
Lazimnya keindahan bugenvil pada kesemarakan bunga. Ng Sing Fat dari Hong Kong menampilkan bonsai bugenvil minim bunga dan daun.
Meski tampil melawan pakem, bonsai itu justru mengundang decak kagum penonton. Pebonsai asal Hongkong, Ng Sing Fat menata koleksinya bergaya merunduk alias dropping. Bentuknya semicascade dengan batang tegak miring dan meliuk-liuk. Dari puncak batang muncul cabang-cabang yang panjang dan menjuntai ke segala arah. Karena tampil tanpa daun, sehingga seluruh ranting terlihat jelas.
Cabang utama pohon kembang kertas—sebutan lain bugenvil—itu membentuk anak cabang, cucu cabang, ranting, anak ranting, cucu ranting, dan seterusnya. Ukuran rantingnya sangat pendek, 2—4 cm, dan berbelok-belok, tanda pohon itu rutin dipangkas. Secara keseluruhan untuk mendapat bentuk sesempurna itu diperlukan waktu pembentukan sangat lama.

Bugenvil favorit
Cabang dan ranting bugenvil itu dibentuk menjuntai ke bawah secara bertahap, mulai dari batang, cabang, dan ranting secara detail. “Benar-benar mengagumkan, ” ungkap Tom Elias, ketua Bonsai Club International dari Amerika Serikat yang begitu kagum dan terpesona pada bonsai itu. Kekaguman serupa ditunjukkan Nikunj dan Jyoti Parekh, tokoh bonsai dari India yang beberapa kali mengambil gambar bonsai itu.
Bougainvillea glabra milik Ng Sing Fat itu juga mencuri perhatian pengunjung yang datang ke Sun Yat Sen Memorial Hall, tempat berlagsungnya pameran bonsai Asia Pasifik (ASPAC) di Guanzhou pada 17 September 2015.

Selain bugenvil bergaya menggantung itu, beberapa jenis serupa menyemarakkan pameran ASPAC yang telah diselenggarakan 13 kali itu. Semuanya diduga karya Ng Sing Fat karena memiliki teknik pembuatan sama tetapi beda gaya. Ada yang dikombinasikan dengan batu sehingga menggambarkan pohon yang tumbuh di tebing. Pohon bugenvil itu mencengkeram sebuah batu cadas dan ujungnya menjulur ke sebelah kanan. Satu cabang menjulur ke samping kiri untuk menjaga keseimbangannya.
Ng Sing Fat juga menampilkan Bougainvillea glabra bergaya semicascade. Batangnya yang besar tumbuh ke kanan, kemudian melengkung ke kiri dengan tajam. Sebuah cabangnya ditarik naik sebagai puncak dari bonsai ini. Percabanganya pun istimewa, dengan ranting-ranting pendek, tapi sangat rapat. Sifat merambat bugenvil telah hilang, digantikan oleh pohon tua beruas pendek.

Bonsai Bougenvillea glabra terakhir karya Ng Sing Fat bergaya tertiup angin alias wind swept. Pada karya itu, Sing Fat memamerkan lekuk-lekuk batang atau cabang dan ranting yang unik. Cabang yang mengarah ke kiri, dibelokkan ke kanan sedikit, dan baru kembali ke kiri. Itu memberi pemandangan yang kaya pada lekuk-liku batang atau cabang yang semua dipamerkan tanpa daun.
Dua Kelompok
Selain bugenvil, beberapa pot cemara udang dibentuk seperti sebuah pinus ikut memeriahkan pameran itu. Pinus masoniana memiliki gaya sederhana tumbuh ke kanan dan melengkung tajam ke kiri dengan mengembangkan satu cabang ke kanan dan cabang lain dibentuk menyesuaikan kemiringan batang. Pinus thunbergii 2 menampilkan sebuah bonsai cantik dengan batang besar yang keropos, tetapi cabangnya berhasil tumbuh terus ke atas dan membentuk lekuk-liku indah. Pinus thunbergii menampilkan pohon yang patah ke kanan dan berhasil tetap hidup, bahkan mulai mengangkat batangnya untuk kembali tumbuh ke atas. Pun, sebuah bonsai kimeng Ficus microcarpha dibentuk bergaya tegak informal sehingga nampak natural sekali.

Sekitar 500 bonsai pilihan dari berbagai negara ditampilkan di Sun Yat Sen Memorial Hall yang luas dan bisa menampung banyak tanaman. Setiap tanaman memperoleh latar putih sehingga dapat diamati sampai detail. Di samping bonsai juga ada pameran suiseki yang menampilkan sekitar 100 batu pilihan.

Perhelatan bonsai ASPAC ke-13 itu diselenggarakan bersamaan dengan konvensi Bonsai Clubs International (BCI). Organisasi bonsai internasional itu tiap tahun menyelenggarakan konvensi yang lokasinya berganti-ganti negara. Pada 2015, Ghuangzhou sebagai tuan rumah dengan mengangkat tema “The Infinity of Bonsai & Viewing Stone: a Culture Voyage from Canton to the World”. Dengan dua organisasi bonsai internasional bergabung, yaitu ASPAC dan BCI sehingga 1.000—2000 pencinta bonsai dari 22 negara mengunjungi pameran itu. Di antaranya dari India, Indonesia, Taiwan, Amerika Serikat, Hongkong, dan Tiongkok. Dari Indonesia, selain penulis, beberapa dedengkot bonsai Indonesia hadir di acara itu, di antaranya YW Junardy, Kang Hee Jung, M Paiman, Soeroso Soemopawiro, Maryuki, Winarto Selamat, dan Tjhang Soekimto. (Budi Sulistyo/Ketua Perhimpunan Penggemar Bonsai Cabang Jakarta)
