Trubus.id— Karier Bustam Mongkoa, S.T., bisa dibilang gemilang. Setelah lulus kuliah di Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Universitas Halu Oleo, ia bekerja di perusahaan pertambangan di Sulawesi Tengah.
Bustam menjabat sebagai pengawas kegiatan pertambangan dengan gaji sekitar Rp10 juta per bulan. Namun, berselang tujuh bulan Bustam berhenti bekerja dan memutuskan berbisnis sayur hidroponik pada 2019.
Pemuda itu tumbuh di Desa Ululere, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, yang mayoritas masyarakat berprofesi sebagai nelayan. Produk perikanan pun menjadi bahan pokok utama mereka.
“Pasokan sayur sangat minim, masyarakat belum banyak yang menanam sayur,” kata pria berumur 27 tahun itu.
Oleh karena itu ia membudidayakan sayuran dengan sistem hidroponik lantaran eksklusif dan berdaya jual lebih tinggi. Bustam menanam aneka selada dan pakcoi di lahan 20 m × 50 m. Kebun hidroponik Bustam terdiri atas 15 meja.
Satu meja terdiri atas 30 pipa berdiameter 2,5 inci sepanjang 4 meter. Sebuah pipa memuat 20 lubang tanam. Jarak antarlubang tanam 10 cm. Jadi Bustam mengelola 6.500 lubang tanam. Semula volume produksi terbatas rata-rata 100 kg dan beromzet Rp5 juta per bulan.
Sementara permintaan sayuran hidroponik di Morowali terus melonjak. Ia memutuskan untuk bermitra dengan 7 petani. Hasil panen sayuran itu untuk perusahaan mitra di Morowali, Sulawesi Tengah.
“Perusahaan menginginkan pasokan yang kontinu, maka saya bermitra dengan 7 petani,” tutur pemilik Maleo Hidroponik Morowali Farm itu.
Saban bulan ia menjual 640 kg selada dan pakcoi seharga masing-masing Rp50.000—Rp60.000 per kg. Ia mendapat omzet Rp32 juta per bulan dari perniagaan sayur itu. Para petani mitra membudidayakan sayuran hidroponik sesuai permintaan Bustam.
Sayuran-sayuran itu melalui proses semai selama sepekan, peremajaan sepekan, dan panen saat berumur 45—50 hari setelah tanam (hst) untuk selada dan pakcoi 20—30 hst. Bustam menuai laba puluhan juta rupiah dari berbudidaya hidroponik.
Permintaan kian meningkat, ia menerima sekitar 100 kg pesanan baru dari perusahaan mitra lain setiap pekan. Menurut Bustam modal berhidroponik termasuk pembangunan rumah tanam (greenhouse) dan instalasi sekitar Rp30 juta. Dengan kata lain dalam sebulan tercapai break even poin atau titik impas.
Ia menjaga betul kualitas sayuran. Musababnya perusahaan mitra menginginkan standar produk yang mulus serta tidak rusak seperti berlubang akibat serangan hama atau salah dalam penanganan panen.
