Kediaman Jabat Menjulu di Desa Menggala, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, beberapa kali kedatangan tamu tak biasa. Rombongan turis dari Inggris dan Prancis sengaja datang untuk mencari kakao berkualitas. Saat Jabat menyuguhkan biji kakao kering siap olah, mereka langsung takjub melihat ukurannya yang besar dan terlihat penuh. Bahkan, beberapa turis sibuk memotret biji kakao dari kebun tersebut. Salah seorang turis sempat mencicipi biji kakao dan memberi respons spontan dengan anggukan dan acungan jempol.
Minat serupa juga datang dari wisatawan Amerika Serikat, Malaysia, hingga Filipina. Bahkan eksportir yang menanyakan kapasitas pasokan. Namun Jabat belum bisa memenuhinya. “Saya jujur bilang, produksinya belum sebanyak kebutuhan mereka. Mungkin 2—3 tahun lagi baru siap,” ujar Jabat. Varietas andalannya bernama ijo kajuman, berciri buah jumbo dan sangat efisien. Untuk menghasilkan 1 kg biji kakao kering, hanya dibutuhkan 8—10 buah, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan varietas biasa.
Varietas itu merupakan hasil seleksi Jabat dari kebun orangtuanya. “Ketika dibandingkan dengan yang lain, ukuran dan bobotnya jauh berbeda,” ujar guru SMP itu. Pohon induknya berasal dari bibit Banpres tahun 1988 dan hingga kini tetap produktif. Selain ijo kajuman, Jabat juga mengembangkan beneng jomot yang lebih tahan hama.
Keunggulan kakao lokal ini menarik perhatian pemerintah daerah. “Tahun depan kita akan daftarkan varietas kakao lokal baru ini dan menjadikannya sebagai kebanggaan daerah sekaligus membuka jalan ekspor bagi petani,” kata Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Samsuri. Ingin tahu kisah lengkap seleksi varietas, produktivitas, hingga peluang ekspor kakao jumbo dari Lombok Utara? Baca artikel selengkapnya di sini: htps://majalah.trubus.id/emagazine/rahasia-bugar-saat-puasa/
