Monday, August 8, 2022

Anthurium: Bayi Belang Kini Diincar

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bibit anthurium dengan selembar daun seukuran koin itu dibanderol Rp25-juta. Daunnya belang: hijau bersaput kuning.

Memasuki bulan puasa pada Juli 2013, Nanang Koswara memprediksi ritme penjualan anthurium bakal melemah. Harap maklum pada Ramadan sebagian orang lebih banyak menghabiskan uang untuk keperluan puasa, mudik, dan perayaan Lebaran. Apalagi, pameran tanaman hias akbar Flora dan Fauna (Flona) di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, baru saja selesai. Namun, prediksi pemilik nurseri Bogana di Sawangan, Depok, Jawa Barat, itu ternyata meleset. Transaksi tetap lancar. Bahkan dua minggu menjelang Lebaran, seorang pembeli menukar sepot anthurium kobra batik dan eskobar variegata miliknya dengan motor ninja 250 cc anyar.

Padahal kedua tanaman itu “masih bayi”. Kobra batik berupa bibit berdaun 2 lembar seukuran telapak tangan orang dewasa hasil pemisahan bonggol. Sementara eskobar variegata malah masih bonggol bertunas seukuran koin 500 perak. Total jenderal, Paul, sapaan Nanang Koswara, meraup omzet Rp150-juta hanya dari penjualan raja daun belang hingga bulan puasa berakhir.

Bonggol

Paul menduga transaksi jual beli anthurium belang menghangat karena banyak orang terpikat anthurium variegata pascalomba di Flona. Ketika itu digelar kontes yang melombakan kelas anthurium variegata. Menurut penilaian juri seluruh tanaman yang ikut lomba memiliki penampilan istimewa. Contohnya mangkuk variegata yang menggondol juara pertama dengan daun bersemburat kuning di setiap helainya. Para pehobi pun terpesona. Keinginan pehobi untuk memiliki si belang semakin mencuat sebab variegata langka. “Langka karena pertumbuhannya lambat dan sulit diperbanyak,” kata Paul.

Masih di Sawangan, dua hari sebelum Lebaran, Supriyadi “kehilangan” bibit eskobar mangkuk belang. “Maksudnya kehilangan sebab saya belum berniat menjual,” katanya. Bibit berumur 10 bulan dari pemisahan bonggol itu baru sepekan di tangan. Ia membelinya dari pehobi di Jakarta seharga Rp10-juta.

Pria berusia 42 tahun itu terpaksa melepas sebab pembelinya adalah kerabat dekat. Sang kerabat berani membayar dua kali lipat. Awalnya ia menolak sebab berencana merawat hingga tanaman remaja dan menjuarai kontes. “Tiba-tiba sehari berselang, tanaman saya sudah ada di rumahnya,” kata Supriyadi.

Permintaan terhadap anthurium variegata juga menghampiri nurseri Angel Flora milik Aris Karera di Sawangan. Lima hari setelah Idul Fitri, ia menjual bibit eskobar variegata dengan 4 daun hasil pemisahan bonggol seharga Rp12,5-juta. Sementara itu, Soetopo di Klaten, Jawa Tengah, mendapat tawaran dari seorang kolektor di Jakarta untuk melepas bibit eskobar tricolor berdaun 4 ukuran 8—10 cm hasil pemisahan bonggol seharga Rp70-juta. “Tapi saya enggan menerima sebab itu favorit,” katanya. Ia hanya mau melepas bibit eskobar variegata biasa berdaun 5 dengan ukuran sama seharga Rp25-juta.

Bibit asal pemotongan batang induk anthurium belang banyak diminati. Perbanyakan secara vegetatif itu menghasilkan anakan yang memiliki karakter mendekati induk. Harga bibit dari bonggol akan semakin mahal bila induk variegata itu istimewa misalnya pemenang kontes, berdarah kobra, turunan mangkuk, berjenis tanduk, atau bertipe daun tricolor (hijau, putih, kuning).

Pada Mei 2013 misalnya, Supriyadi membeli twister tricolor dengan 12 daun seharga Rp20-juta dari seorang pehobi di Bogor, Jawa Barat. Ia lalu memperbanyak tanaman dengan bonggol.“Sudah 4 bonggol yang terjual dengan total harga Rp20-juta,” katanya. Artinya Supriyadi sudah balik modal. Padahal ia masih memiliki indukannya.

Biji

Sejatinya pascatren anthurium pada era 2007—2008 gaung anthurium variegata kembali terdengar sejak awal 2013. Menurut Eddy Pranoto, pehobi di Semarang, Jawa Tengah, sudah setahun terakhir banyak kontes yang melombakan kelas variegata. “Bibit hasil pemisahan bonggol itu nantinya diharapkan bisa diikutsertakan dalam kontes,” katanya.

Eddy menuturkan untuk mendapat bibit istimewa dari pemisahan bonggol, induk yang digunakan memang harus berkelas. Dengan demikian, tunas yang didapat memiliki karakter sama dengan induk seperti bentuk daun, tulang daun, serat, dan susunan daun. “Nah, corak belangnya bisa tidak sama,” katanya. Oleh karena itu agar pembeli tidak kecewa sebaiknya beli bonggol yang sudah bertunas. “Konsekuensinya tentu harga lebih tinggi,” kata Eddy.

Menurut Dr Ir Supriyanto, ahli fisiologi tumbuhan dari Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology—(SEAMEO Biotrop) di Bogor, Jawa Barat, anakan dari bonggol memang mewarisi semua karakter induknya. “Risiko anakan bakal memiliki karakter beda dengan induk sangat kecil,” katanya. Namun, Supriyanto mewanti-wanti bagi para pembeli bonggol variegata yang belum mengeluarkan tunas. Alih-alih belang yang didapat justru tunas hijau. “Pastikan bahwa bonggol itu memang berasal dari indukan variegata,” katanya. Oleh karena itu untuk menjamin kepercayaan, bonggol-bonggol yang diperjualbelikan sebaiknya memiliki sertifikat.

Eddy menuturkan bukan hanya bibit anthurium variegata hasil perbanyakan vegetatif yang menjadi incaran. “Anakan dari biji juga ada yang minat,” tuturnya. Di nurseri milik Paul misalnya, sudah ada tawaran untuk melepas bibit variegata hasil silangan kol dan kobra dengan 8 daun seharga Rp26-juta. “Itu tawaran tertinggi bibit dari biji yang pernah saya alami sejak bermain anthurium 6 tahun lalu,” kata Paul. Tawaran setinggi itu sebab variegata bernama BMW itu memiliki susunan daun roset, batas warna jelas, dan berdaun lebar.

Anakan biji kobra milik Muhammad Abdurrahman di Depok pun serupa. Umurnya baru 4 bulan dengan ukuran daun sekoin tapi sudah ada yang menawar Rp10-juta. “Kalau bukan variegata jarang ada yang berani menawar bibit dengan harga tinggi,” katanya. Padahal, pada rentang 2009—2010 harga bibit dari biji atau bonggol variegata paling mahal Rp2-juta—Rp3-juta.

Menurut pebisnis senior tanaman hias di Bogor, Jawa Barat, dr Purbo Djojokusumo perputaran bibit-bibit anthurium variegata itu masih di tangan pedagang, belum konsumen akhir. Konsumen akhirnya adalah para kolektor sebab mereka tahu cara tepat merawat tanaman belang itu. “Kalau kolektor besar maunya beli tanaman yang sudah remaja, berpenampilan prima, sosok tanaman sempurna, susunan daun rapi, dan memiliki corak belang paling sedikit 50%. Tentu mereka bersedia untuk membelinya dengan harga sangat tinggi,” tutur mantan ketua Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI) itu. Untuk itu mereka menunggu bayi-bayi anthurium belang di tangan pedagang dan pemilik nurseri tumbuh besar dan memperlihatkan keelokan daunnya. (Andari Titisari)

FOTO:

  1. Anthurium eskobar variegata kelas kontes seperti ini menjadi incaran para penikmat raja daun
  2. Anthurium BMW variegata hasil silangan kobra dan kol
  3. Nanang Koswara, Muhammad Abdurrahman, dan Supriyadi (kiri-kanan) meraup rupiah dari penjualan bibit anthurium variegata
  4. Belang tiga warna seperti twister ini pun menjadi idaman
  5. Anthurium kobra variegata hasil perbanyakan biji
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img