Perangkat baru yang ampuh menghalau beragam hama padi.

Batang-batang padi yang mulai bunting rebah berserak dalam semalam. Esoknya semakin banyak batang padi yang rebah. Petani padi itu, Mohamad Soleh, bukan membiarkan padinya tumbang. Bahkan, sebelum menanam, ia membakar belerang di sudut-sudut pematang dan setiap lubang tikus. Sayang, semua ibarat menggantang asap. Tikus mulai menyerang tanaman padi setelah Soleh menyurutkan air, ketika malai mulai terbentuk.
Serangan terus berlangsung dan semakin buruk seiring perkembangan tanaman. “Tikus semakin banyak, entah datang dari mana. Kalau terang bulan, mereka sampai terlihat berseliweran di antara tanaman dan pematang,” kata pria berusia 49 tahun itu. Akibatnya lebih dari separuh tanaman rusak. Saat panen, ia hanya memperoleh sekitar 3,5 ton gabah kering panen. Jika tanpa serangan tikus, potensi panen 5 ton.
Osilator
Seandainya Soleh menggunakan perangkat genitech, ceritanya akan lain. Alat itu menghalau berbagai macam serangga seperti wereng cokelat Nilaparvata lugens, walang sangit Leptocorisa oratorius, atau kaper alias ngengat putih. Meskipun bukan serangga, tikus pun enggan mendekati lahan yang terlindung oleh genitech. Dengan memasang pengusir hama universal itu, petani tidak perlu repot menyemprotkan racun pengusir hama.
Seperangkat genitech mampu melindungi sehektar lahan. Syaratnya, “Genitech dipasang tepat di tengah lahan,” kata Tunggul Dian Santoso, pencipta genitech. Jantung genitech—dari kata geni yang berarti api—adalah komponen pembangkit gelombang (osilator). Gelombang ultrasonik dengan frekuensi 25.000—50.000 Hz itu lantas diperkuat oleh penguat gelombang (amplifier).

“Kita tidak dapat mendengar bunyi ultrasonik karena rentang indera pendengaran manusia adalah 20—20.000 Hz,” kata Tunggul. Untuk memperluas jangkauan jenis hama yang dapat dihalau, Tunggul memasang 8 jenis osilator yang masing-masing membangkitkan gelombang berbeda. Setiap jenis gelombang menyasar jenis hama tertentu. Ke-8 osilator itu bekerja bergantian.
Seperangkat pengendali mikro secara acak memilih osilator yang akan bekerja untuk mencegah hama tertentu menyesuaikan diri. “Kalau menggunakan pewanci terpola, tikus bisa mempelajari dan menyesuaikan diri,” ungkap Tunggul. Maklum, satwa jenis Rodentia itu mempunyai kecerdasan tinggi dan mampu belajar dari pengalaman. Itu sebabnya sekali tertangkap oleh jebakan, lem, atau racun, mereka tidak akan tertangkap dengan cara sama untuk kedua kalinya.
Irit listrik
Penguat gelombang untuk mengumandangkan gelombang ultrasonik itu mempunyai daya keluaran 150 watt. Daya itu setara penguat gelombang yang kerap digunakan di masjid. Getaran listrik dari penguat gelombang bermuara di 4 tweeter (speaker khusus nada-nada tinggi, red.) berdiameter 4 inci. Keempat tweeter itu menghadap 4 penjuru mata angin untuk memperluas perlindungan dari hama.
Pemasangan tweeter dengan cara itu menjadikan genitech mampu menangkis hama yang datang dari segala arah. Genitech irit pasokan listrik. “Konsumsi dayanya hanya 3 watt, 1 unit baterai sepeda motor bisa tahan 2 hari penuh,” ungkap Tunggul. Untuk mengisi ulang baterai, ia melengkapi genitech dengan panel energi surya berkekuatan 10 watt. Dengan demikian petani tidak repot membongkar pasang baterai setiap 2 hari untuk mengisi ulang.

Selain itu mereka juga tidak perlu menarik kabel panjang untuk menghubungkan alat dengan jaringan listrik. Pada 2010, Tunggul mencoba alatnya di Gunungkidul, Yogyakarta dan Karanganyar, Jawa Tengah. Di Gunung Kidul, sawah seluas 3 patok—setara 1.200 m²—berhasil panen, padahal lahan di sekitarnya nyaris ludes diserang wereng. Hal serupa terjadi di Karanganyar.
Untuk hasil terbaik, Tunggul menyarankan petani mengaktifkan genitech sejak penyemaian biji, paling telat pada masa penanaman. Penelitian jenis gelombang yang pas dengan hama tertentu memerlukan waktu cukup lama. Tunggul mencontohkan hama tikus sawah Rattus argentiventer. “Tikus sawah mempunyai panggilan khas untuk tujuan berbeda. Ada panggilan kawin, makan, dan bahaya,” kata Tunggul.
Alumnus jurusan Teknik Komputer Politeknik Pratama Mulya (Politama), Surakarta itu menyebutkan, salah menggunakan gelombang, bisa-bisa hama malah berdatangan menyerbu. Hampir 3 tahun ia meneliti gelombang yang pas sampai akhirnya genitech ia nyatakan final pada 2012. Ide membuat genitech hadir ketika ia mengamati pengusir nyamuk yang menggunakan prinsip serupa.
Saat itu, pada 2009, ia memperoleh informasi dari salah satu dosen bahwa Institut Pertanian Bogor (IPB) menghelat Program Pencarian dan Pendampingan (RAMP, recognition and mentoring program). Proposal teknologi antihama ultrasonik yang ia ajukan terpilih sebagai salah satu kandidat dan bertahan di antara 10 peserta yang memperoleh bantuan dana. Pada 2010, dana yang ia terima menjadi modal awal.

Meski menempuh pendidikan teknologi komputasi, latar belakang keluarga Tunggul di Provinsi Bengkulu adalah petani. Itu sebabnya anak ketiga dari 4 bersaudara itu memilih penghalau hama, masalah yang kerap menyerang sawah orangtuanya. “Ayah saya sering mengeluh soal serangan wereng,” kata pria berusia 27 tahun itu. Latar belakang itu memotivasi Tunggul untuk menyempurnakan alat itu.
Tunggul membanderol alatnya sekitar Rp3-juta tanpa panel surya. Menurut mantan periset di Balai Penelitian Tanaman Padi, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, Dr Ir Satoto MS, risiko serangan hama membuat petani cenderung jor-joran mengaplikasikan pestisida. “Terkadang mereka tidak mengindahkan dosis sehingga terjadi resistansi beberapa jenis serangga,” kata Satoto.
Sudah begitu, aplikasi pestisida berulang-ulang memerlukan biaya besar untuk pembelian bahan dan tenaga kerja. Genitech bisa menjadi solusi ampuh lantaran petani terbebas dari kewajiban menyemprotkan pestisida. Sekali membeli, alat itu awet bertahun-tahun. Irit, ampuh, dan efisien. Tentu saja beras hasil produksi pun lebih sehat. (Argohartono Arie Raharjo)
