Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia. Pulau Dewata juga menjadi sentra penghasil kakao dan kopi. Nama kopi arabika Kintamani serta kakao specialty sudah lama melekat sebagai komoditas andalan daerah ini.
Untuk mendukung pengembangan perkebunan tersebut, kini hadir Benih Center Kopi dan Kakao yang menjadi salah satu yang terbesar di Bali. Lokasinya berada di Kabupaten Jembrana, tepatnya di Candi Kusuma, Kecamatan Melaya.
Kembangkan Perbenihan di Lahan 9 Hektar
Founder CV Indonesia Hijau, Agus Nirmala, mengembangkan usaha perbenihan di atas lahan seluas 9 hektare (ha). Rinciannya, 2 ha untuk pembibitan kopi dan 7 ha untuk pembibitan kakao.
“Saat ini kami tengah menangkarkan kopi atau sekitar 800 ribu jenis kopi robusta (Hibrido 1) dan kakao sebanyak 2,5 juta dengan jenis ICCRI 06, ICCRI 08, dan kakao sambungan dengan klon MCC 02, S1 dan S2”, jelas Agus.

Upaya ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketersediaan benih unggul kopi dan kakao di Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.
Keunggulan Varietas Kopi dan Kakao
Varietas kopi robusta Hibrido 1 memiliki keunggulan produktivitas tinggi, mencapai 2,8 ton per tahun. Selain itu, cita rasanya disebut lebih superior dibandingkan jenis robusta lainnya.
Sementara klon kakao MCC 02 tergolong sangat genjah. Tanaman mulai berbuah dalam 18—24 bulan setelah sambung. Produksinya dapat mencapai 3,5 ton biji kering per ha per tahun. Ukuran bijinya pun besar, lebih dari 1,2 gram per biji, serta memiliki ketahanan terhadap VSD.
Adapun klon S1 (Sulawesi 1) dan S2 (Sulawesi 2) mulai berproduksi pada umur 2 tahun. Potensi hasilnya hingga 2,5 ton per ha per tahun dan juga tahan terhadap VSD.
Untuk kakao asal biji varietas ICCRI 06 dan ICCRI 08, potensi produksi dapat mencapai 2 ton per ha per tahun. Tanaman mulai panen pada tahun kedua, memiliki ketahanan sangat moderat terhadap penyakit busuk buah (Phytophthora sp.), serta perakaran tunggang yang sangat dalam sehingga lebih tahan kekeringan.
Berpengalaman Lebih dari Satu Dekade
Penangkar yang fokus pada tanaman perkebunan ini memulai usaha penangkaran sejak 2010. Pengembangan pembibitan dalam jumlah besar di Bali dilakukan sejak 2025.
Selama lebih dari satu dekade, Agus telah menyuplai benih kopi ke Buleleng, Tabanan, dan Badung. Sementara untuk wilayah Jembrana, pasokan kopi sebelumnya berasal dari pembibitannya di Jember.
Keberadaan Benih Center Kopi dan Kakao di Bali ini diharapkan dapat membantu pengembangan perkebunan kopi dan kakao, baik milik rakyat maupun swasta. Selain itu, pusat benih ini juga mendorong introduksi varietas unggul kepada masyarakat, sehingga produktivitas dan mutu hasil perkebunan di Bali terus meningkat.
