Ketersediaan bahan baku pakan menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan budidaya ikan. Ketergantungan terhadap sumber protein seperti tepung ikan dan bahan impor membuat peneliti terus mencari alternatif yang lebih murah, mudah diperoleh, dan berkelanjutan.
Salah satu bahan yang mulai dilirik berasal dari tanaman yang selama ini justru dianggap sebagai gangguan, yaitu Alternanthera philoxeroides atau alligator weed. Tanaman invasif tersebut ternyata memiliki potensi sebagai bahan pakan ikan setelah melalui proses pengolahan yang tepat.
Dilansir dari laman Universitas Airlangga (UNAIR), penelitian menunjukkan bahwa fermentasi alligator weed menggunakan kapang Rhizopus oligosporus mampu meningkatkan kualitas nutrisi, memperbaiki sifat fungsional, serta meningkatkan daya cerna pada ikan nila (Oreochromis niloticus).
Alligator weed dikenal sebagai tanaman dengan pertumbuhan cepat yang dapat menutupi permukaan perairan, menghambat saluran irigasi, dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Namun, tingginya produksi biomassa tanaman tersebut justru menjadi peluang untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku pakan.
Kendala utama penggunaan tanaman ini sebagai pakan adalah kandungan serat yang tinggi serta adanya senyawa antinutrisi yang dapat menghambat pemanfaatan nutrien oleh ikan. Karena itu, diperlukan teknologi pengolahan agar kandungan gizinya lebih mudah dimanfaatkan.
Dalam penelitian tersebut, proses fermentasi menggunakan Rhizopus oligosporus dilakukan untuk memperbaiki karakteristik bahan pakan. Kapang yang juga digunakan dalam pembuatan tempe ini menghasilkan enzim yang membantu menguraikan komponen kompleks seperti serat dan senyawa penghambat nutrisi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi selama lima hari memberikan peningkatan kualitas terbaik. Kandungan protein alligator weed meningkat dari 18,42% menjadi 24,89%, sedangkan kandungan serat kasar turun dari 24,85% menjadi 16,72%.
Fermentasi juga mampu menekan kandungan senyawa antinutrisi seperti fitat, tanin, dan oksalat. Kandungan fitat berkurang dari 14,26 menjadi 6,31 mg/g sehingga nutrien dalam bahan pakan menjadi lebih mudah diserap oleh ikan.
Selain memperbaiki nilai nutrisi, proses fermentasi menghasilkan peningkatan komponen bioaktif. Kandungan fenol total meningkat dari 8,72 menjadi 16,94 mg GAE/g, sementara aktivitas antioksidan meningkat dari 32,18% menjadi 61,39%.
Bahan hasil fermentasi juga menunjukkan kemampuan antibakteri yang lebih baik terhadap beberapa patogen ikan seperti Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae, dan Vibrio parahaemolyticus. Kemampuan tersebut berpotensi memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan ikan dalam sistem budidaya.
Dari sisi pemanfaatan oleh ikan, bahan fermentasi menunjukkan peningkatan daya cerna. Nilai kecernaan bahan kering meningkat dari 58,47% menjadi 75,88%, sedangkan kecernaan protein meningkat dari 64,73% menjadi 83,67%.
Peningkatan tersebut membuktikan bahwa fermentasi mampu mengubah bahan yang sebelumnya kurang optimal menjadi sumber pakan dengan kualitas lebih baik. Nutrien yang terkandung di dalamnya menjadi lebih mudah dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan ikan.
Pemanfaatan alligator weed sebagai bahan pakan juga memberikan nilai tambah dari sisi lingkungan. Tanaman yang sebelumnya menjadi permasalahan ekosistem dapat dikendalikan sekaligus dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Inovasi ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mengubah sumber daya kurang termanfaatkan menjadi produk baru yang bermanfaat. Jika dikembangkan lebih lanjut, alligator weed hasil fermentasi berpotensi menjadi salah satu alternatif bahan pakan ikan yang mendukung akuakultur berkelanjutan.
