Monday, February 16, 2026

Kolaborasi Global Lindungi Produksi Pisang Dunia, BRIN Resmikan BIND Center

Rekomendasi
- Advertisement -

Upaya melindungi produksi pisang dunia kini makin diperkuat lewat kolaborasi internasional. Para peneliti dan mitra global berkumpul dalam Pertemuan Tahunan Kedua Program Riset Pemuliaan Pisang bertajuk “Collection, Characterization and Pre-breeding Wild Bananas” untuk periode lima tahun. Forum ini menegaskan kembali komitmen bersama dalam menanggulangi hama dan penyakit pada salah satu komoditas pangan terpenting di dunia.

Pisang merupakan komoditas pangan utama dunia dan menjadi makanan pokok bagi jutaan penduduk termasuk Indonesia dan sejumlah negara di Afrika. Perannya tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga penopang ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat pedesaan.

Tantangan Ketahanan Pangan

Namun di balik perannya yang strategis, produksi pisang sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Dampaknya bisa serius terhadap gizi, pendapatan petani, hingga stabilitas sosial.

Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ratih Asmana Ningrum, menjelaskan ancaman terbesar terhadap produksi pisang antara lain penyakit layu Panama akibat jamur tanah Fusarium oxysporum f. sp. cubense serta Banana Bunchy Top (BBTV) yang disebabkan virus dan disebarkan serangga.

Patogen tular tanah fusarium sangat sulit dikendalikan karena mampu bertahan lama di dalam tanah. Metode konvensional tak lagi memadai. Sementara penyebaran virus oleh serangga juga sukar dikendalikan. “Oleh karena itu, pemuliaan varietas pisang yang tahan hama dan penyakit menjadi solusi paling berkelanjutan dalam jangka panjang,” kata Ratih.

Andalkan Pisang Liar sebagai Sumber Genetik

Pemuliaan pisang bukan perkara mudah. Sebagian besar pisang konsumsi bersifat steril dan polyploid sehingga metode pemuliaan konvensional menjadi terbatas. Kondisi ini menuntut pendekatan inovatif yang memadukan bioteknologi dengan pemanfaatan sumber daya genetik pisang liar.

“Dan kita, di Indonesia, diberkahi keragaman pisang liar yang sangat tinggi. Pisang liar tersebut diduga menjadi nenek moyang dari pisang budi daya,” ujar Ratih.

Oleh karena itu, inti proyek ini adalah mengoleksi pisang liar, mempelajari sifat ketahanan, dan karakter penting lainnya untuk budi daya. “Selanjutnya, menggunakan plasma nutfah pisang liar yang telah diketahui sifat-sifatnya untuk membentuk genotipe unggul tahan fusarium dan BBTV, selain sebagai dasar pengembangan varietas unggul lain dengan sifat target lainnya,” urai Ratih.

Genotipe unggul yang dihasilkan akan menjadi induk persilangan untuk merakit varietas pisang sesuai kebutuhan. Genotipe tersebut dapat dimanfaatkan oleh mitra seperti International Institute for Tropical Agriculture yang menyebarkan ke petani dan pemulia di Afrika, serta oleh BRIN bersama kementerian terkait untuk kawasan Asia Tenggara.

“Dalam penelitian tersebut, digunakan berbagai teknik dari konvensional seperti penyerbukan, juga teknik-teknik modern seperti hibridisasi somatik, gene editing, juga teknik-teknik analisis modern genomik-genotyping, phenotyping, transkriptomik, metabolomik, dan intregrasi teknik tersebut,” tutur Ratih.

Didukung Mitra Global dan Nasional

Riset ini dipimpin oleh BRIN dengan dukungan pendanaan, fasilitas laboratorium, lahan penelitian, hingga skema mobilitas periset. Program ini juga didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI serta Bill & Melinda Gates Foundation yang memiliki misi meningkatkan kesejahteraan petani kecil di Afrika Timur, Asia, dan wilayah rentan lainnya.

Kolaborasi internasional melibatkan sejumlah institusi terkemuka seperti University of Queensland, Wageningen University & Research, Meise Botanic Gardens and the Alliance of Bioversity International & CIAT (Belgia), Institute of Experimental Botany (Ceko), serta IITA-Afrika.

Di dalam negeri, IPB University dan Universitas Padjadjaran menjadi mitra utama. Kolaborasi juga menggandeng sektor industri untuk membentuk jejaring akademia–industri–pemerintah sebagai platform inovasi pertanian aplikatif.

Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa program ini menjadi model kemitraan global untuk menjawab masalah global. “Di tingkat nasional, kami bangga memiliki BRIN sebagai mitra inti dalam proyek ini. BRIN menyatukan para peneliti dengan keahlian luas dalam biologi, genetika, dan pemuliaan pisang, serta pengetahuan mendalam tentang keanekaragaman pisang liar Indonesia,” kata Arif.

Ia menambahkan bahwa Indonesia diakui sebagai salah satu pusat asal dan keanekaragaman pisang dunia. “Spesies pisang liar kita—total 16 subspesies—mewakili cadangan genetik yang tak ternilai harganya yang dapat memberikan sifat resistensi dan potensi adaptasi untuk program pemuliaan di masa depan. Sumber daya genetik ini adalah fondasi dari upaya ilmiah kita,” tutur Arif.

Peresmian BIND Center, Pusat Kolaborasi Global Pisang

Dalam pertemuan tahunan ini juga diresmikan Banana Innovation, Network, Database (BIND) Center sebagai pusat kolaborasi global riset dan pengembangan pisang. Melalui eksplorasi, karakterisasi, dan pra-pemuliaan pisang liar serta jejaring global, luaran riset akan diintegrasikan dalam database INA-BAN sebagai dasar kebijakan pemuliaan pisang ke depan.

Program ini tak hanya berorientasi pada kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlindungan ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani kecil di berbagai belahan dunia.

“Melalui BIND Center, kami berharap dapat menciptakan program abadi yang berlanjut melampaui masa proyek ini. Program ini akan mendukung strategi pemuliaan jangka panjang, memperkuat kemitraan internasional, dan memosisikan Indonesia sebagai kontributor utama penelitian pisang global,” ujar Arif.

Artikel Terbaru

IPB Kembangkan Sorgum dan Gandum Tropika, Solusi Lahan Suboptimum untuk Ketahanan Pangan Nasional

Di tengah tekanan perubahan iklim, keterbatasan lahan produktif, dan pola konsumsi pangan yang makin bergantung pada tepung gandum impor,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img