Karbohidrat merupakan salah satu zat gizi makro selain protein dan lemak. Fungsinya sangat vital sebagai sumber energi bagi tubuh, termasuk otak dan sel saraf. Di dalam tubuh, karbohidrat dipecah oleh enzim amilase menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti glukosa, lalu dimanfaatkan sel untuk menghasilkan energi.
Sayangnya, sumber karbohidrat masyarakat Indonesia masih sangat bergantung pada beras. Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu negara dengan konsumsi beras terbesar di dunia yakni mencapai 139 kg per kapita per tahun. Bandingkan dengan Thailand yang hanya 65 kg per kapita per tahun dan Malaysia sekitar 70 kg/kapita/tahun.
Padahal, Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat alternatif. Misal singkong, sorgum, jagung, sagu, dan ubi yang tersebar luas di berbagai daerah. Dari semua itu, sagu termasuk yang paling produktif sebagai penghasil pati.
Produktivitas Sagu Tertinggi
Sagu yang termasuk tanaman anggota famili Arecaceae rata-rata mampu menghasilkan 250 kg pati kering per batang per tahun. Jika dalam satu hektare terdapat 100 batang yang dipanen, produksi bisa mencapai 25 ton pati per hektare per tahun. Sementara singkong dan kentang hanya menghasilkan sekitar 15 ton pati kering/hektare/tahun.
Sebaran sagu di Indonesia pun sangat luas, dari Sabang hingga Merauke. Total luas hutan sagu nasional mencapai sekitar 1,4 juta hektare. Sebagai perbandingan, luas hutan sagu dunia sekitar 2,47 juta hektare. Artinya, lebih dari separuh potensi sagu dunia berada di Indonesia.
Kebutuhan karbohidrat seluruh rakyat Indonesia diperkirakan mencapai 30 juta ton per tahun. Adapun potensi produksi hutan sagu di tanah air dapat mencapai 35 juta ton per tahun. Dengan kata lain, produksi sagu sebenarnya mampu mencukupi kebutuhan karbohidrat nasional.
Tak heran jika pati sagu dinilai berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Terlebih lagi, setiap tahun sekitar 5 juta ton sagu hilang di hutan karena tidak dimanfaatkan secara optimal.
Pangan Lokal Bernilai Gizi
Pemanfaatan sagu sebagai sumber karbohidrat sebenarnya bukan hal baru. Di sejumlah wilayah Indonesia Timur seperti Maluku dan Papua, sagu telah lama menjadi makanan pokok. Papeda, misalnya, merupakan makanan khas Maluku berbahan dasar sagu yang masih dikonsumsi hingga kini.
Masyarakat yang mengonsumsi sagu pun tidak serta-merta kekurangan gizi. Konsumsi sagu umumnya disertai lauk pauk seperti sayuran, ikan, atau daging yang kaya zat gizi. Dengan pola makan seperti itu, kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi secara seimbang.
Melihat potensi produksi yang besar, sebaran yang luas, serta nilai gizinya, sagu sejatinya dapat menjadi solusi diversifikasi pangan. Ketergantungan pada beras pun bisa perlahan dikurangi dengan mengoptimalkan sumber karbohidrat lokal yang melimpah di negeri sendiri.
