Tuesday, June 9, 2026

Penggemukan Sapi dan Domba, Bisnis Ternak yang Menjanjikan

Rekomendasi

Trubus.id-Usaha penggemukan ternak menjadi salah satu sektor agribisnis yang terus menunjukkan prospek cerah. Tingginya kebutuhan daging sapi dan domba membuat banyak peternak mampu meraih keuntungan besar, terutama saat momen tertentu seperti Iduladha, akikah, dan musim liburan.

Salah satu pelaku usaha yang menikmati manisnya bisnis penggemukan sapi ialah Muhammad Faqih Ibrahim. Pemuda asal Desa Suci, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu memelihara 10 ekor sapi di kandang milik sendiri dan 65 ekor lainnya di kandang para peternak mitra.

Dari populasi tersebut, Faqih mampu menjual rata-rata tiga ekor sapi setiap bulan pada musim reguler. Sapi-sapi itu dipasarkan kepada para jagal dengan harga mulai Rp18 juta per ekor. Ketika musim kurban tiba, penjualannya melonjak tajam hingga mencapai 100 ekor sapi.

Untuk mendukung usahanya, Faqih memiliki kandang seluas sekitar 1.000 meter persegi yang mampu menampung hingga 120 ekor sapi. Kandang itu digunakan sebagai tempat penyimpanan stok menjelang musim kurban.

Menurut Faqih, jenis sapi yang paling banyak diminati pasar antara lain Limousin, Simmental, Peranakan Ongole, dan pegon atau sapi hasil persilangan lokal. Ia membeli sapi bakalan dari peternak kemudian menggemukkannya sebelum dijual kembali.

Biasanya sapi bakalan yang dibeli memiliki bobot awal 280–330 kilogram. Masa pemeliharaan berlangsung selama tiga hingga tujuh bulan, tergantung kebutuhan pasar dan target bobot yang ingin dicapai.

Pada fase awal penggemukan, Faqih menargetkan pertambahan bobot badan harian sebesar 0,8–1,2 kilogram. Memasuki dua bulan terakhir, ia meningkatkan performa pertumbuhan menggunakan pakan booster sehingga pertambahan bobot dapat mencapai 1,2–1,7 kilogram per hari.

Pakan yang diberikan berupa hijauan sebanyak 10% dari bobot tubuh dan konsentrat sekitar 5–8% dari bobot tubuh. Ransum tersebut dicampur dengan ampas tahu yang tersedia melimpah karena keluarganya juga menjalankan usaha produksi tempe dan tahu.

Setelah mencapai bobot sekitar 600 kilogram, sapi dijual dengan harga Rp70.000–Rp80.000 per kilogram bobot hidup. Menurut Faqih, margin usaha penggemukan sapi masih sangat menarik karena permintaan pasar terus terjaga.

Tidak hanya peternak sapi yang menikmati keuntungan dari usaha penggemukan. Peternak domba juga merasakan hal serupa. Mohammad Huda Khairon, peternak asal Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, mampu menjual 300–500 ekor domba setiap bulan.

Pada musim liburan dan meningkatnya permintaan untuk akikah, penjualan domba miliknya dapat mencapai 800–1.200 ekor per bulan. Menjelang Iduladha, angka itu bahkan melonjak hingga sekitar 4.000 ekor.

Huda memasarkan domba dengan harga Rp60.000–Rp62.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga domba pedaging nasional yang berkisar Rp55.000–Rp60.000 per kilogram. Menurutnya, bisnis penggemukan domba masih sangat menguntungkan karena kebutuhan pasar yang terus meningkat.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, Huda mengandalkan pasokan dari kandang sendiri dan peternak mitra. Para mitra menjalankan program penggemukan selama empat hingga enam bulan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

Dalam usaha penggemukan domba, salah satu indikator penting yang digunakan adalah body condition score (BCS) atau skor kondisi tubuh ternak. Nilai BCS berkisar antara 1 hingga 5, mulai dari sangat kurus hingga sangat gemuk. Skor ini menjadi salah satu penentu utama persentase karkas yang dihasilkan.

Menurut Huda, domba dengan BCS 3–4 sudah layak dipasarkan. Domba berbobot 20–25 kilogram dengan BCS 3 umumnya menghasilkan karkas sekitar 50%. Jika bobotnya mencapai lebih dari 30 kilogram, persentase karkas dapat meningkat hingga 55%.

Selain bobot badan dan nilai BCS, kualitas karkas juga dipengaruhi oleh jenis pakan yang diberikan. Huda menilai penggunaan pakan kering mampu menghasilkan karkas lebih tinggi dibandingkan pemberian rumput segar.

Domba berbobot 30 kilogram dengan BCS 3 yang diberi pakan kering dapat menghasilkan karkas 15–16 kilogram. Sementara itu, domba dengan bobot dan BCS yang sama tetapi mengonsumsi rumput umumnya hanya menghasilkan karkas sekitar 12–13 kilogram.

Menurut Huda, perbedaan tersebut terjadi karena domba yang banyak mengonsumsi hijauan memiliki isi saluran pencernaan lebih banyak. Selain menghasilkan karkas lebih tinggi, domba yang diberi pakan kering juga cenderung memiliki tekstur daging lebih empuk sehingga lebih disukai penjagal maupun konsumen.

Prospek usaha penggemukan sapi dan domba yang terus menjanjikan menunjukkan bahwa sektor peternakan masih menjadi ladang bisnis yang menarik. Dengan manajemen pakan yang tepat, kemitraan yang baik, serta pemahaman terhadap kebutuhan pasar, peternak berpeluang memperoleh keuntungan besar sepanjang tahun, terutama saat permintaan meningkat menjelang hari-hari besar keagamaan.


Artikel Terbaru

Gula Cair Kian Diminati, Peluang Usaha dari Aren hingga Singkong

Kopi gula aren kini menjadi salah satu minuman favorit kalangan muda. Perpaduan rasa manis khas gula aren dan aroma...

More Articles Like This