Sukun, Pangan Masa Depan dengan Potensi Ekonomi Tinggi

Rekomendasi

Sukun (Artocarpus altilis) mulai mendapat perhatian sebagai salah satu sumber pangan alternatif yang berpotensi dikembangkan di Indonesia. Selain kaya nutrisi, tanaman ini dinilai mampu mendukung diversifikasi pangan sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat.

Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera (YSNS) menjadi salah satu pihak yang aktif mendorong pengembangan tanaman sukun melalui berbagai sosialisasi kepada masyarakat dan kementerian. Ketua Bidang Kerjasama dan Pengembangan Bisnis YSNS, Joediantoro, menyebut sukun memiliki banyak keunggulan karena dapat tumbuh di berbagai jenis lahan.

Menurut Joediantoro, tanaman sukun relatif mudah dibudidayakan karena tidak membutuhkan pupuk dan pestisida selama masa tanam. Tanaman ini juga memiliki kemampuan menyimpan karbon sehingga berpotensi memberikan manfaat bagi lingkungan.

Selain itu, kandungan karbohidrat sukun dinilai setara dengan beras dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Potensi tersebut membuat sukun dipandang sebagai salah satu komoditas yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional.

Pengembangan sukun juga mendapat perhatian dari Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi. Ia menyambut baik gagasan pengembangan sukun di kawasan transmigrasi karena tanaman tersebut dinilai mendukung program diversifikasi pangan.

“Dengan kehadiran Bapak-Ibu mengingatkan kembali program itu dan perlu dikaji kembali untuk kemungkinan bisa kita kembangkan sukun di kawasan transmigrasi,” ujar Viva Yoga.

Pengembangan sukun sebenarnya pernah dilakukan melalui program sukunisasi pada 1993—1998 saat era Menteri Siswono Yudo Husodo. Saat itu, Departemen Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan melakukan uji coba penanaman pohon sukun di pekarangan rumah kawasan transmigrasi pada 1995.

Viva Yoga menilai penanaman kembali sukun perlu didorong karena tanaman tersebut memiliki peran penting dalam penyediaan pangan alternatif. “Saya setuju untuk kembali menanam sukun sebab kehadiran tanaman ini mendukung diversifikasi pangan. Sukun merupakan tanaman pangan masa depan,” ujarnya.

Dari sisi kandungan gizi, sukun memiliki potensi besar sebagai pangan sehat. Penelitian Santi Noviasari dan rekan dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, menyebutkan sukun mengandung 68% pati, 4% protein, dan 1% lemak berdasarkan basis kering, serta mengandung fosfor.

Sukun juga kaya akan karotenoid, omega 3 dan 6, serat, vitamin C, serta antioksidan. Kandungan tersebut membuat sukun rendah lemak, bebas kolesterol, dan berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional.

Selain itu, sukun memiliki indeks glikemik rendah sekitar 23–60 sehingga lebih baik dibandingkan beras. Komoditas ini juga tidak mengandung gluten dan memiliki tekstur lembut dengan rasa menyerupai roti sehingga dikenal dengan sebutan breadfruit.

Kandungan nutrisi dalam sukun membuatnya berpotensi membantu menjaga kesehatan, seperti menurunkan risiko penyakit jantung, membantu mengontrol gula darah, serta mendukung pencegahan berbagai penyakit. Tidak heran jika sukun mulai dilirik sebagai salah satu superfood lokal.

Pengembangan sukun tidak hanya berorientasi pada penyediaan pangan, tetapi juga membuka peluang usaha baru. Berbagai produk olahan dapat dihasilkan dari sukun, mulai dari tepung, camilan, beras analog, makanan bayi dan balita, mi instan, hingga bahan pakan ternak.

Artikel Terbaru

Potensi Sukun Jadi Pangan Lokal, Bisa Diolah Menjadi Tepung hingga Tapai

Sukun berpotensi menjadi salah satu sumber pangan lokal untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia. Selain kaya karbohidrat, buah ini dapat...

More Articles Like This