Friday, January 30, 2026

Agar Benar Berfaedah

Rekomendasi
- Advertisement -

 

Ia bersama rombongan dari Yayasan Kanker Indonesia tengah berada di Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bukan, mereka bukan hendak menikmati wisata petik buah di lokasi berjarak 40 km dari Jakarta itu. Mereka jauh-jauh datang dari Jakarta ke sana supaya bisa mengikuti demo pengolahan daun sirsak oleh seorang herbalis.

Harap mafhum, daun sirsak memang tengah marak dimanfaatkan untuk membantu penyembuhan pasien beragam jenis kanker. Mereka umumnya mengonsumsi dalam bentuk air rebusan daun Annona muricata segar. Masalahnya banyak yang tidak paham cara benar mengolahnya. Ya, seperti pria pembawa kuali tadi.

Tiga kali merebus daun sirsak, ia mendapati air rebusan berwarna hijau kusam. Usut punya usut, rupanya ia menggunakan kuali baru. Menurut Prof Dr Sumali Wiryowidagdo Apt, ahli farmasi dari Universitas Indonesia kuali tanah liat baru sebaiknya tidak langsung digunakan untuk merebus herbal. “Gunakan dulu untuk merebus air biasa hingga berkali-kali supaya kotoran yang menempel akibat proses pembakaran yang tidak terstandar hilang,” ujarnya. Pengalaman Zulkifli Syamsudin, staf di TWM, setelah 5 kali digunakan untuk merebus air, kuali siap dipakai.

Tahan panas

Para herbalis sepakat, proses perebusan herbal paling baik menggunakan panci stainless steel atau tembikar asal tanah liat. “Perebusan dengan alat rebus logam menyebabkan reaksi antara logam dengan zat terkandung di dalam herbal,” tutur dr Sidi Aritjahja, dokter dan herbalis di Yogyakarta. Akibatnya sebagian logam melarut ke dalam air rebusan.

Sebagai alternatif lain, Yellia Mangan, herbalis di Kalibata, Jakarta Selatan, menyarankan penggunaan wadah kaca tahan panas. “Wadah kaca tahan panas tidak mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan dan tidak mudah retak bila terkena panas berlebih,” paparnya. Pemanasnya dapat menggunakan hot plate – “kompor” dengan elemen panas elektrik atau gas.

Sumali menuturkan, berdasarkan standar farmasi terdapat 2 teknik perebusan: infundasi dan dekoktasi. Pada proses pertama simplisia direbus bersama air hingga mendidih, lalu lanjutkan pendidihan hingga 15 menit. Sementara dekoktasi, pendidihan diteruskan selama 30 – 60 menit. “Infundasi biasanya dipakai untuk perebusan simplisia lunak, seperti daun. Sementara dekoktasi untuk perebusan simplisia keras seperti umbi,” papar Sumali. Jumlah simplisia sebanyak 10% volume cairan.

Untuk konsumsi di rumah, proses perebusan boleh dengan cara seperti yang disarankan para herbalis. Didihkan air terlebih dulu menggunakan api besar hingga keluar buihnya. “Sebaiknya hindari penggunaan air PAM karena mengandung bahan kimia yang bersifat karsinogenik,” ujar Drs Med Ir D’Hiru MM, herbalis di Jakarta. Setelah itu kecilkan nyala api. Baru masukkan daun sirsak segar dan didihkan sekitar 5 menit. Jika menggunakan simplisia alias daun sirsak kering proses pendidihan bersama air menjadi 15 menit. Selama proses pendidihan wadah bisa dibuka dan ditutup. Dibuka supaya buih rebusan tidak tumpah, ditutup agar uap air yang diduga mengandung senyawa bermanfaat dari daun sirsak tidak terbuang.

Daun bekas rebusan sebaiknya tidak digunakan kembali. “Perebusan ulang bahan herbal menyebabkan zat toksik mulai terlarut dalam air rebusan,” kata Sidi dan D’Hiru sepakat. Air rebusan masih layak konsumsi 12 jam pascaproses. Setelahnya air mulai basi. Cirinya warna menjadi semakin pekat, berbau, dan rasa berubah menjadi agak asam. Konsumsi air rebusan basi menyebabkan diare, lagipula khasiat yang diharapkan didapat tidak tercapai.

Untuk memperpanjang umur simpan, Yellia menyarankan untuk menyimpan air rebusan di lemari pendingin dan dibekukan. Dengan cara itu air rebusan dapat disimpan hingga 2 minggu. Jika hendak meminumnya, tinggal keluarkan air beku dari kulkas lalu biarkan mencair dan siap dikonsumsi. Daun segar – juga dalam bentuk simplisia – bisa saja diolah dengan penyeduhan. Namun, para herbalis menyebut cara perebusan tetap lebih baik. Cara lain yang lebih praktis, konsumsi daun sirsak dalam bentuk kapsul ekstraksi.

Tidak berubah

Sayang kapsul ekstraksi daun sirsak masih sulit didapat karena belum banyak yang memproduksi. Oleh karenanya merebus daun sirsak menjadi pilihan pertama. Para herbalis menyarankan untuk menyimpan bahan baku dalam bentuk kering alias simplisia supaya tahan lama. Penyimpanan daun sirsak segar dalam jumlah banyak sulit karena dalam 3 – 5 hari daun mulai kehilangan kandungan airnya. Jika disimpan di dalam lemari pendingin memang bisa memperpanjang umur simpan daun segar.

Cuci bersih daun, lalu keringanginkan hingga tidak ada air, karena kehadiran air mempercepat proses kerusakan. Setelah itu masukkan ke dalam kulkas. Namun, 5 – 7 hari pascapenyimpanan di kulkas umumnya daun mulai layu dan kehilangan kandungan air. Khasiatnya pun mulai berkurang. Oleh karenanya daun sirsak dikeringkan. “Kandungan senyawa aktif pada simplisia sama dengan daun segar. Perbedaannya hanya karena simplisia kehilangan kadar airnya,” kata Sidi.

Simplisia dibuat dengan cara mengeringanginkan daun, mengoven, atau menjemur di bawah sinar matahari menggunakan filter. Filter dapat berupa atap plastik fiber berwarna hitam, abu-abu, atau cokelat. Atau gunakan jaring penaung seperti untuk budidaya tanaman hias dengan kerapatan 60 – 80%. Dalam proses pengeringan, daun dapat dicacah atau dibiarkan berbentuk utuh.

Jika dikeringanginkan dalam suhu kamar, daun sirsak harus sudah kering kurang dari 3 – 4 hari, maksimal 1 minggu. Artinya suhu ruangan cukup hangat dan kelembapan rendah. Sumali menuturkan proses pengeringanginan di dalam ruangan berpendingin yang berkelembapan rendah lebih baik karena lebih steril dan cepat. Sementara pengeringan dengan oven menggunakan suhu 40 – 60oC.

“Suhu terbaik untuk pengeringan simplisia daun 60oC,” papar Sumali yang menyebut itu sebagai standar pengeringan untuk seluruh jenis simplisia. Di atas angka itu enzim penting yang terdapat di dalam herbal rusak. Jika suhu terlalu rendah simplisia sulit kering. Oleh karenanya pengeringan dengan oven lebih disarankan. Pada pengeringan dengan cahaya matahari dikhawatirkan suhu melebihi 60oC.

Sebelum dioven, daun dicuci bersih, dikeringanginkan hingga separuh kering, baru dimasukkan ke dalam oven yang sudah disetel di suhu 60oC. Menurut Sumali lama pengeringan sangat tergantung bahan baku, maksimal 2 – 3 hari, hingga kadar air kurang dari 10%. Cirinya ketika diremas, simplisia langsung hancur menjadi remah. Simplisia lalu dikemas dalam wadah bersih, kering, kedap udara, dan diletakkan di tempat sejuk, tidak terkena matahari langsung.

Dengan seperti itu simplisia tahan simpan hingga 6 bulan. Untuk penyimpanan lebih lama mesti menggunakan bahan pengawet berupa kapur tohor atau silika yang dikemas dalam kasa sehingga tidak langsung kena simplisia. Namun, Sumali yang menjabat kepala pusat Studi Obat Bahan Alam Departemen Farmasi Fakultas MIPA Universitas Indonesia itu tidak merekomendasikan penyimpanan hingga setahun karena simplisia berisiko rusak. “Simplisia rusak biasanya memiliki warna lebih gelap, berbau tengik, dan jika diolah berubah rasanya,” kata D’Hiru. Selain itu kerap dijumpai bintik putih atau abu-abu tanda kontaminasi cendawan. Konsumsi rebusannya menyebabkan penjenuhan air seni yang mempermudah pembentukan kristal di ginjal.

Beri jeda

Meski terbukti membantu mengatasi kanker, sebaiknya pasien tidak mengonsumsi daun sirsak terus-menerus. Menurut Sidi dalam jangka panjang konsumsi daun sirsak menyebabkan penjenuhan air seni yang memicu pembentukan kristal di ginjal. Makanya asupan daun sirsak sebaiknya dipadukan dengan herbal yang bersifat diuretik alias peluruh kencing seperti adas, jinten, dan daun sembung.

Sidi menyarankan penderita kanker boleh mengonsumsi air rebusan daun graviola secara terus-menerus selama 4 – 6 bulan. Setelah itu beri jeda. Pada orang sehat sebaiknya mengonsumsi daun sirsak hanya 1 – 2 bulan saja. (Evy Syariefa/Peliput: Amadea Pranastiti, Desy Sayyidati Rahimah, & Susirani Kusumaputri)

 

Keterangan foto

  1. Herbal paling baik diolah dengan cara perebusan. Kuali berbahan tembikar, wadah terbaik untuk merebus herbal. Alternatif lain, panci stainless steel dan wadah kaca tahan panas
  2. Bahan herbal sebaiknya disimpan dalam bentuk simplisia karena tidak cepat rusak. Lagipula kandungan senyawa aktif pada simplisia sama dengan daun segar. Perbedaannya hanya karena simplisia kehilangan kadar airnya
  3. Daun bekas rebusan tidak boleh digunakan kembali. Perebusan ulang membuat kandungan zat toksik mulai terlarut dalam air rebusan

 

Rebus Daun Graviola

  1. Siapkan wadah merebus berupa kuali berbahan tanahliat, panci stainless steel, atau wadah kaca tahan panas
  2. Rebus air hingga mendidih menggunakan api besar hingga berbuih. Lalu kecilkan api
  3. Masukkan daun sirsak segar dan didihkan selama 5 menit dengan api kecil. Jika menggunakan simplisia pendidihan menjadi 15 menit. Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien
  4. Saring air rebusan dan minum untuk konsumsi selama sehari. Air rebusan masih layak konsumsi hingga 12 jam setelah perebusan. Konsumsi air rebusan basi menyebabkan diare

 

Tiga Cara Keringkan

  1. Dalam oven bersuhu 60oC selama 6 jam, atau paling lama 2 – 3 hari
  2. Keringanginkan dalam suhu kamar, paling baik dalam ruang berpendingin
  3. Jemur di bawah matahari tapi menggunakan filter berwarna hitam, abu-abu, atau cokelat

 

Tidak Bakar dan Jamur

Sidi Aritjahja, dokter dan herbalis di Yogyakarta menyarankan, selain mengonsumsi herbal berkhasiat antikanker, pasien kanker dan tumor juga mesti berpantang makanan. Makanan diolah dengan cara dibakar seperti satai, apem, dan pizza di antara yang harus dihindari. “Makanan yang dibakar mengandung zat karsinogenik – pemicu kanker, red,” tutur Sidi.

Selain itu pasien juga tidak mengonsumsi jamur dan makanan mengandung kapang seperti tempe, tapai, dan oncom. Jamur dan kapang merangsang proses angiogenesis alias pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan kanker dan tumor untuk memperbesar massanya.

Drs Med Ir D’Hiru, MM, herbalis di Jakarta, menambahkan pasien juga mesti menghindari makanan laut seperti kerang dan cumi, ikan darat seperti lele dan belut, jeroan berupa hati, usus, dan ampela, makanan berpengawet, penyedap rasa, merica, pemanis buatan, rokok dan minuman beralkohol, buah-buahan tertentu seperti nangka dan durian, serta sayuran seperti kol, kubis, kecambah, dan cabai. Pasien justru didorong untuk memperbanyak makanan mengandung antioksidan tinggi seperti jus buah-buahan dan sayuran. Layukan buah atau sayuran dengan merendam di air mendidih selama 5 menit. Lalu tiriskan dan buat menjadi jus. ***

Artikel Terbaru

Cara Mengatasi Philodendron Layu, Busuk Akar, dan Daun Menguning

Philodendron termasuk tanaman yang kuat. Meski beitu tanda seperti layu, busuk akar, atau daun menguning biasanya mengindikasikan gangguan fisiologis...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img