Trubus.id — Nama varietas Sios Tavi masih asing. Namun, Suriawan, S.Pd.I memilihnya. Petani di Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, itu bukan tanpa alasan memilih Sios Tavi—varietas cabai unggul—untuk ditanam di kebunnya.
Perawatan tanaman mudah dan tahan serangan virus gemini. Sios Tavi merupakan varietas baru cabai keriting hasil pemuliaan PT Bisi International, Tbk. Varietas baru itu rilis pada 2021.
Panen pertama ketika tanaman berumur 83–87 hari. Suriawan pun girang memanen 1,6 ton dari 1.600 tanaman di lahan 800 m2. Hingga Agustus 2022, ia tiga kali menanam varietas Sios Tavi.
Pekebun cabai sejak 2020 itu memanen rata-rata 1 kg. Bandingkan dengan varietas sebelumnya yang ia tanam hanya memberikan 0,5–0,7 kg per tanaman. Umur Sios Tavi pun lebih singkat 80 hari setelah tanam. Lazimnya, panen cabai itu 90–120 hari.
Tahan virus
Setiap musim, Suriawan memetik cabai hingga 20 kali. “Sekali petik rata-rata 2 kuintal,” tutur Suriawan. Pada 10 September 2022 harga di tingkat petani Rp42.000. Seperti pada umumnya, harga itu masih naik turun.
Omzet Suriawan dari total lahan 1.600 m2 yang ditanam berbagai varietas cabai itu Rp50 juta. Menurut Suriawan, Sios Tavi menyumbang omzet paling tinggi hingga Rp30 juta. “Produksi lebih banyak dari varietas yang ditanam sebelumnya,” tutur pria 35 tahun itu.
Menurut Andi Wahyono, S.P., M.P., dari PT Bisi International, Tbk., potensi produksi Sios Tavi 19–24 ton per hektare. Bobot 6–8 gram per buah. Produksi rata-rata 0,7–1,2 kg per tanaman.
Bobot 1.000 biji mencapai 5 gram. Sios Tavi memiliki ukuran buah dengan panjang 13 cm dan diameter 0,6 cm. Menurut Andi, Sios Tavi bisa ditanam di semua tempat termasuk di daerah endemik virus.
“Varietas itu pun masih menunjukkan performa yang stabil,” tutur pemulia cabai PT Bisi International, Tbk., itu.
Serangan virus gemini terjadi di beberapa sentra cabai seperti Bantul (Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) serta Lumajang, Malang, dan Kediri (Jawa Timur). Di beberapa sentra yang terserang virus gemini itu, cabai Sios Tavi terbukti tahan.
Selain tahan gemini, Sios Tavi juga tahan bakteri dan layu fusarium. Cabai baru yang dirilis pada 2021 itu dapat beradaptasi di dataran rendah hingga tinggi. Menurut Andi, Sios Tavi bisa ditanam pada musim hujan dan kemarau. Target pasar untuk Sios Tavi berupa cabai merah segar dan cabai merah kering.
“Sios Tavi itu rasanya pedas, rendemen 25%, dan warna pun tetap merah dalam kondisi kering,” tutur pria kelahiran Ngawi, Januari 1973 itu.
