Vertikultur: Bertanam Sayuran di Lahan Terbatas

Rekomendasi

Trubus.id – Miftahul Huda, warga Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, memanfaatkan lahan sempit untuk menanam sayuran secara vertikal. Ia membuat instalasi vertikultur dari pipa setinggi 82 cm dengan 12—18 lubang tanam.

Bagian bawah pipa disangga ember cat bekas berisi semen sebagai tatakan. Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah dan kompos.

Huda menanam beragam sayuran seperti sawi, bayam, dan selada. Menurutnya, sistem vertikultur memungkinkan pemanfaatan ruang secara maksimal.

Vertikultur merupakan metode budidaya tanaman secara bertingkat vertikal. Sistem ini terbagi menjadi dua jenis, yakni konvensional dengan tanah dan hidroponik menggunakan larutan nutrisi.

Sandhi Mahardika, praktikus vertikultur di Palu, Sulawesi Tengah, memilih sistem hidroponik. Ia membangun empat tiang dari pipa paralon 4 inci setinggi 150 cm.

Setiap pipa memiliki 40 lubang tanam dengan jarak antarlubang 30 cm. Sandhi meletakkan sistem vertikultur ini di halaman seluas 50 m² di depan rumahnya.

Keunggulan vertikultur hidroponik adalah pertumbuhan tanaman lebih cepat dan bersih. Tanaman menyerap nutrisi langsung tanpa tanah, sehingga lebih higienis.

Namun, biaya pembangunan vertikultur hidroponik cukup tinggi. Sandhi mengaku mengeluarkan biaya hingga Rp5 juta termasuk investasi pompa dan listrik.

Meski begitu, ia menilai peralatan tersebut dapat bertahan hingga lima tahun. Efisiensi jangka panjang menjadi salah satu alasan ia memilih sistem ini.

Vertikultur memberi peluang bagi masyarakat untuk menanam sayuran di lahan terbatas. Sistem ini mendukung gaya hidup sehat dan ramah lingkungan di kawasan urban.

Foto: Sandhi Mahardika,


Artikel Terbaru

UGM Kembangkan Ekosistem Kedelai Lokal Terintegrasi, Dorong Kemandirian Pangan Nasional

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat upaya pengembangan kedelai lokal melalui pendekatan ekosistem terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas...

More Articles Like This