Beberapa tahun silam, penyuling minyak asiri asal Lumajang, Jawa Timur, Atok Fastiono, mencoba menyuling tanaman yang disebut cendana misoram. Ia memangkas daun pada umur sembilan bulan, lebih cepat dari usia ideal tiga tahun.
Pemangkasan dini dilakukan untuk mengetahui kadar minyak sekaligus memenuhi permintaan dari Sukabumi, Jawa Barat. Cabang dipotong dengan menyisakan dua mata tunas agar tunas baru cepat tumbuh.
Sebanyak 750 kilogram daun segar dimasukkan ke ketel berbahan besi nirkarat berkapasitas 400 liter. Ketel itu dialiri uap panas dari boiler seperti pada penyulingan nilam.
Bedanya, penyulingan cendana misoram menggunakan daun, bunga, buah, dan ranting. Proses penyulingan berlangsung selama enam jam hingga menghasilkan minyak berwarna kuning cerah dengan aroma segar menyengat.
Dari 750 kilogram bahan segar dihasilkan tiga kilogram minyak atau rendemen 0,4%. Bila bahan dikeringkan terlebih dahulu, rendemennya bisa mencapai 2%.
Minyak hasil penyulingan kala itu dijual seharga sekitar Rp8 juta per kilogram. Nilainya setara minyak cendana lokal Santalum album.
Dari kejauhan, cendana misoram tampak mirip Santalum album, tetapi berbeda pada bentuk daun dan karakter pertumbuhan. Daunnya menjari dengan tepi bergerigi, sedangkan cendana biasa berdaun elips.
Buah misoram membulat dan tanaman ini dapat tumbuh tanpa inang. Keunggulan itu membedakannya dari cendana asli Indonesia yang bersifat semiparasit.
Menurut Prof Dr Tukirin Partomihardjo dari Pusat Penelitian Biologi, cendana sejati membutuhkan tanaman inang untuk tumbuh optimal. “Tanpa inang, tanaman akan kerdil dan lambat tumbuh,” ujarnya dalam wawancara lama dengan Trubus.
Sebaliknya, cendana misoram tumbuh baik tanpa inang. Di beberapa lokasi, tanaman ini dilaporkan tumbuh subur meski ditanam tunggal.
Cendana misoram mulai dikenal sekitar 2010 dari pembibit tanaman hutan di Lampung. Tanaman berkayu ini bisa dipanen berulang kali tanpa penanaman ulang.
Berbeda dengan nilam yang perlu diremajakan setelah beberapa kali panen, cendana misoram lebih tahan lama. Hal itu membuatnya berpotensi mengurangi biaya budidaya jangka panjang.
Asal-usul cendana misoram hingga kini belum banyak diketahui. Prof Dr Tukirin menduga tanaman ini termasuk genus Tetractomia dari famili Rutaceae atau jeruk-jerukan.
Artinya, tanaman tersebut berbeda jauh dengan cendana sejati dari famili Santalaceae. Penelusuran Trubus ke Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitro) serta Dewan Asiri Indonesia (DAI) belum menemukan catatan resmi mengenai tanaman ini.
“Saya baru mendengar nama cendana misoram,” ujar Arijanto, Sekretaris DAI saat itu. Produsen minyak cendana dari PT Scent Indonesia juga tidak mengenali tanaman ini.
Mulyono, perwakilan perusahaan tersebut, mengaku belum pernah menjumpainya di Indonesia maupun di Mysore, India Selatan. Nama misoram diduga diambil dari kota Mysore, daerah penghasil cendana di India.
Selain sebagai sumber minyak, cendana misoram bisa ditanam tumpangsari dengan sayuran seperti cabai dan tomat. Tanaman rimpang seperti jahe, kapulaga, dan kencur juga cocok karena tahan naungan sebagian.
Dengan jarak tanam yang lebih renggang, petani dapat memperoleh hasil ganda dari sistem ini. Pola tumpangsari dinilai mempercepat pemanfaatan lahan dan menjaga produktivitas.
Meski masih menyisakan pertanyaan dari sisi taksonomi dan potensi pasar, tanaman ini menunjukkan peluang baru dalam pengembangan minyak asiri Indonesia. Kajian lanjutan diperlukan untuk memastikan klasifikasi, rendemen, dan prospek ekonominya di masa mendatang.
