Indonesia patut berbangga dengan capaian swasembada beras. Namun para ahli perlindungan tanaman mengingatkan, keberhasilan itu belum sepenuhnya aman. Ancaman di lapangan masih nyata dan perlu diwaspadai sejak dini. Perubahan cuaca ekstrem, hujan yang datang lebih sering, suhu yang cenderung hangat, serta kelembapan tinggi menciptakan kondisi ideal bagi berkembangnya wereng batang cokelat dan penyakit virus kerdil padi. Dua gangguan itu dikenal mampu menurunkan produksi. Bahkan memicu gagal panen bila luput diantisipasi.
Peringatan itu mengemuka dalam Webinar Dokter Tanaman Series bertajuk “Waspada! Antisipasi Virus Kerdil Padi” yang digelar Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) IPB University, pada pengujung Januari 2026. Dalam forum itu, tim Himasita IPB University melaporkan kemunculan kembali wereng batang cokelat disertai gejala penyakit kerdil di sejumlah daerah. Mulai dari Lumajang, Subang, Tulungagung, Sragen, hingga Padang Pariaman. Temuan itu menjadi sinyal bahwa kewaspadaan harus ditingkatkan.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof. Widodo, mengajak peserta melihat persoalan itu secara lebih menyeluruh. Menurut Widodo wereng tidak mengenal batas desa atau kabupaten sehingg pengendalian hanya efektif jika dilakukan bersama-sama. “Tanaman sehat itu bukan kebetulan. Ia lahir dari tanah yang terkelola baik, nutrisi seimbang, lingkungan yang mendukung, serta sistem budi daya yang ramah ekosistem,” ujar Widodo di hadapan sekitar 450 peserta yang mengikuti acara secara daring dari berbagai kalangan.
Pesan serupa disampaikan praktisi pengendalian hama terpadu (PHT) senior asal Lamongan, Khamim Ashari, S.P. Ia menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan produksi tidak bisa dibebankan pada petani secara individual. Yang dibutuhkan adalah upaya pencegahan atau tindakan preventif yang dilakukan secara kolektif. “Kalau satu hamparan bergerak bersama, risiko bisa ditekan. Kalau jalan sendiri-sendiri, wereng akan selalu menemukan celah,” kata Khamim.
Ia menjelaskan, penyakit virus kerdil (kerdil rumput maupun kerdil hampa) dapat menyebar dengan cepat bila pengelolaan di lapangan lengah. Terutama pada fase awal pertumbuhan tanaman. “Kita tidak boleh menunggu sampai sawah rusak. Pengendalian harus dilakukan sejak perencanaan tanam. Tanam serempak, varietas toleran, pemupukan seimbang, dan pemanfaatan musuh alami adalah kunci. Jadi, tindakan preventif haruslah menjadi utama dilakukan dalam pengendalian wereng dan virus kerdil ini,” tutur Khamim.
Lebih lanjut ia menuturkan, solusi tidak cukup berhenti pada teknik budi daya di sawah. Kebijakan, tata kelola, dan kelembagaan petani juga memegang peran penting. Ia mencontohkan Desa Besur, lokasi pelaksanaan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang mendapat dukungan pemerintah desa melalui pendanaan dana desa.
Di Besur, pemerintah desa berani mendukung SLPHT. Hasilnya, biaya budi daya turun dan produksi naik 3—5 ton per hektare. Itu bukti bahwa SLPHT dan kebijakan lokal bisa membuat pertanian jauh lebih tangguh. “Swasembada tidak akan bertahan kalau hanya berfokus pada pupuk dan pestisida. Yang harus diperkuat juga aspek manusia, kelembagaan, dan keberanian mengambil kebijakan mulai dari tingkat desa hingga nasional,” ujar Khamim.
