UGM Kembangkan Ekosistem Kedelai Lokal Terintegrasi, Dorong Kemandirian Pangan Nasional

Rekomendasi

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) terus memperkuat upaya pengembangan kedelai lokal melalui pendekatan ekosistem terintegrasi untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai.

Pengembangan tersebut dimulai melalui program Smart Agricultural Enterprise (SAE) Kedelai, yang menjadi fondasi pembangunan sistem perkedelaian dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan benih unggul, pendampingan petani, hingga penguatan rantai pasok.

Menurut Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., M.T., program ini telah menghasilkan benih kedelai yang memenuhi standar sertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kami memulainya secara bertahap melalui kelompok-kelompok penangkar benih. Berbagai uji coba kami lakukan hingga memperoleh kesimpulan bahwa produktivitas, kualitas, dan kandungan protein kedelai lokal dapat ditingkatkan,” ujar Atris.

Pengembangan kedelai lokal ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun sistem yang mampu memberikan kepastian usaha bagi petani. Menurutnya, tanpa kepastian pasar, petani cenderung enggan menanam kedelai meskipun varietas unggul tersedia.

“Tujuan kami adalah meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan nilai ekonomi kedelai lokal dengan membangun sebuah ekosistem yang utuh,” katanya.

Riset pengembangan kedelai ini telah dimulai sejak lebih dari satu dekade lalu, sekitar tahun 2012. Tantangan terbesar, menurut Atris, bukan hanya pada pengembangan varietas unggul, tetapi pada pembangunan sistem yang menghubungkan petani, industri, dan pasar secara berkelanjutan.

Tim UGM juga memperluas pendampingan petani di berbagai daerah seperti Grobogan, Bantul, Kulon Progo, Sukoharjo, dan Sragen. Pendampingan ini mencakup teknik budidaya, peningkatan kapasitas petani, hingga penguatan akses pasar melalui kemitraan dengan off-taker industri.

Pada 2026, kedelai dari petani binaan UGM bahkan telah berhasil memperoleh sertifikasi keamanan pangan bersama off-taker industri.

Off-taker tersebut dijalankan oleh CV Java Agro Prima, yang berperan menyerap hasil panen petani sekaligus memastikan produk memenuhi standar keamanan pangan.

Selain itu, pengembangan kedelai juga diarahkan menuju sistem pertanian modern berbasis teknologi. Tim peneliti mulai menerapkan Internet of Things (IoT) untuk memantau dan mengendalikan mutu benih secara real time, termasuk di wilayah pendampingan seperti Kabupaten Bantul, DIY.

Sebelumnya, banyak petani masih mengandalkan bantuan benih dan pupuk pemerintah serta menerapkan pola budidaya konvensional, sehingga nilai ekonomi kedelai belum optimal.

“Karena itu, alih-alih menggelontorkan dana terus menerus, kita harus benahi terlebih dahulu kapasitas petani, baik dari sisi pengetahuan dan keterampilan,” tegas Atris.

Menurutnya, pengembangan ekosistem kedelai ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, di mana hasil riset harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya petani.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian juga menunjukkan dukungan terhadap pengembangan kedelai lokal. Dalam pertemuan dengan tim UGM, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa varietas kedelai lokal UGM memiliki keunggulan karena bersifat non-GMO serta memiliki ukuran biji yang lebih besar dibandingkan kedelai impor.

Pemerintah berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih pada lahan seluas 1.000–2.000 hektare di Jawa Tengah, sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi pangan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor.

Dengan pendekatan ekosistem dari hulu ke hilir, pengembangan kedelai lokal ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan sistem agribisnis yang lebih modern, berkelanjutan, dan menguntungkan petani.


Artikel Terbaru

Pilihan Tanam Palawija Musim Kemarau

Musim kemarau menjadi tantangan besar bagi petani tanaman pangan di Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas produksi jagung dan palawija...

More Articles Like This