Setelah mengamati penampilan para kampiun di masing-masing kelas, para juri sepakat menjatuhkan pilihan pada cinhua jumbo di akuarium QH-A05. “Nongnong terbentuk sempurna dari atas mata hingga belakang punggung,” papar Roy JW Laksono, salah satu juri.
Tidak berlebihan jika lou han milik Yi Luk itu dinobatkan sebagai grand champion dalam Lou Han Sengkaling Competition III—2004. Sirip-sirip membuka sempurna. Ia memiliki nongnong besar, bulat, dan menjorok ke depan bibir. Meski terkesan galak, ia cukup jinak ketika didekati. Perilakunya juga begitu tenang.
Kemenangannya dalam kontes yang diikuti 150 peserta dari berbagai kota di Jawa Timur itu sudah diprediksi sejak awal. “Taruhan deh, ikan ini pasti bakal juara,” papar Dede, peserta asal Malang. Herry, pemilik showroom lou han di Lowokwaru, Malang, juga tak menyangsikan keistimewaan ikan itu. “Ikannya benar-benar istimewa. Hampir tak ada yang bisa menyainginya saat ini,” kata Herry ketika ditemui Trubus di showroom-nya.
Saingan terberat hanya penghuni akuarium bernomor KLK-A08, juga milik Yi Luk. Peraih juara I dalam kelas klasik A itu tampil dengan nongnong menonjol sempurna. Warna dan marking juga mencolok. Sayang di babak grand champion, pelanggan juara di berbagai kontes itu tampil kurang sempurna. Sirip ekor layu dan tidak mekar sempurna sehingga mengurangi keindahan penampilan.
Bersaing ketat
Sebelum meraih grand champion, cinhua kebanggaan Yi Luk itu terlebih dulu harus bersaing ketat dengan kontestan lain di kelas cinhua 26 cm ke atas.
Pada penilaian ulang di babak 10 besar ia mampu mempertahankan penampilan maksimalnya. Ia pun berhasil menyisihkan ikan milik Weta asal Mojokerto di akuarium QH-A04 dan QH-B16, Hendry dari Malang Louhan Club (MLC), dan Misri, peserta dari Malang.
Tampil sebagai juara kelas, ia diadu dengan ikan milik Sulistyanto dari MLC, dan ikan Yi Luk lainnya di kelas klasik A. Di babak ini pun ia dinyatakan lebih unggul sehingga berhak atas gelar juara umum.
Mahameru juara tim
Selain menggondol 2 gelar juara I, Yi Luk juga berhasil merebut gelar juara harapan di kelas nonmarking. Gelar juara yang diraih Yi Luk memberi andil besar bagi Tim Mahameru menjadi juara umum. Dari 13 kategori yang dikonteskan, Mahameru merebut 4 gelar juara I, 1 gelar juara II, 2 gelar juara III, 2 gelar juara IV, 2 juara V, dan 4 juara harapan. Selain Yi Luk, gelar juara I disumbangkan Ko Fuk lewat lou han bonsai dan marking bebas.
Sayang, keduanya gagal meraih penghargaan juara umum perorangan. Bahkan, dengan 13 poin yang dikumpulkan Yi Luk, dan 12 poin diraih Ko Fuk, keduanya tak masuk dalam 3 besar juara perorangan.
Juara umum perorangan direbut Letkol Suhardy dengan 22 poin. Sukses ini diraih setelah 7 ekor lou han miliknya mempersembahkan gelar. Masing-masing juara I kelas cinhua B, juara II kelas modern C, juara II kelas nonmarking, juara IV kelas bonsai, dan 3 gelar juara harapan. Juara II perorangan direbut Weta asal Mojokerto dengan 18 poin dan Tek Oen asal Malang dengan 17 poin.
Kontes yang digelar sebagai kompetisi antarklub putaran I ini juga menobatkan Kediri Lou Han Club sebagai juara liga setelah menempatkan 21 ikan dalam berbagai gelar juara. Dengan hasil itu, Kediri Lou Han Club berhasil mengumpulkan 63 poin. Juara II diraih Malang Lou Han Club yang menempatkan 20 ikan sebagai juara dengan total nilai 61. Blitar Lou Han Club meraih juara III dengan nilai 26 yang disumbangkan oleh 10 ikan.
Untuk mewadahi keinginan hobiis maskoki yang mulai marak di Malang, panitia juga menggelar kontes maskoki di arena yang sama. Di kelompok ini, 43 ikan terbaik bersaing dalam 5 kelas. Masingmasing kelas ranchu, ryukin/tossa, oranda, junior, dan open. Roy dan Heru Susanto asal Malang yang bertindak sebagai juri sepakat memilih tossa ekor pendek milik Fanus Chairies Suntakaouw sebagai grand champion. (Fendy R. Paimin)
