Trubus.id — Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan Cultiva, sistem pertanian pintar (smart agriculture) berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dirancang untuk membantu petani mengurangi risiko gagal panen. Inovasi tersebut mengintegrasikan teknologi AI dan Internet of Things (IoT) untuk mendukung pengambilan keputusan pada setiap tahapan budidaya.
Tim pengembang Cultiva berasal dari Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR, yakni Anindya Wita Wisesa, Muhammad Yusran Yuris, dan Gaida Salsabila Arden.
Cultiva dikembangkan untuk mendukung pengambilan keputusan petani, meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, sekaligus berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan Tanpa Kelaparan (SDG 2) dan Konsumsi serta Produksi yang Bertanggung Jawab (SDG 12).
Ketua tim, Anindya Wita Wisesa, mengatakan inovasi tersebut berawal dari keprihatinan terhadap tingginya angka kegagalan panen di negara-negara tropis. Menurutnya, salah satu penyebabnya ialah masih terbatasnya informasi yang dimiliki petani mengenai kondisi lahan.
“Dari situlah kami berangkat dengan inovasi Cultiva berupa model prototipe dan aplikasi yang dapat membantu petani dengan solusi dari berbagai kebutuhan siklus pertanian. Siklus tersebut terdiri dari rekomendasi tanaman, penjadwalan irigasi, rekomendasi pupuk, penjadwalan pemantauan, dan prediksi panen,” ujarnya.
Anindya menjelaskan Cultiva memadukan model machine learning Random Forest untuk mengolah data tabular dengan Large Language Model (LLM) berbasis Retrieval-Augmented Generation (RAG). Sistem tersebut juga memanfaatkan teknologi AI multimodal yang mampu mengolah berbagai jenis data secara bersamaan.
Selain itu, Cultiva dilengkapi sensor Internet of Things (IoT) yang berfungsi memantau berbagai parameter lahan secara real time. Data yang diperoleh kemudian diolah menjadi rekomendasi sehingga petani dapat menentukan langkah budidaya yang lebih tepat sesuai kondisi lahan.
Selama proses pengembangan, tim menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari menyusun dan mengumpulkan dataset, melakukan scraping serta memilah berbagai artikel mengenai tanaman tropis sebagai sumber data. Mereka juga harus mencari media tanah untuk menguji prototipe agar sistem dapat bekerja secara optimal.
Anindya berharap Cultiva dapat terus disempurnakan sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak petani di negara-negara tropis. Menurutnya, penerapan teknologi AI dan IoT dalam sektor pertanian berpotensi meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus menekan risiko kegagalan panen.
Inovasi tersebut juga mengantarkan tim Cultiva meraih Gold Award pada ajang The 3rd Multidisciplinary Regional Conference in Science and Technology (MRCST) 2026 yang diselenggarakan di Akademia Siber Teknopolis (AST), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Malaysia.
