Trubus.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan alat bantu panen kelapa sawit bernama Upper Limb Exoskeleton (ULE). Alat ini dirancang untuk meningkatkan keselamatan kerja dan produktivitas pemanen di perkebunan sawit.
Pekerjaan panen sawit di lahan dengan pohon tinggi menuntut tenaga fisik berat dan gerakan berulang. Aktivitas seperti mengangkat egrek dan memotong pelepah berisiko menyebabkan gangguan otot dan tulang.
Peneliti BRIN, Nugrahaning Sani Dewi atau Haning, menjelaskan bahwa riset ini dibiayai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Fokus utamanya adalah merancang eksoskeleton bagian atas tubuh untuk mendukung panen manual.
Teknologi eksoskeleton sudah berkembang di negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Namun, belum ada yang spesifik ditujukan untuk pemanenan sawit secara manual.
ULE menjadi solusi pertama yang dikembangkan sesuai kebutuhan industri sawit Indonesia. Alat ini hadir untuk menyesuaikan diri dengan kondisi kerja dan medan kebun sawit.
Melansir pada laman BRIN ULE bekerja dengan mendistribusikan beban dari tubuh bagian atas ke struktur tubuh lain. Rangka luar ini membantu meringankan tekanan otot saat mengangkat alat panen.
Analisis biomekanik dan data Electromyography (EMG) menunjukkan ULE dapat mengurangi kerja otot bahu dan punggung. Kondisi ini menjaga stamina, memperbaiki postur, dan menurunkan risiko cedera.
ULE termasuk eksoskeleton pasif yang tidak digerakkan oleh mesin. Gerakannya mengikuti tubuh pengguna secara alami, memungkinkan mobilitas tinggi di lapangan.
Dalam proses pengembangannya, tim menggunakan teknologi motion capture system (mocap) untuk merekam gerakan pemanen. Hasil rekaman menjadi acuan dalam menyempurnakan desain ULE agar ergonomis.
Uji coba fisiologis dan usability test menunjukkan hasil positif dari para pemanen sawit. Alat dinilai aman dan nyaman, serta layak digunakan secara rutin.
Haning menyebut penerimaan pengguna sangat penting bagi adopsi teknologi di lapangan. Tingkat kenyamanan tinggi memperbesar peluang ULE dipakai secara luas.
Ia berharap inovasi ini mendorong kesejahteraan pekerja sawit dan memperkuat posisi Indonesia dalam teknologi agrikultur. ULE diharapkan segera diproduksi massal dan digunakan secara nasional.
Foto: Dok. BRIN
