Usaha budi daya alpukat tidak harus dilakukan di lahan luas untuk menghasilkan keuntungan. Pengalaman Rahono, pekebun di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, menjadi bukti bahwa kebun berukuran relatif kecil pun mampu memberikan pendapatan yang menjanjikan.
Rahono mengebunkan 74 pohon alpukat miki di lahan seluas sekitar 2.000 m² dengan jarak tanam 6 m × 4,5 m. Dari populasi tersebut, ia mampu memanen sekitar 1,2 ton buah dalam satu musim panen yang berlangsung selama tujuh bulan. Mayoritas buah yang dipanen berbobot lebih dari 500 gram per buah.
Hasil panen dijual kepada perusahaan pemasok yang menerapkan sistem pembelian berdasarkan kelas mutu. Sebanyak 60% hasil panen masuk kategori kelas A dengan harga Rp25.000 per kg, sedangkan sisanya tergolong kelas B yang dihargai Rp18.000 per kg. Dari penjualan tersebut Rahono meraup pendapatan sekitar Rp26,6 juta.
Menurut Rahono, keuntungan itu cukup besar karena sebagian hasil penjualan digunakan untuk membiayai ibadah umrah. Selain itu, biaya operasional yang dikeluarkan relatif rendah. Ia juga tidak perlu repot memanen, mengangkut, maupun memasarkan hasil panen.
“Cukup memberi tahu perusahaan pemasok saat buah siap panen. Mereka datang langsung ke kebun untuk memetik buah dan mengangkutnya ke gudang pengemasan,” ujar Rahono.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa usaha alpukat dapat berjalan secara efisien meskipun dilakukan dalam skala terbatas. Adanya kemitraan pemasaran turut membantu pekebun dalam memastikan hasil panen terserap pasar.
Pekebun alpukat hass asal Kabupaten Malang, Jawa Timur, Dodi Jarwoko, juga melihat prospek cerah komoditas alpukat. Karena itu ia mendorong calon petani mitra menanam minimal 50 pohon alpukat hass.
Menurut Dodi, apabila setiap pohon menghasilkan rata-rata 100 kg buah per tahun, maka 50 pohon mampu memproduksi sekitar 5 ton alpukat per tahun. Dengan asumsi harga jual Rp20.000 per kg, omzet yang diperoleh mencapai Rp100 juta per tahun atau sekitar Rp8,3 juta per bulan.
“Dengan penghasilan sebanyak itu tidak perlu kerja lagi,” selorohnya.
Tingginya minat pekebun terhadap komoditas alpukat tercermin dari penyebaran bibit melalui jaringan mitra yang telah mencapai sekitar 10.000 bibit.
Analisis Usaha Alpukat
Analisis usaha berikut menggunakan asumsi kebun seluas 1 hektare dengan populasi 270 pohon berjarak tanam 6 m × 6 m. Tanaman mulai berbuah pada tahun keempat setelah tanam dan perhitungan usaha dilakukan hingga tahun ke-10. Harga jual alpukat di tingkat pekebun diasumsikan minimal Rp15.000 per kg.
Hasil analisis menunjukkan total biaya produksi mencapai Rp931,57 juta dengan total produksi rata-rata 170.100 kg dan pendapatan kotor sebesar Rp2,55 miliar.
Titik Impas Produksi
Perhitungan Break Even Point (BEP) menunjukkan titik balik modal tercapai ketika produksi mencapai 62.105 kg buah. Artinya, produksi di atas angka tersebut mulai menghasilkan keuntungan.
Titik Impas Harga
BEP harga berada pada Rp5.477 per kg. Dengan kata lain, usaha masih berada pada titik impas selama harga jual tidak turun di bawah angka tersebut.
Rasio Pendapatan terhadap Biaya
Nilai R/C ratio mencapai 2,74. Artinya, setiap pengeluaran Rp1,00 mampu menghasilkan pendapatan sebesar Rp2,74. Nilai R/C ratio yang lebih besar dari satu menandakan usaha budi daya alpukat layak dan menguntungkan untuk dijalankan.
Meski demikian, produktivitas tanaman dapat berbeda di setiap lokasi bergantung pada kualitas lahan, iklim, serta teknik budi daya yang diterapkan pekebun.
