Upaya meningkatkan produksi padi gogo di lahan kering dengan pupuk hayati.

Trubus — Produksi padi gogo nasional masih rendah, rata-rata hanya 5—6 ton per hektare. Ir Zainal Arifin MP dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Jawa Timur, mampu menghasilkan 8,650 ton padi gogo per hektare. Menurut Zainal petani menuai 6 ton per ha dengan cara konvensional. Harga gabah Rp4.200 per kg, sehingga omzet para petani hanya Rp14,5 juta per hektare.
“Sementara hasil budidaya saya bisa untung Rp24,8 juta per hektare,” ujar Zainal. Dari segi biaya produksi, Zainal merogoh kocek lebih dalam. “Biaya produksi yang meliputi benih, pupuk, dan pestisida mencapai Rp11,1 juta per hektare. Lebih tinggi daripada biaya produksi konvensional yang hanya Rp10,7 juta per hektare,” ujarnya. Namun, keuntungan bersih budidaya padi gogo di lahan kering ala Zainal jauh lebih tinggi mencapai Rp13,7 juta. Bandingkan dengan cara konvensional yang hanya untung Rp3,8 juta.

Jajar legowo
Teknik budidaya ala Zainal memang inovatif. Ia menyebutnya largo super. “Largo dari pengaturan jarak tanam jajar legowo, sementara supernya karena saya beri tambahan pupuk hayati yang baik untuk tanaman,” ujar peneliti kelahiran Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, 30 Mei 1962 itu. Ia juga menggunakan benih Oryza sativa unggul varietas inpago 10. Kombinasi ketiganya itu mampu menggenjot produksi padi gogo di lahan kering.
Zainal menggunakan jarak tanam 40 cm x 20 cm x 10 cm. Sementara teknologi konvensional 20 cm x 20 cm. “Jumlah benih dan populasi meningkat 30%. Cara konvensional kebutuhan benihnya 250 ribu benih, largo super 330 ribu benih per hektare,” ujar Zainal. Sebelum menanam, ia merendam benih dalam pupuk hayati yang mengandung bakteri-bakteri baik seperti Rhizobium sp.

Peneliti itu menggunakan pupuk kandang fermentasi dengan biodekomposer 2 ton per hektare. Biodekomposer itu mengandung beragam bakteri baik seperti Trichoderma sp, Aspergillus sp, dan Trametes sp. “Aplikasi pupuk kandangnya ada yang ditabur di atas lahan, sebagian untuk penutup lubang tanam,” ujarnya. Menurut pakar pupuk hayati dari Institut Pertanian Bogor, Prof Iswandi Anas Chaniago, mikrob meningkatkan pengambilan unsur hara.
Selain itu mikrob sebagai antagonis hama dan penyakit yang menyerang tanaman. “Namun, masing-masing terkadang punya peranan yang berbeda,” ujar Prof Iswandi. Trichoderma, misalnya, berperan meningkatkan penyerapan unsur hara, parasit bagi penyakit yang menyerang tanaman, dan memperbaiki struktur tanah. “Trichoderma bisa hidup di sel-sel patogen penyebab penyakit tanaman lalu menghambat pertumbuhan patogen itu,” ujarnya.

Ahli tanah dari Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Tualar Simarmata, menuturkan hal senada. Mikrob Trichoderma memberikan efek positif untuk tanah dan tanaman secara umum. “Trichoderma mempunyai dua fungsi yaitu memaksimalkan penguraian bahan-bahan organik dan agen hayati sebagai imun tanaman,” kata alumnus Jurusan Ilmu Pertanian, Universitas Justus Leibig, Jerman itu.
Tumpangsari
Zainal juga menggunakan pupuk kimia berupa 250 kg Urea dan 300 kg phonska per hektare. “Pupuk phonska diberikan pada awal tanam, sementara 1/3 bagian Urea saat awal tanam, sisanya atau 2/3 bagian saat padi berumur 35 hari setelah tanam,” ujar Zainal. Ia memanen padi gogo pada umur 120 hari. Produktivitas padi per hektare mencapai 8,650. “Keuntungan akan lebih tinggi jika ditumpangsari dengan jagung,” ujar Zainal.
Menurut alumnus Agronomi, Universitas Gadjah Mada itu jika largo super ditumpangsarikan dengan jagung, produktivitas padi turun menjadi 8,1 ton per hektare. Di samping itu petani mendapat tambahan 2 ton jagung pipil. Hasil hitungannya, petani akan mendapat untung kotor Rp29 juta dikurangi biaya produksi Rp12,8 juta. Keuntungan bersihnya Rp16,2 juta. (Bondan Setyawan)
