Wednesday, January 28, 2026

Jebak Hama Cabai dengan Perangkap Bertenaga Surya

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id—  Hama menjadi momok bagi para petani cabai. Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat, hama seperti serangga akan mencuri laba petani. Untuk mengatasi itu, petani bisa menerapkan perangkap hama bertenaga surya.

Selain ampuh mengatasi hama, alat itu juga bisa menekan biaya produksi cabai hingga 60% dan meningkatkan hasil panen 100%. Itu telah dibuktikan oleh Subandi, petani cabai merah di Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di lahan 1 ha Subandi memasang 10 perangkap dengan interval 1.000 meter. Tinggi tiang lampu 0,5—2 meter dari permukaan tanah. Di bawah lampu terdapat wadah berdiameter 30—100 cm berisi cairan.

Petani dapat memilih  salah satu larutan untuk mengisi wadah. Pilihan larutan antara lain soda, detergen, minyak tanah, minyak goreng, oli, atraktan, atau lem perekat. Pilih salah satu jenis larutan untuk menampung dan mematikan hama.

Ketika malam, lampu pada perangkap menyala sehingga menarik imago atau serangga dewasa yang menjadi hama. Mereka akhirnya jatuh di wadah dan gagal terbang. Subandi menghidupkan perangkap hama bertenaga surya itu pada pukul 18.00—04.00 selama 10 jam.

Menurut Subandi jenis hama yang terperangkap antara lain ulat grayak (Spodoptera litura), ulat tanah (Agrotis ipsilon), dan lalat buah (Bractocera dorsalis).

Hama cabai merah sebagian besar merupakan serangga dari ordo Diptera, Thysanoptera, Hymenoptera, Hemiptera, Coleoptera, Lepidoptera, dan Acharina. Hama-hama yang terperangkap itu lalu dibuang oleh Subandi.

Ia lantas membersihkan wadah dan mengisi kembali dengan larutan baru. Pemerangkapan itu menyebabkan populasi hama terkontrol dan produksi cabai melonjak signifikan. Semula Subandi hanya memanen 15—20 ton cabai merah per hektare (ha) per musim tanam.

Setelah menggunakan perangkap itu, Subandi menuai 30—40 ton cabai merah per ha per musim tanam. Menurut Subandi investasi pengadaan alat dan biaya listrik pun relatif terjangkau. “Biaya pembuatan alat sekitar Rp20.000 per perangkap setara Rp200.000 per ha,” kata Subandi.

Sementara itu biaya listrik hanya Rp32.000 per hektare per bulan. Menurut Subandi biaya itu ekonomis. Apalagi jika dibandingkan dengan potensi peningkatan hasil panen cabai. Masa pakai perangkap itu hingga setahun.

Setelah menggunakan perangkap, biaya pembelian pestisida sangat minim, yakni Rp300.000—Rp400.000 per musim tanam atau selama 4—5 bulan. Bandingkan dengan sebelumnya, ketika tanpa perangkap Subandi bisa menghabiskan Rp2 juta untuk pembelian pestisida per ha per musim tanam.  Biaya pestisida turun 60% per ha.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img