Pupuk Silika Dongkrak Produktivitas Bawang Merah TSS hingga 70 Persen

Rekomendasi

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa aplikasi pupuk berbasis silika (Si) mampu meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas bawang merah yang berasal dari true shallot seed (TSS) secara signifikan.

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan bahwa kebutuhan bawang merah di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Namun, tantangan utama di lapangan adalah masih tingginya ketergantungan petani pada umbi sebagai bahan tanam.

Menurutnya, penggunaan TSS atau benih botani menawarkan sejumlah keunggulan dibandingkan umbi. TSS membutuhkan jumlah benih lebih sedikit, lebih mudah didistribusikan, memiliki daya simpan lebih lama, serta berpotensi menghasilkan produktivitas lebih tinggi.

Meski demikian, pemanfaatan TSS di tingkat petani masih belum optimal. Hal ini disebabkan pertumbuhan tanaman yang sangat dipengaruhi teknik budidaya, sehingga hasil panen belum konsisten.

Arlyna menjelaskan, penelitian BRIN dilakukan dengan menguji tiga varietas bawang merah TSS, yaitu Sanren, Lokananta, dan Merdeka. Masing-masing varietas diberi perlakuan pupuk silika dengan dosis 0, 5, dan 10 mL per liter untuk melihat pengaruhnya terhadap penyerapan silika, struktur daun, pertumbuhan tanaman, kandungan unsur hara, hingga produktivitas panen.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Sanren memberikan respons terbaik terhadap aplikasi silika. Pada dosis 10 mL per liter, kandungan silika pada daun meningkat hingga 5,39 persen, disertai peningkatan ketebalan lapisan kutikula daun hingga sekitar 121 persen dibandingkan tanpa perlakuan.

“Kondisi ini membuat tanaman lebih kuat menghadapi serangan patogen sekaligus meningkatkan efisiensi fotosintesis,” jelas Arlyna.

Peningkatan kondisi fisiologis tersebut berdampak langsung pada produktivitas tanaman. Jumlah daun meningkat lebih dari dua kali lipat, jumlah anakan naik dari 3,38 menjadi 4,94 per tanaman, serta jumlah umbi bertambah dari 4,50 menjadi 7,38 umbi per tanaman. Diameter umbi juga meningkat dari 2,31 sentimeter menjadi 2,86 sentimeter.

“Secara keseluruhan, produktivitas varietas Sanren meningkat sekitar 30–70 persen dibandingkan tanaman tanpa aplikasi silika,” ungkapnya.

Peneliti PRTP BRIN lainnya, Kristamtini, menambahkan bahwa tingginya penyerapan silika juga berkaitan dengan penurunan kandungan logam berat seperti timbal (Pb), tembaga (Cu), dan kadmium (Cd) pada daun.

Temuan ini membuka peluang penggunaan pupuk silika tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperbaiki kualitas dan keamanan hasil pertanian. Namun demikian, penelitian lanjutan pada kandungan logam berat di umbi masih diperlukan.

Hasil riset juga menunjukkan bahwa keberhasilan budidaya bawang merah berbasis TSS sangat dipengaruhi oleh pemilihan varietas. Sanren terbukti paling responsif terhadap pupuk silika, sedangkan Merdeka menunjukkan respons sedang, dan Lokananta relatif kurang responsif.

Temuan ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi petani dalam memilih varietas dan menerapkan teknologi pemupukan yang tepat untuk meningkatkan produktivitas bawang merah. Selain itu, pemanfaatan TSS juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada benih umbi sehingga mendukung sistem budidaya yang lebih efisien, berkelanjutan, serta memperkuat ketahanan pasokan bawang merah nasional.

Penelitian ini merupakan kolaborasi BRIN, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, dan The University of Queensland. Hasilnya telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Chilean Journal of Agricultural Research melalui artikel berjudul Use of Si-based Fertilizer Significantly Improves the Performance of ‘Sanren’ Botanical Seed-derived Shallot.


Artikel Terbaru

UGM Kembangkan Ekosistem Kedelai Lokal Terintegrasi, Dorong Kemandirian Pangan Nasional

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat upaya pengembangan kedelai lokal melalui pendekatan ekosistem terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas...

More Articles Like This