TRUBUS.ID – Limbah cangkang kerang dara berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan sapi perah. Bahan tersebut mengandung mineral kalsium yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas ransum dan mendukung produktivitas susu sapi.
Inovasi pakan fungsional berbahan serbuk cangkang kerang dara itu diperkenalkan oleh tim Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta (Unjaya) kepada Kelompok Peternak Boyong Sari Mulya di Kalurahan Hargobinangun, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Program tersebut dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan penerapan teknologi pakan fungsional multinutrien dengan suplementasi mineral berbasis serbuk cangkang kerang dara. Kegiatan itu juga melibatkan Pemerintah Kalurahan Hargobinangun.
Cangkang kerang dara (Tegillarca granosa atau Anadara granosa) merupakan bagian keras yang melindungi tubuh lunak kerang. Bahan tersebut mengandung kalsium karbonat (CaCO₃) dan kalsium oksida (CaO).
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. drh. Sarmin, mengatakan produktivitas susu sapi perah di kawasan lereng Merapi belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah manajemen pemberian pakan yang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan nutrisi harian ternak, terutama mineral yang berperan dalam metabolisme dan produksi susu.
Menurut Sarmin, pemanfaatan serbuk cangkang kerang dara sebagai suplementasi mineral diharapkan dapat meningkatkan kualitas ransum dan produktivitas susu sapi.
Selain memperkenalkan pakan fungsional, tim juga memberikan pendampingan mengenai penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP) atau tata cara budi daya sapi perah yang baik.
Pendampingan tersebut mencakup manajemen pemeliharaan, sanitasi kandang, kebersihan peralatan, hingga teknik pemerahan susu. Aspek-aspek itu penting untuk menjaga kualitas dan keamanan susu yang dihasilkan peternak.
Sarmin menjelaskan, teknik pemerahan yang benar tidak hanya bertujuan mengeluarkan susu, tetapi juga mengurangi risiko mastitis atau peradangan ambing, mencegah luka pada puting sapi, serta memastikan susu abnormal tidak tercampur dengan susu yang layak dikonsumsi.
Ketua Kelompok Peternak Boyong Sari Mulya, Wahyudi, mengapresiasi pendampingan tersebut. Menurutnya, kegiatan itu memberikan tambahan pengetahuan sekaligus solusi atas kendala teknis yang dihadapi peternak.
Ia berharap pendampingan berlanjut, terutama dalam pemantauan kesehatan ternak, peningkatan produksi, dan pengolahan susu sapi. Program serupa juga diharapkan menjangkau kelompok peternak lain di wilayah Sleman.
Ketua tim pelaksana dari Unjaya, Mitsalina Fildzah Arifah, mengatakan kegiatan tersebut terlaksana berkat dukungan pendanaan program Kosabangsa 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Melalui program itu, peternak di Hargobinangun diharapkan mampu memanfaatkan potensi bahan baku lokal untuk mendukung produksi susu yang aman dan berkualitas. Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pengembangan Hargobinangun sebagai kawasan Smart Agroedu-Tourism berkelanjutan.
