Al Fiqie, S.E. mengekspor 2 kontainer pinang ke Bangladesh dengan total bobot 36 ton senilai US$76.320 atau Rp1,3 miliar pada 2025. Ia mengekspor komoditas itu dari Pelabuhan Talang Duku, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Al Fiqie memilih daerah itu karena bekerja sama dengan para kelompok tani di sana untuk memperoleh pasokan pinang. Ia juga memfasilitasi pelatihan untuk petani dengan menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB). “Saya berharap ekspor pinang itu bisa berdampak pada peningkatan pendapatan petani dan penciptaan lapangan kerja baru,” kata pria asal Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, itu.
Ekspor pinang itu merupakan bagian dari program One Village One CEO (OVOC) yang digagas IPB. Program itu didesain untuk memfasilitasi mahasiswa atau lulusan baru IPB yang berniat untuk menjadi social entrepreneur di bidang pertanian. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan dampak positif pada pembentukan ekosistem bisnis di pedesaan. Selain itu berdampak pula pada peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja di desa. Sebelumnya Al Fiqie juga mengekspor 1 kontainer keripik sehat ke beberapa negara seperti Singapura, Tiongkok, Uni Emirat Arab (UEA), dan Amerika Serikat.
Banyak produk
Ia mendapatkan pasokan keripik sayuran dan buah-buahan bekerja sama dengan beberapa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Malang, Provinsi Jawa Timur. “Sudah ada 15 varian keripik yang sudah kami ekspor,” kata direktur PT Export Tani Nusantara itu. Kali ini Al Fiqie mengikuti program Startup School yang digelar IPB. Program itu bertujuan mendukung dan mengembangkan kewirausahaan mahasiswa.
IPB memberikan fasilitas, akses, serta menghubungkan ke berbagai pihak seperti investor dan mentor bisnis dan pendampingan yang intens. Al Fiqie juga pernah mengekspor bubuk kakao ke Pakistan dan aneka produk boga bahari (sea food) seperti cumi-cumi, sotong, dan gurita ke Australia. Ia juga mengekspor kopi ke Qatar dan Korea Selatan. Untuk pasokan kopi, ia bekerja sama dengan para petani di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, dan Flores (Nusa Tenggara Timur).
Al Fiqie tak menyangka bisa sesukses seperti sekarang. Maklum, ia memulai ekspor sejak saat masih kuliah. Ia berminat ke dunia agribisnis sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada saat itu di daerah Al Fiqie terdapat permasalahan yang menimpa petani yaitu kesulitan mendapatkan akses pasar dan panjangnya rantai distribusi pemasaran. Pada beberapa komoditas juga terjadi kelebihan pasokan (over supply) sehingga nilai produk tidak ada lantaran harga anjlok.
Tidak heran pada waktu itu banyak petani yang membuang komoditas mereka ke jalanan dan ke sungai-sungai. Mereka kebingungan memasarkan. “Sungguh sangat miris. Mereka merasa buat apa melanjutkan bertani bila tidak ada nilainya,” ujar Al Fiqie. Sementara waktu itu ia belum mengetahui tentang agribisnis untuk mengatasi permasalahan itu. Sejak itulah ia akhirnya memutuskan untuk kuliah di IPB jurusan agribisnis dan ternyata diterima. Pihak keluarga mendukung karena latar belakang keluarga bergerak dalam bidang pertanian dan perkebunan.
Berbekal dukungan itu, ia merasa pada saat kuliah sudah siap untuk mengeksplorasi dunia agribisnis. Misal cara membangun sebuah bisnis dan memaksimalkan hasil dan pasar komoditas di berbagai daerah agar bisa berdampak bagi orang-orang sekitar. Pada 28 Oktober 2022, Al Fiqie mendirikan PT Export Tani Nusantara bersama 4 orang rekan lainnya yaitu Muhammad Syihabuddin Balya, Rizvan Adrian Kurniawan, M. Fadhillah Hendri, dan Siril Fuad.
Atasi tantangan
Mereka merupakan mahasiswa Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB lintas angkatan. Seiring perjalanan waktu dan kebutuhan, terjadi penyesuaian dan penambahan tim. “Sekarang kami beranggotakan 7 orang,” kata Al Fiqie. Ia dan tim selalu mengadakan riset terhadap kebutuhan-kebutuhan pasar di luar negeri yang mempunyai ketergantungan terhadap komoditas yang ada di Indonesia. Ia mempunyai alat khusus untuk melihat pasar yaitu melaui situs bernama Trademap.
Melalui situs itu ia bisa melihat komoditas yang memiliki trade balance negatif paling besar. Itu tandanya permintaan dari negara-negara yang mungkin sangat membutuhkan pasokan dari Indonesia. Dari data itu lalu disesuaikan dengan kemampuan tim. Transaksi terjadi bila tim mampu memenuhi permintaan pembeli. Begitu seterusnya. “Saat ini kami mencoba hadir untuk menyelesaikan permasalahan pasar dengan cara menghubungkan petani, nelayan, dan UMKM ke pasar internasional. Sekarang kami tahu besarnya permintaan pasar berbagai produk Indonesia di pasar global,” tutur Al Fiqie.
Kesuksesan Al Fiqie saat ini tidak begitu saja diraih. Usahanya sempat gagal di tahun pertama. Pernah juga terjadi ada calon pembeli dari Tiongkok yang meminta untuk dicarikan kepiting bakau dengan harga yang menggiurkan dan uangnya langsung ditransfer seluruhnya. Bukannya senang mendapat uang, tapi malah membuat Al Fiqie tak tenang. Ia harus mencari para pemasok kepiting bakau sesuai yang disyaratkan.
Pinang salah satu komoditas yang rutin dikirim oleh PT Export Tani Nusantara.
Foto: Dok. Al Fiqie
Ternyata mencari pemasok hewan bergenus Scylla itu tak semudah membalikkan tangan. Ia pun menyerah. Pehobi mendaki gunung itu akhirnya mengembalikan uang pembayaran. Namun, ternyata ada perbedaan kurs mata uang asing saat pembayaran dan pengembalian. Apalagi nilai tukar rupiah terhadap renminbi (RMB) sangat fluktuatif sehingga harus merugi.
Hal itu harus ia tempuh sebagai bukti tanggung jawab kepada pembeli asal Tiongkok karena gagal memenuhi permintaan. Dengan pengalaman pahit seperti itu bukan berarti menjadi enggan untuk berkembang. Al Fiqie bahkan mempunyai target jangka panjang. “Target kami 2—3 tahun mendatang menjadi perusahaan holding bernama Nusantara Trading Company,” ujar pria berumur 24 tahun itu.
Rencananya perusahaan itu ada yang mengurusi bidang pertanian, perikanan, dan beberapa produk turunan lainnya. Perusahaan itu juga nantinya tidak hanya bergerak di hilir, tapi juga bagian hulu. “Kami juga akan memperbanyak binaan-binaan di daerah-daerah yang produknya berpotensi bisa diekspor dan memperluas akses pasarnya melalui beberapa perwakilan-perwakilan dagang yang ada,” kata pria peraih penghargaan Mahasiswa Best Practice dari IPB pada 2025 itu.
Foto: Dok. Al Fiqie
