Wednesday, January 21, 2026

Tren Nangka Kian Naik, Adaptif dan Prospektif

Rekomendasi
- Advertisement -

Tren budidaya nangka di Indonesia menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pakar buah asal Bogor, Jawa Barat, Dr. Ir. M. Reza Tirtawinata, M.S., menilai kenaikan tren tersebut didorong oleh masuknya berbagai varietas introduksi dari luar negeri yang adaptif terhadap kondisi agroklimat Indonesia.

“Pada prinsipnya, nangka bisa tumbuh dengan baik di daerah tropis basah maupun kering. Daya adaptasinya luar biasa dibandingkan dengan buah-buahan lain,” ujar Reza. Bahkan tanpa pemeliharaan intensif, tanaman nangka tetap mampu berbuah. Apalagi jika dibudidayakan dengan menerapkan good agricultural practices (GAP), produktivitasnya dapat meningkat signifikan.

Selama ini, nangka di Indonesia umumnya masih tumbuh secara setengah liar dan jarang mendapatkan perlakuan pemupukan maupun pengendalian organisme pengganggu tanaman. Meski demikian, hasilnya dinilai cukup baik karena sebagian besar nangka dipanen dalam bentuk gori atau nangka muda untuk sayuran. Salah satu varietas introduksi yang cukup populer adalah nangka J33 asal Malaysia.

Menurut Reza, kualitas buah J33 masih berada di bawah nangka kandel lokal, namun dari sisi produktivitas dan penyebaran, J33 lebih unggul dan dikenal luas oleh masyarakat.

Peningkatan tren nangka juga dipicu oleh kebijakan penanaman massal. Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Heptari Elita Dewi, S.P., M.P., menyebutkan bahwa sejak 2024 telah dilakukan penanaman sekitar 2 juta pohon nangka di Sulawesi Selatan oleh pemerintah daerah setempat. Langkah tersebut turut mendorong minat masyarakat terhadap budidaya nangka secara lebih serius.

Pemanfaatan nangka pun semakin beragam. Selama ini nangka dikonsumsi sebagai buah segar maupun sayuran. Untuk buah segar, nangka banyak dimanfaatkan sebagai bahan konsumsi langsung, campuran es teler, bahan baku keripik, hingga produk nangka beku (frozen jackfruit). Sementara itu, nangka muda kerap diolah menjadi berbagai masakan tradisional seperti gudeg dan sayur nangka.

Menariknya, nangka juga mulai dilirik sebagai bahan pangan nabati pengganti daging. “Nangka bisa menjadi substitusi daging atau lauk pauk bagi vegetarian. Sekarang banyak orang menggemari pangan nabati karena lebih ramah lingkungan,” tutur Heptari.

Tren tersebut sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat global terhadap pola makan berkelanjutan.
Permintaan nangka, baik di pasar domestik maupun internasional, terus meningkat. Pada 2023, permintaan ekspor nangka ke Eropa dan Amerika tercatat naik sekitar 12 persen.

Peningkatan itu dipicu oleh tren diet vegan yang berkembang pesat di kawasan tersebut. Untuk memenuhi permintaan pasar, Heptari menekankan pentingnya peran petani dalam menjaga kesinambungan produksi. Petani perlu memastikan tanaman dapat berbuah sepanjang tahun melalui pemupukan yang tepat serta pengendalian hama dan penyakit yang baik.

Dari sisi rantai pasok, petani sebagai pemasok utama disarankan untuk membentuk konsolidasi atau kelompok tani. Dengan bergabung dalam kelembagaan yang kuat, petani akan lebih mudah mengakses pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor dan industri pengolahan nangka. Selain itu, konsolidasi memudahkan petani memperoleh informasi pasar, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Di pasar domestik, nangka masih digemari karena sesuai dengan preferensi konsumen Indonesia yang menyukai cita rasa manis, legit, renyah, dan beraroma harum. Namun, tantangan masih ada, terutama pada aspek pascapanen. Nangka segar memiliki tingkat keawetan yang rendah dan mudah mengalami pelunakan serta pembusukan. Oleh karena itu, diperlukan penanganan pascapanen yang tepat agar masa simpan lebih panjang dan nilai tambah produk meningkat.

“Potensi nangka masih sangat besar untuk dikembangkan. Yang paling prospektif karena nangka bisa menjadi substitusi daging atau lauk pauk,” pungkas Heptari.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img