Pengembangan tanaman hias dan biofarmaka tak lagi cukup mengandalkan cara konvensional. Diperlukan inovasi pemuliaan yang mampu meningkatkan keragaman genetik sekaligus menambah nilai manfaatnya. Salah satu pendekatan strategis yang dinilai efektif yaitu mutasi induksi untuk menghasilkan varietas unggul, baik dari sisi estetika maupun khasiat kesehatan.
Hal itu disampaikan Prof. Syarifah Iis Aisyah dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada 14 Februari 2026. Ia menekankan pentingnya inovasi berbasis sains guna menopang industri tanaman hias sekaligus mendukung kesehatan masyarakat. “Spesialisasi keilmuan saya adalah pemuliaan mutasi induksi pada tanaman hias. Tanaman hias saat ini tidak hanya digunakan sebagai ornamental, tetapi juga karena kandungan biofarmaka di dalamnya yang bermanfaat bagi kesehatan maupun kosmetik,” ujar Syarifah.
Mutasi induksi
Sejumlah tanaman hias telah terbukti memiliki kandungan senyawa aktif bernilai tinggi. Misal marigold (Tagetes spp.) yang mengandung lutein dan zeaksantin untuk kesehatan mata dan kulit. Torbangun (Coleus amboinicus) yang dikenal mampu membantu meningkatkan kualitas air susu ibu (ASI). Adapun krokot (Portulaca oleracea) kaya antioksidan dan telah dimanfaatkan dalam industri kosmetik.
Guru besar bidang pemuliaan mutasi tanaman hias dan herbal itu menjelaskan, mutasi alami pada tanaman terjadi sangat jarang. Oleh karena itu, peneliti memanfaatkan mutasi induksi menggunakan mutagen fisik seperti sinar gamma dan sinar X, serta mutagen kimia seperti ethyl methane sulfonate (EMS) dan kolkisin.
“Pada tanaman jengger ayam (Celosia argentea), perlakuan EMS 0,5–4% dapat meningkatkan kandungan fenolik dan flavonoid. Sementara pada tanaman krokot, penggunaan kolcisin 0,1 persen dapat meningkatkan kandungan total fenolik dan aktivitas antioksidan hingga 3,56 kali. Antioksidan ini baik untuk pengobatan maupun pencegahan kanker,” tutur Syarifah.
Ia menambahkan, metode mutasi induksi relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan teknologi bioteknologi modern. Teknik ini juga tidak bergantung pada ketersediaan induk jantan dan betina seperti pada metode hibridisasi. Meski demikian, penerapannya tetap harus mengikuti standar keamanan yang ketat agar hasilnya aman dan terkontrol.
“Mutasi induksi melalui mutagen fisik maupun kimia telah terbukti efektif dalam menciptakan keragaman genetik baru pada tanaman hias tropis. Pendekatan ini penting sebagai alat strategis untuk memperluas variasi genetik, mempercepat seleksi, dan memperbaiki sifat yang diinginkan,” kata Syarifah.
Pengembangan lebih lanjut
Selain aspek ilmiah, Syarifah juga menyoroti peluang ekonomi tanaman hias nasional. Pada 2024, Indonesia tercatat menempati peringkat keempat dunia sebagai pengekspor tanaman hias. Permintaan marigold di Bali bahkan mencapai sekitar delapan ton per hari dengan nilai ekonomi sekitar Rp200 miliar per tahun.
Pendekatan ini menjadi langkah strategis untuk kemajuan program pemuliaan tanaman hias dan tanaman biofarmaka. Melalui inovasi mutasi induksi, pengembangan tanaman hias dan biofarmaka diharapkan semakin kompetitif. Bukan hanya memperkaya ragam varietas, tetapi juga meningkatkan nilai tambah bagi industri dan kesehatan masyarakat.
