Wednesday, January 28, 2026

Tumbuh Baik di Tanah Buruk

Rekomendasi
- Advertisement -

Jabon terbukti andal sebagai tanaman pioner. Di lahan masam pun, jabon tumbuh subur.

Reklamasi lahan bekas tambang timah di Airmesu, Bangka Tengah, dengan jabon. Dua pekan setelah tanam, bibit mulai bertunasPuluhan tahun ladang itu merana. Gulma dan belukar tumbuh leluasa di lahan seluas 4 ha. Pemilik lahan, Frendy Salim, tak ingin membiarkan ladang di Pasirgaram, Kecamatan Simpangkatis, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka-Belitung, itu terus telantar. Namun, tingkat keasaman tanah berkisar 3—4 dan lapisan tanah bagian atas amat tipis. “Di permukaan tanah banyak terdapat batu kacang,” kata Arif Jauhari yang mengolah tanah itu. Komoditas apa pun sulit tumbuh di tanah itu. Batu kacang merupakan batu kecil seukuran kacang tanah.

Ahli tanah dari Universitas Sriwijaya, Ir Warsito MS, mengatakan tanah seperti itu lazim disebut puru. Kadar besi relatif tinggi dan kandungan bahan organik amat rendah. “Biasanya masyarakat menggunakan tanah itu untuk mengeraskan jalan,” kata Warsito. Arif  tak patah semangat. Ia membuat lubang tanam berukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm. Ia lantas memasukkan 4 kg pupuk kandang kotoran ayam, 20 gram insektisda berbentuk granula, 250 gram kapur pertanian, dan 300 gram pupuk NPK ke setiap lubang tanam. Ia mencampur rata bahan-bahan itu sebelum memasukkan ke dalam lubang tanam berjarak  4 m x 4 m.

 

Pohon jabon tumbuh baik di lahan marginal dengan tingkat keasamanSistem pot

Warsito mengatakan pupuk kandang sebagai sumber nitrogen dan berperan menjaga kelembapan. Upaya penanaman dengan cara itu sohor dengan sebutan sistem pot. Lubang tanam itu laksana pot tempat tumbuh tanaman. Tiga pekan lamanya Arif membiarkan media tanam di lubang tanam. Kapur pertanian antara lain mengandung kalsium dan magnesium yang menyebabkan media tanam panas sehingga Arif membiarkan media itu selama 21 hari. Tiga pekan kemudian tingkat keasaman tanah berubah menjadi 5 sehingga memadai untuk penanaman bibit jabon. Jabon menghendaki tingkat keasaman tanah 5—7.

Ahli Silvikultur dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr Irdika Mansur MForSc, mengatakan bahwa kapur menyumbang kalsium bagi tanaman. Irdika mengungkapkan kapur pertanian menjadi “lem antarsel” sehingga bibit mampu tumbuh dan berkembang. Pada November 2011 ketika hujan mulai turun, Arif alumnus Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor itu mulai menanam bibit jabon setinggi 40 cm. Populasi mencapai 625 bibit per ha atau total 2.500 bibit di lahan 4 ha.

Mengapa jabon? Arif memilih jabon karena, “Tanaman pioner, genjah, dan kekuatan kayunya lebih baik dibanding softwood lainnya,” kata Arif. Sebagai tanaman pioner, jabon adaptif di lahan marginal. Di lahan 4 ha itu hanya 15 bibit yang mati dan Arif segera menyulamnya.

Pertumbuhan bibit jabon di lahan Frendy Salim relatif seragam. Harap mafhum Arif memang merawat jabon secara intensif. Sebagai pupuk susulan, ia memberikan 5 kg pupuk kandang, 25 gram insektisida garnula, dan 400 gram NPK per tanaman setiap 3 bulan pada tahun pertama. Setahun berselang, Arif meningkatkan dosis pupuk menjadi  5 kg pupuk kandang, 30 gram insektisida, dan 500 gram NPK per tanaman. Sebelum memupuk, Arif mendangir tanah di bawah tajuk tanaman dan memberikan pupuk itu berjarak 60 cm dari pangkal batang. Namun interval pemupukan menjadi 4 bulan atau 3 kali setahun.

Frekuensi pemupukan pada umur 3 tahun hanya 2 kali. Sementara pada tahun keempat, Arif akan menghentikan pemupukan. Dengan perlakuan itu Antocephalus cadamba tumbuh subur dan menjulang. Ketika Trubus ke kebun itu pada 11 Oktober 2013, diameter batang beberapa pohon mencapai 25 cm. Padahal, umur pohon belum genap dua tahun. Arif bukan hanya “menyulap” tanah tandus menjadi lahan jabon sekaligus mengoptimalkan lahan di bawah tegakan pohon kerabat mengkudu itu. Ia menanam beragam sayuran seperti bayam, kangkung, dan caisim.

Selain sayuran, Arif juga membuat kolam terbuat dari terpal berukuran 3 m x 6 m untuk budidaya lele. Di lahan itu terdapat 16 kolam lele, sebagian untuk pembesaran, lainnya untuk seleksi. Ia menebar 3.000 benih seukuran kelingking orang dewasa per kolam. Sebulan berselang, Arif memindahkan lele-lele yang ukurannya lebih kecil ke kolam lain. Tujuannya lele tumbuh seragam. Selama budidaya—2,5 bulan—Arif dua kali menyeleksi.

 

Bekas tambang

Setelah sukses mengebunkan jabon di tanah marginal, Arif mereklamasi lahan bekas tambang timah di Airmesu, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Itu kerja sama antara PT Timah dan Kodim  0413 Bangka. Kondisi lahan bekas tambang timah seluas 3,4 ha itu juga lebih buruk daripada tanah di Pasirgaram. Tingkat keasamannya hanya 3,1—3,6, lapisan tanah  bagian atas alias topsoil hilang sama sekali. Arif  memperlakukan lahan itu dengan pemberian 0,5 kg kapur pertanian, 5 kg bahan organik berupa kotoran ayam, dan 100 gram NPK per lubang tanam.

Selain itu ia juga mendatangkan lapisan tanah atas dari lokasi lain. “Saya mendatangkan 76 truk topsoil,” kata Arif yang membuat lubang tanam 60 cm x 60 cm x 100 cm. Menurut Arif kedalaman lubang tanam 50 cm sebetulnya memadai untuk penanaman jabon. Namun, risiko kematian bibit di lahan bekas tambang sangat tinggi sehingga ia memperdalam lubang tanam hingga 100 cm. Meski demikian penanaman bibit jabon tidak terlampau dalam.

Arif Jauhari mengolah lahan marginal untuk budidaya jabonIa membiarkan lubang tanam itu selama dua pekan dan mengecek tingkat keasaman tanah sebelum penanaman, yakni 5. Pada awal Oktober 2013, Arif menanam bibit jabon di lahan itu. Dua pekan berselang tunas mulai bermunculan indikasi bibit tumbuh dengan baik. Irdika Mansur mengatakan bahwa jabon memang tanaman pioner yang andal di lahan marginal. Ia pernah menjumpai lahan marginal bekas tambang di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dengan tingkat keasaman hanya 2,9.

Warsito mengatakan bahwa tanah pasir di Bangka berbeda dengan lahan pasir di Jawa, misalnya. Tanah pasir bekas tambang di Bangka cenderung berupa kuarsa atau silika yang miskin hara. Sementara itu lahan pasir di Jawa masih mengandung mineral tertentu yang dibutuhkan oleh tanaman. Meski demikian Arif tetap mengolah lahan itu sebagai lokasi budidaya jabon.

Menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bangka Belitung, Ir Nazalyus MSi, pemanfaatan lahan marginal dan bekas tambang untuk budidaya jabon langkah tepat. “Kebutuhan kayu pada masa mendatang bukannya makin kecil, tetapi makin besar. Selain itu kayu tak tergantikan,” kata Nazalyus usai menutup acara pelatihan Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung pada 7—9 Oktober 2013.

Menurut Nazalyus dengan menanam jabon di lahan kritis berarti kebutuhan kayu masyarakat dapat terpasok tanpa harus merambah hutan. “Jika kita kelola dengan baik, lahan eks tambang masih dapat berfungsi. Oleh karena itu kami terus mendorong masyarakat dan perusahaan untuk mereklamasi lahan bekas tambang. No forest no future (tak ada hutan, tak ada masa depan, red),” kata  Nazalyus. Lagi pula di tanah buruk sekalipun jabon tetap tumbuh bagus. Arif Jauhari telah membuktikannya. (Sardi Duryatmo)

Previous article
Next article

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img