi mendukung pemanfaatan limbah sawit menjadi bahan baku industri bernilai tambah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pelarut kimia berbahaya.

Sumber: https://unair.ac.id/bebas-pelarut-kimia-mahasiswa-unair-rumuskan-pengolahan-limbah-sawit-berbasis-air/



Artikel Terbaru

Ekspor Buah Tropis Indonesia ke China Tembus Rp5,94 Triliun

Trubus.id — Ekspor lima komoditas buah tropis Indonesia ke China pada periode 2025–2026 diperkirakan mencapai Rp5,94 triliun. Durian dan...

More Articles Like This