Monday, February 23, 2026

Sejarah dan Keunggulan Ikan Nila: Dari Mesir Kuno hingga Jadi Komoditas Dunia

Rekomendasi
- Advertisement -

Ikan nila bukan pemain baru dalam dunia perikanan. Ilustrasi sepasang ikan nila yang melekat pada kuburan orang Mesir kuno menjadi bukti bahwa budidaya Oreochromis spp. dipercaya telah ada sejak 3.000 tahun lalu. Artinya, sejak peradaban kuno pun manusia sudah mengenal dan memanfaatkan ikan air tawar ini.

Kini, ikan anggota famili Cichlidae itu masuk jajaran lima besar komoditas perikanan penting yang paling banyak dikonsumsi di Amerika Serikat. Perjalanan panjang dari Sungai Nil hingga pasar global menunjukkan betapa strategisnya ikan nila dalam sektor perikanan dunia.

Asal-usul dan Perkembangan Nama Ilmiah

Genus Oreochromis tercatat memiliki sekitar 70 spesies yang kini tersebar di berbagai belahan dunia. Dari jumlah itu, empat jenis paling banyak dibudidayakan, yakni nile tilapia (Oreochromis niloticus), blue tilapia (Oreochromis aureus), mozambique tilapia (Oreochromis mossambicus), dan zanzibar tilapia (Oreochromis hornorum).

Di Indonesia, nila dikenal dengan nama ilmiah Oreochromis niloticus, yang dikukuhkan melalui ketetapan Direktur Jenderal Perikanan pada 1972. Di mancanegara, ikan ini lebih populer dengan sebutan tilapia. Kata “tilapia” berasal dari kata thiape dalam bahasa Tswana—bahasa yang digunakan luas di Afrika Selatan—yang berarti ikan.

Nama ilmiah nila sempat mengalami beberapa perubahan. Awalnya masuk genus Tilapia (Smith 1840), merujuk pada ikan yang tidak mengerami telur dan larva dalam mulutnya. Kemudian berubah menjadi Sarotherodon (Rupper 1852) karena diyakini kedua induk—jantan dan betina—mengerami telur dan larva di dalam mulut. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa hanya betina yang mengerami telur dan larva sehingga akhirnya dikelompokkan dalam genus Oreochromis (Gunther 1889).

Jejak Budidaya dari Afrika ke Seluruh Dunia

Meski dipercaya telah dibudidayakan sejak zaman Mesir kuno, catatan detail mengenai praktik budidayanya pada masa itu tidak banyak ditemukan. Dokumentasi budidaya yang lebih jelas tercatat sekitar 1920-an di Kenya, Afrika Timur.

Sejak saat itu, introduksi nila ke berbagai negara berlangsung pesat. Ikan asal Afrika ini dimanfaatkan sebagai ikan konsumsi, ikan pemancingan, pengontrol gulma perairan, hingga bahan penelitian.

Mengapa Ikan Nila Cepat Populer?

Perkembangan nila sebagai komoditas perikanan unggulan tergolong cepat. Beberapa faktor yang mendukung antara lain pertumbuhan relatif cepat, toleransi tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan, relatif tahan penyakit dan tidak mudah stress, dan mampu berkembang biak dalam penangkaran dengan siklus cepat

Salah satu ciri khas biologisnya adalah perilaku mengerami telur di dalam mulut (mouthbrooding) oleh induk betina hingga menetas menjadi larva. Sifat ini membantu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup anakan.

Komoditas Strategis Perikanan Dunia

Dari relief Mesir kuno hingga tambak modern, ikan nila membuktikan diri sebagai komoditas perikanan yang adaptif dan bernilai ekonomi tinggi. Dengan jumlah spesies yang banyak dan kemampuan adaptasi luar biasa, Oreochromis spp. tetap menjadi andalan budidaya air tawar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Tak berlebihan jika ikan nila disebut sebagai salah satu komoditas perikanan paling sukses dalam sejarah budidaya dunia.


Artikel Terbaru

Kurma, Tanaman Gurun yang Tak Tergantikan Sejak Ribuan Tahun Lalu

Kurma bukan sekadar buah manis yang identik dengan kawasan Timur Tengah. Tanaman anggota famili palem-paleman ini memiliki sejarah panjang...

More Articles Like This