Trubus.id— Cacing hati menjadi salah satu parasit yang merugikan peternakan sapi. Infeksi Fasciola sp. atau fasciolosis dapat mengganggu kesehatan dan produktivitas ternak hingga menyebabkan organ hati sapi diafkir saat pemeriksaan pascapemotongan. Parasit tersebut juga bersifat zoonotik dan dapat menginfeksi manusia melalui konsumsi pangan atau paparan lingkungan yang terkontaminasi metaserkaria.
Menghadapi masalah itu, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan penelitian pemanfaatan ekstrak biji pepaya (Carica papaya L.) dan carica (Vasconcellea pubescens) sebagai kandidat agen ovisidal untuk menghambat perkembangan telur Fasciola sp. Penelitian tersebut dilakukan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 bernama FASCIORICA di bawah bimbingan dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Dr. drh. Vika Ichsania Ninditya.
Ketua Tim FASCIORICA, Nabila Hanifa Putri, mengatakan biji pepaya dan carica dipilih karena selama ini relatif kurang dimanfaatkan, padahal mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan pengendali parasit. Selain itu, kedua bahan tersebut tersedia sebagai hasil samping pengolahan buah.
“Kami ingin melihat apakah bahan yang selama ini dianggap sebagai sisa pengolahan buah dapat memiliki nilai tambah dalam pengendalian parasit,” ujar Nabila dalam keterangan yang dikirim pada Rabu (16/9).
Penelitian itu berangkat dari tingginya kasus fasciolosis pada sapi. Penelitian sebelumnya di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencatat prevalensi fasciolosis pada sapi mencapai 47,2%. Sementara itu, pengendalian parasit pada ternak masih banyak mengandalkan obat antiparasit sintetis yang penggunaannya menghadapi tantangan, antara lain potensi resistensi dan perbedaan efektivitas terhadap stadium parasit.
Dalam penelitian tersebut, tim memperoleh biji pepaya dari sisa pengolahan buah di Sleman dan biji carica dari Wonosobo. Kedua bahan kemudian diekstrak dan diuji terhadap telur Fasciola sp. dengan beberapa perlakuan, yaitu ekstrak biji pepaya, ekstrak biji carica, serta kombinasi keduanya dalam sejumlah konsentrasi.
Telur yang telah diberi perlakuan kemudian diinkubasi dan diamati menggunakan mikroskop. Tim membandingkan perkembangan telur pada setiap perlakuan untuk melihat kemampuan ekstrak dalam menghambat perkembangan dan menurunkan viabilitas telur Fasciola sp..
Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan ekstrak menyebabkan perubahan morfologi telur, antara lain perubahan bentuk, kerusakan atau terbukanya dinding telur, serta keluarnya isi telur. Setelah 48 jam, mortalitas telur pada perlakuan kombinasi ekstrak biji pepaya dan carica mencapai sekitar 50–65%.
Analisis menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarkelompok perlakuan dengan nilai p<0,05. Pada pengamatan 24 jam, ekstrak carica menunjukkan efek ovisidal lebih cepat dibandingkan ekstrak pepaya. Sementara itu, kombinasi kedua ekstrak menunjukkan potensi aktivitas ovisidal terhadap telur Fasciola gigantica.
Menurut Nabila, penelitian tersebut membuka peluang pemanfaatan hasil samping pengolahan buah menjadi bahan bernilai tambah untuk pengendalian parasit. Namun, hasil penelitian ini masih berada pada tahap eksplorasi kandidat agen ovisidal sehingga diperlukan pengembangan dan pengujian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan sebagai pengendali fasciolosis pada ternak.
Tim berharap pemanfaatan bahan alam tersebut dapat terus dikembangkan sebagai salah satu alternatif dalam pengendalian parasit sekaligus meningkatkan nilai guna biji buah yang selama ini menjadi hasil samping pengolahan.
