Thursday, January 29, 2026

Pranata Mangsa, Kalender Pertanian Warisan Leluhur

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Perilaku binatang seperti kucing kawin, munculnya jangkrik, dan burung menyuapi anaknya, merupakan indikator musim kemarau hampir datang. Perhitungan musim dengan memperhatikan fenologi atau perilaku hewan dan tumbuhan itu disebut pranata mangsa (baca: pranoto mongso, pranata berarti tata cara; mangsa, musim).

Pranata mangsa disusun oleh nenek moyang etnis Jawa untuk menandai permulaan atau berakhirnya musim tanam. Mereka menggunakan pranata mangsa sebagai patokan untuk bercocok tanam dan melaut bagi nelayan.

Pranata mangsa merupakan kalender surya yang dikaitkan dengan kalender Gregorian. Masyarakat Jawa mulai menggunakan pranata mangsa jauh sebelum sistem kalender itu ditetapkan saat masa pemerintahan Raja Pakubuwono VII pada 22 Juni 1855.

Saat itu Keraton Solo perlu legitimasi rakyat setelah perjanjian Giyanti. Rakyat beranggapan kekuasaan sudah hilang dari Solo dan beralih ke Kesultanan Yogyakarta. Pembakuan pranata mangsa sebagai hukum formal sebetulnya atas dorongan penguasa kolonial yang berkepentingan terhadap lahan pertanian di wilayah Keraton Solo.

Saat itu kas pemerintah kolonial terkuras untuk pembiayaan Perang Diponegoro dan Perang Padri sehingga pemerintah kolonial ingin memaksa masyarakat menanam tebu. Namun, untuk legitimasi, mereka perlu melibatkan pihak keraton.

Nenek moyang kita menyusun pranata mangsa berdasarkan pengetahuan kolektif yang mengamati alam dengan ilmu “titen” atau mengamati gejala yang mendahului atau menyertai suatu kejadian.

Ketika tonggeret atau garengpung mulai berbunyi, biasanya muncul angkup nangka (tunas buah nangka setelah fruitset), menjadi patokan perubahan musim. Masyarakat Jawa menerjemahkan garengpung atau tonggeret Dundubia mannifera, menjadi tandhane mareng alias indikasi musim kemarau.

Penanggalan pranata mangsa itu terdiri atas 12 mangsa alias musim. Durasi sebuah mangsa bervariasi antara 23–41 hari dengan indikasi berbeda-beda. Tanggal 22 Juni 1855 merupakan tanggal 1 mangsa ke-1 tahun ke-1 kalender pranata mangsa.

Pada saat itu daun-daun berguguran, muncul belalang, dan bintang beralih. Oleh karena itu, watak musim pertama adalah sotya murca ing embanan alias daun berguguran. Penetapan pranata mangsa itu ternyata berkaitan dengan gejala alam.

Pada tanggal itu posisi matahari di utara dan tengah menuju ke selatan atau menjelang musim kemarau. Perpindahan kedudukan matahari memengaruhi unsur-unsur meteorologi suatu wilayah. Pada mangsa ke-1, misalnya, curah hujan sangat rendah, yakni 67 mm, sinar matahari 76%, kelembapan 60%, dan suhu 27,4°C.

Pranata mangsa itu juga diterapkan di berbagai suku di Indonesia. Sekadar menyebut contoh ada wariga di Bali, palontara (Sulawesi Selatan), porhalaan (Sumatra Utara), dan kala (Jawa Barat). Dengan pranata mangsa, para petani bekerja mengikuti keseimbangan alam.

Wajar bila budidaya pertanian sangat efektif dan hemat. Contoh, mereka menanam padi ketika mangsa ke-7 dan panen pada mangsa ke-9 bertepatan dengan keluarnya ular dan burung pemakan serangga dari sarang. Mereka predator bagi tikus dan wereng sehingga serangan hama padi dapat terkontrol.

Artikel Terbaru

Rahasia Kecepatan Tumbuh Lele: Genetik, Pakan, dan Kepadatan Tebar

Kecepatan pertumbuhan lele sangat dipengaruhi faktor genetik dan pemilihan strain. Penelitian lapangan dan uji laboratorium menunjukkan bahwa varietas komersial...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img