Trubus.id — Bayer Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung program swasembada pangan nasional melalui partisipasi pada Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang berlangsung di Kabupaten Gorontalo, 20–25 Juni 2026.
Dalam ajang tersebut, Bayer memperkenalkan berbagai inovasi teknologi pertanian, mulai dari benih jagung hibrida unggul hingga teknologi bioteknologi terbaru yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Bayer menampilkan sejumlah varietas jagung hibrida DEKALB yang telah dikenal luas di kalangan petani, yakni DEKALB DK09C Super Gaul, DK19C Cantik, dan DK79C Kuat. Ketiga varietas itu dikembangkan untuk mendukung produktivitas tinggi serta memiliki toleransi terhadap sejumlah penyakit penting pada tanaman jagung.
Selain itu, Bayer juga memperkenalkan dua varietas jagung bioteknologi terbaru, yaitu DEKALB DK19S Cantik Pro dan DK09S Super Gaul Pro. Kedua varietas tersebut dijadwalkan mulai tersedia secara komersial pada 2027.
Pengenalan inovasi tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan produksi jagung nasional. Pada 2026, produksi jagung ditargetkan mencapai 18 juta ton pipilan kering. Sementara itu, dalam roadmap ketahanan pangan nasional, produksi jagung ditargetkan meningkat menjadi sekitar 25,89 juta ton menjelang 2029 sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian pangan dan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, mengatakan inovasi teknologi pertanian menjadi momentum strategis untuk meningkatkan kapasitas petani sekaligus memperkuat posisi Gorontalo sebagai salah satu lumbung jagung nasional.
“Gorontalo merupakan salah satu daerah penghasil dan pemasok utama jagung di Indonesia. Produktivitasnya terus meningkat untuk mendukung ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Presiden Direktur Bayer Indonesia, Yuchen Li, menegaskan bahwa pengembangan teknologi pertanian merupakan respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi petani saat ini.
“Fokus kami adalah mendukung produktivitas dan kesejahteraan petani melalui solusi yang berkelanjutan. Kami berkomitmen menyediakan akses terhadap teknologi mutakhir agar petani siap menghadapi tantangan pertanian, baik saat ini maupun di masa depan,” kata Yuchen.
Commercial Unit Lead East Area Bayer Crop Science Indonesia, Wahyu Dwi Setiawan, menjelaskan bahwa benih jagung hibrida DEKALB telah terbukti memiliki performa stabil dan daya adaptasi tinggi berkat dukungan riset yang berkelanjutan.
Menurut Wahyu, varietas DEKALB DK09C Super Gaul, DK19C Cantik, dan DK79C Kuat memiliki toleransi terhadap penyakit bulai dan busuk batang. Khusus DK79C Kuat, varietas tersebut memiliki rendemen hingga 82%, batang kokoh tahan rebah, serta umur panen sekitar 100 hari sehingga memudahkan petani dalam mengatur pola tanam.
Wahyu menambahkan, DEKALB DK19S Cantik Pro dan DK09S Super Gaul Pro hadir sebagai solusi terhadap serangan sejumlah hama utama jagung, seperti fall armyworm (FAW) atau ulat grayak, penggerek batang, penggerek batang Asia, dan ulat tongkol.
Serangan FAW menjadi perhatian serius karena daya sebar hama tersebut sangat cepat. Hama yang pertama kali terdeteksi di Indonesia pada 2019 itu dilaporkan mampu menurunkan hasil panen hingga 20—50%. Dalam kondisi tertentu, serangan berat bahkan berpotensi menyebabkan gagal panen.
Bayer berharap adopsi benih jagung bioteknologi dapat menjadi salah satu langkah mitigasi untuk membantu mengamankan target produksi jagung nasional di masa mendatang.
Pada PENAS XVII, Bayer juga menggelar Gelar Teknologi Jagung yang menampilkan performa benih DEKALB di lapangan. Melalui kombinasi penggunaan benih unggul dan penerapan teknik budidaya yang tepat, perusahaan berupaya meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi petani.
Selama penyelenggaraan PENAS, Bayer menghadirkan anjungan khusus yang memuat informasi mengenai inovasi benih, solusi perlindungan tanaman, serta layanan agronomis digital. Perusahaan juga menyiapkan lahan demplot sebagai sarana demonstrasi budidaya jagung yang optimal.
Melalui kegiatan tersebut, Bayer memberikan pendampingan langsung kepada sekitar 500 petani. Program itu menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mempercepat adopsi teknologi pertanian modern oleh petani skala kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi jagung nasional.
