Tuesday, January 13, 2026

Cuan dari Sayur Nir Tanah

Rekomendasi
- Advertisement -

Permintaan sayuran hidroponik terus meningkat seiring kesadaran konsumen akan pangan sehat. Hal itu dirasakan M. Mutholibul Wafa, pekebun muda di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Jawa Barat.

Setiap bulan, kebun hidroponik yang ia kelola dengan jenama BSI Farm memasok lebih dari 1 ton sayuran segar ke restoran, startup kuliner, agen, hingga konsumen akhir. Bahkan, pasokan tersebut masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar.

Wafa memanen 1—1,5 ton beragam sayuran hidroponik seperti caisim, lororosa, green oakleaf, romaine, dan selada keriting hijau. Sayuran nir tanah itu dipasarkan dengan harga Rp16.000—Rp25.000 per kg. Dari penjualan tersebut, omzet yang dikantongi Wafa berkisar Rp20—Rp30 juta per bulan.

Kebun hidroponik BSI Farm berdiri di lahan seluas 1.300 m² yang terbagi menjadi dua area. Kebun pertama seluas 500 m² berupa greenhouse, sedangkan kebun kedua seluas 800 m² terdiri atas greenhouse dan area terbuka. Total terdapat 50.000 lubang tanam yang tersusun pada 34 meja produksi.

Dalam budi daya, Wafa menerapkan sistem Nutrient Film Technique (NFT). Menurutnya, metode ini cocok untuk skala produksi karena memudahkan proses tanam, perawatan, pembersihan, hingga panen. “NFT efisien untuk produksi rutin dan volume besar,” ujar pria berusia 27 tahun itu.

Sayuran hidroponik BSI Farm dipanen sesuai umur panen masing-masing. Kangkung dipanen pada umur 18—23 hari setelah semai (hss), sawi-sawian 30—35 hss, dan selada 35—40 hss. Saat panen, Wafa melakukan sortir ketat untuk memenuhi standar konsumen yang menghendaki sayur berwarna pekat, minim lubang, bebas jamur dan busuk akar, serta tidak mengalami bolting.

Untuk menjaga kontinuitas pasokan, Wafa mengatur jadwal semai dan panen secara bergilir. Dari total 50.000 lubang tanam, produksi diputar setiap 30 hari agar panen berlangsung berkelanjutan. Meski demikian, dalam beberapa bulan terakhir ia masih kekurangan pasokan sekitar 500—800 kg per bulan. Untuk menutup kekurangan itu, BSI Farm bermitra dengan tiga petani plasma yang wajib memenuhi standar kualitas yang sama.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img