Trubus.id—Food waste atau pangan terbuang merupakan makanan layak yang mengalami pembuangan. Menurut kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Food Loss and Waste (FLW) Indonesia pada 2000—2019 berkisar 23—48 juta ton/tahun, setara dengan 115–184 kg/kapita/tahun.
Food loss and waste menjadi perhatian serius di dunia. Hal itu untuk mewujudukan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin ke-3, yaitu negara-negara di dunia diharapkan dapat mengurangi 50% food waste per kapita di tingkat retail dan konsumen pada tahun 2030.
Menurut dosen di Jurusan Agribisnis Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Tomy Perdana, S.P., M.M., pangan terbuang di negara maju dan negara berkembang berbeda. Kontribusi pangan terbuang di negara maju seperti Arab Saudi rata-rata dari sektor konsumen.
Bandingkan dengan negara berkembang seperti Indonesia pangan terbuang dari sektor produksi dan distribusi akibat panjangnya tata niaga.
Ia menjelaskan bahwa tata niaga yang panjang dapat menurunkan kualitas produk pertanian. Banyak pihak seperti petani, pengepul, pedagang kecil, dan pedagang besar menyortasi produk sebelum sampai ke konsumen.
“Misalnya nilai jual produksi sayuran di Indonesia Rp300 triliun per tahun dan biaya produksi Rp150 triliun per tahun. Karena sistem pasok panjang maka potensi kehilangan hasil 30—45%. Hal itu berarti Rp45 triliun—Rp60 triliun biaya produksi hanya menghasilkan sampah,” tutur Tomy.
Banyak pangan terbuang membuat ironis. Tomy menuturkan salah satu kunci menyelesaikan permasalahan tata niaga yakni dengan menyelaraskan frekuensi produsen dan konsumen. Petani harus mampu memenuhi kriteria produk yang dikehendaki konsumen.
Lebih lanjut Tomy menjelaskan terjalinnya koneksi produsen dan konsumen bisa memangkas tata niaga. Solusi lain regenerasi petani muda yang dituntut adaptif pada manajemen produksi. Petani muda diharapkan lebih terbuka menerima dan mengaplikasikan teknologi baru.
Tujuannya agar mutu produk meningkat dan pasokan selalu tersedia untuk menjaga harga relatif stabil. “Permintaan produk pertanian jelas dan setiap hari. Sebetulnya tanaman semusim atau sayuran bisa diatur dengan penanganan dan rotasi tanam,” kata Tomy.
Adapun untuk mengoptimalkan mutu produk harus mulai dari kebun hingga rumah kemas. Proses itu meliputi sortasi produk sejak panen memperhatikan fisiologis, kematangan, dehidrasi, respirasi, dan hama penyakit tanaman. Sarana teknologi pendukung berupa transportasi logistik dengan sistem pendingin.
