Wednesday, January 28, 2026

Berkebun Anggur dengan Telepon

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Dunia pertanian semakin maju dengan kehadiran teknologi. Lihat saja, saat ini berkebun anggur bisa dilakukan dengan hanya menggunakan telepon. Itu seperti yang dilakukan oleh Dwi Agus Priyanto.

Pekebun di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, itu membudidayakan 110 tanaman anggur. Dwi puas melihat tanaman anggur di kebunnya berbuah lebat. Tajuk tanaman segar tanda tanaman sehat.

Sejak September 2022—Juli 2023 ia memanen 90 kg anggur (2 kali pemetikan) dari 110 tanaman. Artinya setiap panen menghasilkan 45 kg anggur. Dwi patut senang karena panen sebelumnya hanya menghasilkan 9 kg anggur setiap panen. Peningkatan produksi hingga 5 kali lipat itu berkat penerapan internet of things (IoT).

“Sistem pertanian yang terintegrasi dengan jaringan internet mempermudah perawatan tanaman,” kata Dwi.

Ia hanya perlu memantau kondisi tanaman melalui telepon genggam. Pemupukan dan penyiraman dikerjakan secara otomatis. Ia mempercayakan pemupukan dan penyiraman pada peranti pintar yang digunakan sejak September 2022.

Dwi memanfaatkan teknologi sensorik yang terhubung dengan panel untuk mendeteksi kesuburan tanah. Dwi menancapkan sensor berupa logam runcing sedalam 7 cm di sudut bedengan anggur.

Sensor berfungsi menangkap sejumlah instrumen seperti tingkat kelembapan, suhu, dan pH tanah. Begitu pula unsur makro meliputi nitrogen, fosfor, dan kalium. Panel lantas menerjemahkan kandungan semua instrumen yang terbaca menjadi angka atau nilai yang mudah dipahami pengguna.

Alat itu memudahkan Dwi menentukan dosis pupuk yang tepat. Ia hanya mengakses laman website untuk mengetahui nilai instrumen yang terbaca. Laman website dilengkapi dengan diagram kontrol dari angka 0—255 ppm untuk setiap instrumen.

Pada diagram terdapat indikator warna sebagai penanda. Sebagai contoh diagram kontrol nitrogen berwarna hijau jika kandungannya lebih dari 20 ppm. Apabila indikator warna kuning, pertanda pekebun harus memberikan pupuk nitrogen.

Warna kuning menandakan kandungan nitrogen dalam tanah 10—20 ppm. Adapun jika indikator warna menjadi merah maka kandungan nitrogen dalam tanah sangat minim yakni kurang dari 10 ppm.

Sebelum memanfaatkan sensor analisis kesuburan, Dwi belum mampu mengukur kebutuhan pupuk tanaman. Hasil pengamatan sensorik menunjukkan bahwa lahan Dwi sudah subur. Biasanya, ia membutuhkan 6 kg pupuk NPK dalam sebulan.

Rupanya, Dwi terlalu banyak memberikan pupuk selama bertanam anggur. Akibatnya biaya pembelian pupuk NPK pun tinggi. Jika harga NPK Rp15.000 per kg, setidaknya ia membutuhkan biaya Rp90.000 per bulan.

Usai menggunakan sensor kesuburan, ia hanya menghabiskan 1 kg pupuk NPK dengan biaya Rp15.000. Artinya, Dwi menghemat Rp75.000 per bulan setara 83% untuk pembelian NPK.

Pemupukan NPK diberikan melalui kran pengocor yang bekerja secara otomatis setiap dua pekan.  Penerapan IoT membantu pekebun mengetahui kondisi sebenarnya di lahan.

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img