Hidayat mula-mula dikenal sebagai pengusaha madu Aphis sp sebelum melirik peluang madu trigona pada 2020. Awalnya ia hanya menjual sekitar 10 kg per bulan dengan harga Rp350.000 per kg.
Seiring meningkatnya permintaan, Hidayat mulai berinovasi menggunakan mesin untuk menurunkan kadar air madu. Konsumen pun memiliki preferensi berbeda, ada yang menyukai madu encer dan ada yang memilih yang lebih kental.
Proses pengentalan membuat bobot madu menyusut dari 1 kg menjadi sekitar 800 gram sehingga harga jualnya lebih tinggi. Meski begitu, aroma madu hanya sedikit berkurang dan tidak terlalu signifikan.
Minat masyarakat terhadap budidaya trigona juga terus meningkat karena bisa dimulai dari lahan sempit sekitar 200 m². Syaratnya, lahan harus ditanami berbagai sumber nektar sebagai pakan lebah.
Hidayat kini menyiapkan pengembangan usaha di lahan 1,2 hektare di Jonggol, Kabupaten Bogor. Di lokasi itu telah ditanam 250 tanaman Xanthostemon serta tanaman lain seperti rambutan, alpukat, durian, mangga, dan pisang.
Ia menargetkan lahan tersebut dapat menampung sekitar 200 stup lebah trigona pada 2027—2028. Produksi diperkirakan mencapai 100 gram madu per stup per bulan.
Ke depan, kawasan itu akan dikembangkan sebagai pusat edukasi dan wisata lebah. Pengunjung dapat memanen madu, membuat minuman berbahan madu, hingga menikmati fasilitas glamping dan penginapan bernuansa alam.
